10 Negara dengan Obesitas Terendah di Dunia, Indonesia Nomor Berapa?

Ket. Potret wanita sedang menimbang berat badan.

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Obesitas kini menjadi salah satu persoalan kesehatan yang terus mendapat perhatian di berbagai negara. Jumlah orang dengan berat badan berlebih meningkat secara global, seiring perubahan pola makan, gaya hidup, aktivitas fisik, hingga semakin mudahnya akses terhadap makanan tinggi kalori.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat prevalensi obesitas pada orang dewasa di dunia telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 1990. Pada 2022 saja, sekitar 2,5 miliar orang dewasa mengalami kelebihan berat badan, dengan sekitar 890 juta di antaranya hidup dengan obesitas.

Menariknya, kondisi tersebut tidak terjadi dengan tingkat yang sama di seluruh dunia. Sejumlah negara justru memiliki prevalensi obesitas yang relatif rendah, bahkan ada yang angkanya masih berada di bawah 5 persen.

Lantas, negara mana yang penduduknya memiliki tingkat obesitas paling rendah? Dan yang tidak kalah menarik, Indonesia berada di posisi berapa?

Berikut daftarnya berdasarkan data yang dilansir CEOWORLD Magazine.

1. Vietnam (1,72 Persen)

Vietnam berada di posisi teratas dengan tingkat obesitas hanya 1,72 persen. Angka ini terdiri dari 1,31 persen pada pria dan 2,14 persen pada perempuan.

Salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan rendahnya angka tersebut adalah pola makan tradisional masyarakat Vietnam. Nasi, sayuran segar, ikan, rempah, sup, dan berbagai hidangan yang tidak terlalu tinggi kalori masih banyak dikonsumsi.

Namun, rendahnya angka obesitas tidak bisa hanya dijelaskan oleh makanan. Gaya hidup, aktivitas fisik, kondisi ekonomi, dan akses terhadap pangan juga turut memengaruhinya.

2. Timor-Leste (2,45 Persen)

Negara tetangga Indonesia ini mencatat prevalensi obesitas 2,45 persen. Makanan seperti nasi, jagung, singkong, ikan, dan sayuran menjadi bagian dari pola makan masyarakat. Aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari juga masih cukup tinggi pada sebagian masyarakat.

Meski begitu, angka obesitas rendah tidak otomatis menunjukkan seluruh masyarakat berada dalam kondisi kesehatan yang ideal karena masalah kekurangan gizi dan akses pangan juga perlu diperhatikan.

3. Etiopia (3,14 Persen)

Etiopia menempati urutan ketiga dengan tingkat obesitas 3,14 persen.

Salah satu makanan khas yang populer adalah injera, roti pipih fermentasi berbahan teff yang mengandung serat dan sejumlah zat gizi. Hidangan ini biasanya disantap bersama lentil, kacang-kacangan, sayuran, dan berbagai rempah.

Di beberapa kelompok masyarakat, pola makan berbasis nabati juga masih cukup kuat. Namun, rendahnya obesitas di negara ini juga berkaitan dengan persoalan ekonomi dan ketahanan pangan yang tidak boleh diabaikan.

4. Rwanda (3,70 Persen)

Rwanda mencatat tingkat obesitas sebesar 3,70 persen. Pola makan masyarakat masih banyak mengandalkan bahan pangan seperti pisang olahan, kacang-kacangan, ubi jalar, singkong, dan sorgum.

Selain itu, aktivitas fisik masih menjadi bagian dari keseharian banyak masyarakat, terutama mereka yang bekerja di sektor pertanian dan pekerjaan fisik lainnya.

5. Kamboja (3,72 Persen)

Kamboja berada di posisi kelima dengan prevalensi obesitas 3,72 persen. Pola makan tradisionalnya banyak mengandalkan nasi, ikan, sayuran, serta rempah. Di sejumlah wilayah, aktivitas seperti berjalan kaki, bersepeda, dan pekerjaan pertanian juga masih cukup umum.

Namun, perubahan gaya hidup mulai terlihat di wilayah perkotaan. Makanan cepat saji dan produk ultra-proses semakin mudah ditemukan seiring berkembangnya kota dan perubahan pola konsumsi.

6. Madagaskar (3,76 Persen)

Madagaskar mencatat tingkat obesitas 3,76 persen. Sebagian masyarakat, terutama di pedesaan, masih bergantung pada pertanian dan pekerjaan yang membutuhkan aktivitas fisik. Makanan sehari-hari juga banyak berasal dari bahan lokal seperti nasi, singkong, sayuran, dan ikan.

Meski begitu, rendahnya obesitas di Madagaskar tidak bisa langsung dianggap sebagai tanda masyarakatnya lebih sehat. Persoalan kemiskinan dan keterbatasan akses terhadap pangan bergizi juga menjadi faktor penting.

7. Eritrea (3,85 Persen)

Di posisi ketujuh ada Eritrea dengan tingkat obesitas 3,85 persen. Masyarakatnya banyak mengonsumsi biji-bijian seperti teff, sorgum, dan millet, termasuk dalam berbagai olahan tradisional. Konsumsi makanan ultra-proses dan minuman tinggi gula juga relatif lebih terbatas dibandingkan negara dengan akses makanan modern yang lebih luas.

Namun, kondisi ketahanan pangan di Eritrea juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan ketika melihat angka obesitasnya.

8. Bangladesh (4,12 Persen)

Bangladesh berada di urutan kedelapan dengan tingkat obesitas 4,12 persen. Nasi dan lentil atau dal menjadi makanan yang umum dikonsumsi, kemudian dilengkapi ikan, sayuran, serta sumber protein lainnya.

Meski angkanya masih relatif rendah, perubahan gaya hidup mulai terjadi di wilayah perkotaan. Meningkatnya pendapatan dan berkembangnya makanan cepat saji berpotensi mengubah pola konsumsi masyarakat.

9. Republik Demokratik Kongo (4,65 Persen)

RD Kongo mencatat prevalensi obesitas sebesar 4,65 persen. Banyak masyarakat masih mengonsumsi bahan pangan lokal seperti singkong, jagung, pisang olahan, dan sayuran. Di sejumlah wilayah, akses terhadap makanan ultra-proses juga masih terbatas.

Aktivitas fisik yang tinggi serta kondisi ekonomi turut memengaruhi rendahnya prevalensi obesitas di negara tersebut.

10. Niger (4,67 Persen)

Niger menutup daftar 10 besar dengan tingkat obesitas 4,67 persen. Sebagian masyarakat masih bergantung pada pertanian dan pekerjaan fisik. Aktivitas seperti berjalan kaki juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun, sama seperti beberapa negara lain dalam daftar ini, rendahnya angka obesitas tidak bisa dilepaskan dari persoalan kemiskinan dan ketahanan pangan.

Lalu, Indonesia Ada di Posisi Berapa?

Indonesia ternyata berada di posisi ke 46 dalam daftar tersebut, dengan tingkat obesitas total mencapai 11,1 persen. Prevalensi pada pria tercatat sekitar 6,76 persen, sementara pada perempuan mencapai 15,45 persen.

Angka tersebut menunjukkan persoalan obesitas di Indonesia perlu mendapat perhatian, terutama ketika pola makan dan gaya hidup masyarakat terus berubah.

Menariknya, daftar ini juga memperlihatkan satu hal penting: negara dengan obesitas rendah belum tentu otomatis memiliki masyarakat yang lebih sehat.

Di sejumlah negara dalam daftar, rendahnya angka obesitas juga berkaitan dengan keterbatasan akses pangan, kondisi ekonomi, serta tingginya aktivitas fisik. Jadi, angka obesitas perlu dilihat bersama indikator kesehatan dan gizi lainnya.

Pada akhirnya, pola makan seimbang, aktivitas fisik yang cukup, akses terhadap pangan bergizi, serta lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat tetap menjadi bagian penting dalam mencegah obesitas.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN