Kenapa Orang NPD Sering Merasa Jadi Korban? Pola Pikirnya Bikin Kaget

Selasa, 18 Agu 2026, 17:15 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Pernah berhadapan dengan seseorang yang selalu merasa dirinya paling tersakiti dalam sebuah konflik? Bahkan ketika orang lain merasa dirugikan, ia justru mampu membalik keadaan hingga dirinya terlihat sebagai korban?

Pola seperti ini sering dikaitkan dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik. Di media sosial, istilah “narsistik” bahkan kerap digunakan untuk menggambarkan orang yang suka menyalahkan orang lain, sulit meminta maaf, atau selalu memosisikan diri sebagai pihak yang paling menderita.

Namun, ada hal penting yang perlu dipahami, tidak semua orang yang egois, manipulatif, atau sering merasa menjadi korban memiliki NPD. NPD merupakan kondisi kesehatan mental yang membutuhkan penilaian profesional, bukan sekadar kesimpulan berdasarkan perilaku seseorang dalam satu atau dua konflik.

Lantas, mengapa orang dengan NPD dapat begitu sering melihat dirinya sebagai korban?

1. Kritik Bisa Terasa Seperti Serangan

Salah satu karakteristik NPD adalah kebutuhan yang kuat untuk mempertahankan citra diri tertentu. Ketika seseorang mengkritik perilaku mereka, kritik tersebut bisa terasa jauh lebih mengancam dibandingkan bagi orang lain.

Kesalahan kecil dapat dianggap sebagai serangan terhadap harga diri. Akibatnya, alih-alih membahas kesalahan atau mencari solusi, respons yang muncul bisa berupa kemarahan, penolakan, atau menyalahkan pihak lain.

Dalam kondisi tersebut, posisi “korban” dapat menjadi cara untuk melindungi diri dari perasaan malu atau kegagalan.

2. Sulit Menghadapi Rasa Malu

Ket. Foto: Ilustrasi orang NPD. — Sumber: Istimewa

Di balik perilaku yang terlihat sangat percaya diri, seseorang dengan NPD dapat memiliki sensitivitas tinggi terhadap penolakan, kritik, atau kegagalan.

Ketika menghadapi situasi yang membuat mereka merasa malu atau tidak cukup baik, mekanisme pertahanan psikologis dapat muncul.

Salah satunya adalah mengalihkan kesalahan kepada orang lain.

Daripada menghadapi pikiran, “Saya melakukan kesalahan,” seseorang mungkin lebih mudah mempertahankan keyakinan, “Saya diperlakukan tidak adil.”

Inilah salah satu alasan mengapa konflik dengan orang yang memiliki pola narsistik dapat terasa membingungkan. Pembicaraan mengenai masalah awal bisa berubah menjadi pembahasan mengenai betapa buruknya perlakuan yang mereka terima.

3. Perspektif Diri Bisa Menguasai Konflik

NPD juga berkaitan dengan kesulitan tertentu dalam memahami atau mempertimbangkan kebutuhan dan perasaan orang lain.

Bukan berarti orang dengan NPD sama sekali tidak memiliki emosi atau tidak pernah merasakan empati. Namun, dalam situasi tertentu, perhatian mereka dapat sangat terfokus pada pengalaman dan kebutuhan dirinya sendiri.

Akibatnya, ketika terjadi konflik, mereka mungkin lebih mudah mengingat bagaimana dirinya terluka dibandingkan bagaimana perilakunya memengaruhi orang lain.

Konflik pun akhirnya terlihat seperti cerita satu arah: mereka adalah pihak yang disakiti, sedangkan orang lain adalah penyebab masalah.

4. Menyalahkan Orang Lain Bisa Menjadi Mekanisme Pertahanan

Ketika seseorang sangat sulit menerima dirinya melakukan kesalahan, menyalahkan pihak lain dapat menjadi mekanisme pertahanan.

Hal ini tidak selalu dilakukan secara sadar.

Misalnya, seseorang melakukan sesuatu yang menyakiti pasangannya. Ketika ditegur, ia justru mengatakan dirinya melakukan hal tersebut karena pasangannya “memancing” atau “membuatnya terpaksa”.

Perhatian kemudian bergeser dari tindakan yang dilakukan menuju kesalahan orang lain.

Pola tersebut dapat membuat orang di sekitarnya mempertanyakan dirinya sendiri dan akhirnya merasa bersalah meskipun awalnya merekalah yang terluka.

5. Bukan Berarti Semua Playing Victim adalah NPD

Ini bagian yang sangat penting.

Seseorang yang sering merasa menjadi korban belum tentu mengalami NPD. Perilaku defensif, menyalahkan orang lain, atau sulit mengakui kesalahan dapat muncul karena berbagai faktor psikologis dan situasional.

Begitu pula dengan orang yang mengalami NPD. Tidak semua orang dengan kondisi tersebut akan menunjukkan perilaku yang sama dalam setiap situasi.

Diagnosis NPD harus dilakukan oleh profesional kesehatan mental berdasarkan pola perilaku dan pengalaman yang berlangsung secara menetap serta memenuhi kriteria diagnostik tertentu.

Karena itu, memberi label NPD kepada pasangan, teman, anggota keluarga, atau mantan hanya karena mereka sering playing victim justru dapat menyesatkan.

Lalu, Bagaimana Menghadapi Orang yang Selalu Merasa Jadi Korban?

Jika seseorang terus-menerus mengubah konflik menjadi cerita dirinya korban, jangan terjebak dalam perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling menderita.

Lebih baik fokus pada perilaku konkret.

Alih-alih mengatakan, “Kamu memang narsistik,” cobalah membahas tindakan spesifik seperti, “Ketika kamu mengatakan hal tersebut, saya merasa terluka dan saya tidak menerima perlakuan itu.”

Tetapkan batas yang jelas dan hindari perdebatan tanpa akhir untuk mendapatkan pengakuan kamu benar. Dalam beberapa hubungan, seseorang mungkin tidak pernah memberikan validasi atau permintaan maaf yang diharapkan.

Jika hubungan tersebut membuat seseorang terus-menerus merasa tertekan, takut, kehilangan kepercayaan diri, atau kesulitan membedakan fakta dan tuduhan, mencari dukungan dari psikolog atau profesional kesehatan mental dapat membantu.

Pada akhirnya, merasa menjadi korban tidak selalu berarti seseorang sedang berbohong. Orang dengan NPD pun dapat benar-benar merasa terluka. Yang menjadi persoalan adalah ketika perasaan tersebut terus digunakan untuk menghindari tanggung jawab, membalikkan kesalahan, atau mengabaikan dampak perilakunya terhadap orang lain.

Memahami pola ini bukan berarti harus membenci atau mendiagnosis seseorang. Justru pemahaman yang tepat membantu kita melihat di balik perilaku yang membingungkan bisa terdapat mekanisme pertahanan yang kompleks, sementara batasan yang sehat tetap penting untuk melindungi diri.

  • NPD
  • playing victim

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.