3 Red Flag dalam Pertemanan yang Perlu Diwaspadai, Jangan Sampai Terus Menguras Emosi

Ket. 3 Red Flag dalam Pertemanan yang Perlu Diwaspadai, Jangan Sampai Terus Menguras Emosi

Doc: Freepik

JAKARTA, KUCANTIK.COM  - Persahabatan yang baik dibangun atas dasar saling menghargai, peduli, dan memberi dukungan secara seimbang. Namun, tidak semua hubungan pertemanan memberikan dampak positif.

Ada kalanya seseorang merasa selalu memberi lebih banyak daripada menerima, atau justru merasa lelah secara emosional setelah bertemu dengan teman. Ketika kamu terus mengorbankan kebutuhan diri sendiri demi menjaga hubungan, tanpa disadari kamu bisa mengabaikan kesejahteraan emosionalmu.

Sama seperti hubungan romantis, mengenali red flag dalam pertemanan penting agar kamu bisa membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai. Berikut beberapa tandanya.

1. Mereka Hanya Menghubungimu Saat Membutuhkan Sesuatu

Saling membantu merupakan hal wajar dalam persahabatan. Namun, jika seseorang hanya menghubungimu ketika membutuhkan bantuan dan hampir tidak pernah menanyakan kabarmu di luar kepentingan tersebut, hubungan ini patut dievaluasi.

Lambat laun, kamu bisa merasa lebih seperti “penolong” daripada seorang sahabat.

Menurut penelitian tahun 2019 yang dipublikasikan dalam Journal of Research on Adolescence, bantuan yang bersifat timbal balik, ketika kedua pihak sama-sama memberi dan menerima dukungan, menjadi faktor penting dalam mempertahankan persahabatan jangka panjang.

Sebaliknya, hubungan yang didominasi bantuan satu arah cenderung lebih transaksional dan kurang bertahan lama. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa seseorang bisa meminta bantuan tanpa benar-benar menganggapmu sebagai teman dekat.

Persahabatan yang sehat bukan dibangun atas bantuan sepihak, melainkan kehadiran, perhatian, dan kepedulian dari kedua belah pihak.

2. Mereka Selalu Curhat, tetapi Tidak Pernah Menanyakan Perasaanmu

Jika kamu selalu menjadi tempat curhat dan mendengarkan setiap masalah teman, tetapi mereka hampir tidak pernah bertanya bagaimana keadaanmu, bisa jadi hubungan tersebut tidak seimbang.

Awalnya mungkin terasa sebagai bentuk kedekatan. Namun, seiring waktu kamu bisa merasa lelah karena percakapan selalu berpusat pada masalah mereka.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Communication Quarterly meneliti 82 percakapan nyata antara teman, keluarga, maupun pasangan. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin besar rasa tanggung jawab pendengar terhadap emosi lawan bicara dan semakin lama mereka mendengarkan, semakin tinggi pula tekanan emosional yang dialami.

Temuan ini menunjukkan bahwa memberikan dukungan emosional memang penting, tetapi menjadi tempat pelampiasan emosi secara terus-menerus tanpa timbal balik dapat menguras kesehatan mental.

Jika kamu selalu memikul beban emosional teman, coba tanyakan pada diri sendiri apakah mereka juga memberikan ruang untuk mendengarkanmu.

Persahabatan yang sehat bukan hanya tentang hadir untuk orang lain, tetapi juga tentang merasa didengar, dipahami, dan diperhatikan.

3. Semua Percakapan Selalu Berakhir Membahas Masalah Mereka

Apakah setiap kali kamu menceritakan pengalamanmu, temanmu langsung membandingkannya dengan masalah mereka? Atau mereka selalu berusaha “mengalahkan” pengalamanmu dengan kisah sendiri?

Jika iya, kamu mungkin sedang menghadapi pola komunikasi yang membuat perhatian terus kembali kepada mereka. Tanpa disadari, hal ini dapat mengesampingkan perasaan dan kebutuhan emosionalmu.

Penelitian tahun 2022 yang dipublikasikan dalam Anxiety, Stress, and Coping meneliti dampak emotional invalidation, yaitu ketika seseorang merasa emosi atau pengalamannya diremehkan maupun diabaikan oleh lingkungan sosial.

Hasil penelitian menemukan bahwa individu yang lebih sering mengalami invalidasi emosional cenderung mengalami emosi negatif dan stres yang lebih tinggi. Kondisi tersebut juga dapat mengurangi munculnya emosi positif.

Temuan ini memperlihatkan bahwa merasa terus-menerus diabaikan dalam hubungan dekat dapat mengikis kesejahteraan emosional secara perlahan.

Ketika seorang teman selalu mengembalikan fokus percakapan kepada dirinya sendiri, kamu berisiko mengalami kelelahan emosional dan merasa tidak benar-benar didengarkan.

Apakah kamu pernah mengalami salah satu red flag di atas dalam pertemanan?

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN