6 Penyakit Kronis yang Mengintai Perempuan, Kenali Gejala dan Risikonya

Kamis, 20 Agu 2026, 19:15 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Penyakit kronis merupakan kondisi kesehatan yang berlangsung dalam jangka panjang dan pada sebagian kasus membutuhkan pemantauan serta perawatan secara berkelanjutan. Perempuan juga dapat mengalami berbagai penyakit kronis yang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga menstruasi, kesuburan, kesehatan mental, hingga aktivitas sehari-hari.

Beberapa kondisi bahkan dapat menimbulkan gejala berkepanjangan seperti nyeri, kelelahan, peradangan, dan gangguan fungsi organ. Jika gejala sudah cukup berat, kondisi tersebut dapat membuat penderitanya mengalami kesulitan untuk bekerja, belajar, bersosialisasi, maupun menjalankan rutinitas harian.

Ket. Foto: Penyakit kronis yang dapat dialami perempuan. — Sumber: alodokter

1. Endometriosis

Endometriosis menjadi salah satu penyakit kronis yang berkaitan dengan sistem reproduksi perempuan. Kondisi ini terjadi ketika jaringan yang menyerupai lapisan endometrium justru tumbuh di luar rahim dan dapat memicu peradangan serta terbentuknya jaringan parut.

Gejalanya dapat berupa nyeri menstruasi yang berat, nyeri panggul berkepanjangan, kelelahan, gangguan saat buang air, hingga masalah kesuburan. Pada kondisi tertentu, rasa nyeri dan keluhan lainnya dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk pekerjaan maupun pendidikan.

2. PMOS atau Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome

Selain endometriosis, perempuan juga perlu mengenal PMOS atau Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome. Kondisi ini merupakan gangguan hormonal dan metabolik kronis yang dapat memengaruhi siklus menstruasi, kadar hormon androgen, metabolisme tubuh, berat badan, kesehatan mental, serta kesuburan.

PMOS diperkirakan dapat dialami sekitar satu dari delapan perempuan atau lebih dari 170 juta perempuan usia produktif di seluruh dunia. Meski dapat menimbulkan berbagai keluhan, diagnosis PMOS tidak otomatis membuat seseorang dikategorikan sebagai penyandang disabilitas karena status tersebut tetap bergantung pada tingkat keparahan dan dampak fungsional yang dialami.

3. Kanker Payudara

Kanker payudara terjadi ketika sel abnormal di jaringan payudara berkembang secara tidak terkendali dan membentuk tumor. Jika tidak ditangani, sel kanker dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya dan menimbulkan kondisi yang lebih serius.

Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah munculnya benjolan pada payudara, meskipun benjolan tersebut tidak selalu menimbulkan rasa sakit. Perubahan ukuran atau bentuk payudara, perubahan pada puting atau kulit sekitar areola, serta keluarnya cairan yang tidak normal dari puting juga perlu mendapat perhatian medis.

4. Kanker Serviks

Kanker serviks merupakan kanker yang berkembang pada leher rahim dan sebagian besar kasusnya berkaitan dengan infeksi HPV berisiko tinggi. Apabila ditemukan pada tahap awal, kanker serviks memiliki peluang penanganan yang lebih baik.

Sebaliknya, kanker serviks yang telah memasuki tahap lanjut dapat membutuhkan pengobatan dan perawatan dalam jangka panjang. Penyakit maupun efek samping pengobatan juga dapat menyebabkan keterbatasan fisik tertentu dan memengaruhi kemampuan penderitanya dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

5. Lupus

Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai bagian tubuh. Peradangan akibat lupus dapat memengaruhi kulit, persendian, ginjal, jantung, paru-paru, hingga otak.

Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang sel dan jaringan yang sehat. Faktor genetik, lingkungan, dan hormonal dapat berperan dalam lupus, sementara kondisi ini diketahui lebih sering dialami perempuan dibandingkan laki-laki.

6. Rheumatoid Arthritis

Rheumatoid arthritis atau RA merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat, terutama pada persendian. Kondisi tersebut dapat memicu nyeri, pembengkakan, kekakuan, hingga kerusakan atau perubahan bentuk sendi.

RA juga dapat memengaruhi bagian tubuh lain, termasuk mata, kulit, jantung, paru-paru, jaringan saraf, dan pembuluh darah. Perempuan memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kondisi ini dibandingkan laki-laki, dengan perubahan hormonal di sekitar masa menopause menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan.

Apakah Penyakit Kronis Bisa Termasuk Disabilitas?

Penyakit kronis tidak secara otomatis membuat seseorang masuk dalam kategori penyandang disabilitas. Penentuan status tersebut perlu mempertimbangkan dampak penyakit terhadap fungsi tubuh dan aktivitas seseorang berdasarkan asesmen medis atau profesional sesuai kompetensinya.

Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 130/PUU-XXIII/2025 pada 2 Maret 2026 menyatakan bahwa penderita penyakit kronis dapat ditetapkan sebagai penyandang disabilitas melalui asesmen. Artinya, kondisi seperti endometriosis, PMOS, kanker, lupus, maupun rheumatoid arthritis perlu dilihat berdasarkan dampak fungsional dan tingkat keterbatasan yang dialami masing-masing individu.

Jika penyakit menyebabkan keterbatasan fungsi yang signifikan dan berlangsung secara berkelanjutan, hasil asesmen dapat menjadi dasar penetapan status disabilitas. Karena itu, perempuan yang mengalami gejala kronis atau keluhan yang mengganggu aktivitas sebaiknya tidak mengabaikannya dan dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi yang sesuai.

  • Kanker Payudara
  • Kesehatan Perempuan

Redaktur: Afifa Khoirunnisa

Penulis: Afifa Khoirunnisa

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.