Nana Mirdad Soroti Karhutla di Kalimantan, Singgung Kebutuhan Masker hingga Bantuan untuk Warga

Ket. Nana Mirdad

Doc: Instagram/@nanamirdad_

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Nana Mirdad kembali menyuarakan kepeduliannya terhadap kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan.

Melalui unggahannya, Nana tidak hanya menyoroti persoalan asap dan kebakaran, tetapi juga mempertanyakan langkah perlindungan yang diberikan kepada masyarakat terdampak.

“Kalimantan, Adakah pembagian masker N95/KN95 dalam skala besar?” tulis Nana, seperti dikutip dari unggahan di laman Threadsnya, Kamis (20/08).

Pertanyaan tersebut menjadi sorotan karena kabut asap karhutla dapat membawa partikel halus yang berisiko terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

Kondisi di Kalimantan Tengah sendiri menunjukkan dampak kesehatan yang mulai serius. Dinas Kesehatan setempat mencatat 2.052 kasus ISPA pada periode 7–11 Agustus 2026 di 14 kabupaten/kota, termasuk sembilan pasien yang harus menjalani rawat inap.

Soroti Aspek Kesehatan dan Ekonimi Masyarakat

20260820093804_Screenshot_34.jpg

(Nana Mirdad soroti kesehatan masyarakat sekitar, dok: Threads/@nanamirdad_)

Nana kemudian mengusulkan adanya rumah singgah yang dilengkapi HEPA filter di setiap kecamatan. Fasilitas tersebut, menurutnya, dapat diprioritaskan untuk bayi, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Ia juga mempertanyakan ketersediaan data kualitas udara secara real time. Menurut Nana, masyarakat memiliki hak untuk mengetahui seberapa berbahaya udara yang sedang mereka hirup sehingga dapat menentukan langkah perlindungan yang tepat.

Selain aspek kesehatan, Nana menyoroti dampak ekonomi akibat karhutla. Ia mempertanyakan kemungkinan adanya bantuan pendapatan bagi kelompok pekerja yang penghasilannya ikut terdampak, seperti petani, pengemudi ojek, hingga buruh bangunan.

Sorotan tersebut menjadi relevan karena persoalan karhutla tidak berhenti pada api dan asap. Aktivitas ekonomi masyarakat juga dapat terganggu ketika kualitas udara memburuk dan warga harus membatasi kegiatan di luar ruangan.

Di sejumlah wilayah Kalimantan, dampak kesehatan pun mulai terlihat. Di Palangka Raya, misalnya, tercatat 257 kasus ISPA selama 1–18 Agustus 2026, meningkat dibandingkan 192 kasus pada Juli. 

Di tengah kondisi tersebut, Nana juga mengungkapkan kesedihannya melihat kemeriahan perayaan Hari Kemerdekaan yang berlangsung bersamaan dengan penderitaan sebagian masyarakat.

“Sedih melihat pesta besar2an 17an tapi banyak yg masih berduka,” tulisnya.

Pesan Nana pada akhirnya tidak sekadar mempertanyakan penanganan asap, tetapi mengingatkan bahwa perayaan kemerdekaan seharusnya berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap warga yang sedang menghadapi kesulitan.

Di tengah karhutla yang masih meluas, perhatian terhadap kesehatan, keselamatan, dan keberlangsungan hidup masyarakat menjadi hal yang tidak kalah penting.*

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN