800 Tas Chanel Seharga Rp19 Miliar Dimusnahkan, Berani Pungut?
Selasa, 18 Agu 2026, 14:45 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Membayangkan ratusan tas Chanel bernilai miliaran rupiah dihancurkan tentu terdengar sulit dipercaya. Barang yang bagi banyak orang merupakan simbol kemewahan dan investasi justru tidak dijual, tidak dilelang, bahkan tidak diberikan diskon. Produk-produk tersebut malah masuk daftar barang yang harus dimusnahkan.
Fakta mengejutkan ini mencuat dari persidangan kasus pencurian di Hong Kong. Sekitar 814 produk Chanel menjadi sasaran empat mantan pekerja gudang pada periode 2016-2017. Dari jumlah tersebut, aksi pencurian terbesar melibatkan 601 tas dan 123 dompet yang memang sudah berada dalam proses untuk dihancurkan.
Jika dihitung berdasarkan nilai keseluruhan barang, produk yang menjadi bagian dari kasus tersebut ditaksir mencapai sekitar Rp19 miliar. Pertanyaannya, mengapa rumah mode sekelas Chanel memilih menghancurkan produk yang secara kasatmata masih memiliki nilai jual tinggi?
Bukan Barang Rusak, Tetapi Koleksi Lama
Satu hal yang menarik adalah barang-barang tersebut ternyata bukan produk yang rusak atau tidak layak digunakan. Berdasarkan keterangan dalam persidangan, produk tersebut merupakan barang lama yang sudah tidak lagi dipasarkan.
Dikutip dari The Standard, jaksa menjelaskan bahwa pada masa itu Chanel Hong Kong memiliki prosedur tertentu untuk menangani produk lama. Sebelum dihancurkan, barang harus melalui pemeriksaan dan verifikasi terlebih dahulu. Setelah dinyatakan masuk kategori yang harus dimusnahkan, produk dipindahkan ke area khusus untuk kemudian dicacah.
Jumlahnya pun bukan sedikit. Dalam persidangan disebutkan bahwa Chanel Hong Kong pada periode tersebut dapat memusnahkan sekitar 10.000 hingga 20.000 produk lama setiap enam bulan.
Angka ini tentu membuat publik bertanya-tanya. Mengapa tidak menjual produk tersebut dengan harga lebih murah? Bukankah diskon masih bisa menghasilkan pemasukan dibandingkan menghancurkannya begitu saja?
Bukan Sekadar Soal Stok dan Uang
Jawabannya berkaitan erat dengan cara industri luxury menjaga eksklusivitas merek.
Bagi rumah mode mewah, produk lama bukan hanya persoalan barang yang memenuhi gudang. Cara sebuah produk beredar di pasar juga dapat memengaruhi citra, eksklusivitas, dan kontrol merek.
Jika koleksi lama dijual melalui diskon besar-besaran, produk tersebut berpotensi masuk ke pasar sekunder dengan harga yang jauh lebih rendah. Barang juga bisa berpindah ke berbagai jalur distribusi yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali brand.
Kondisi tersebut berisiko membuat produk mewah kehilangan kesan eksklusif. Karena itu, pemusnahan stok lama pernah menjadi salah satu strategi yang digunakan sejumlah perusahaan luxury untuk memastikan barang yang tidak lagi mereka kehendaki di pasar tidak beredar secara bebas.
Namun, strategi tersebut belakangan menghadapi kritik yang semakin besar. Alasannya sederhana: limbah fashion memiliki dampak lingkungan yang tidak kecil.
Chanel Kini Mulai Mengubah Cara
Menariknya, Chanel kini mengembangkan pendekatan berbeda terhadap produk maupun material yang tidak lagi digunakan.
Salah satunya melalui L'Atelier des Matières, perusahaan yang didirikan atas inisiatif Chanel pada 2019. Fasilitas ini berfokus memberikan kehidupan baru kepada material dan produk fashion yang tidak terpakai.
Produk yang tidak terjual maupun material yang sudah tidak digunakan dapat dipilah dan dibongkar untuk kemudian diproses kembali. Material seperti kulit dari produk fashion, misalnya, dapat dipisahkan dan dimanfaatkan untuk menghasilkan material baru.
Dengan pendekatan tersebut, barang yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat memiliki kesempatan untuk kembali digunakan dalam bentuk berbeda.
Pada Juli 2026, Chanel juga menyatakan bahwa produk di seluruh dunia yang tidak dapat dikomersialkan, termasuk deadstock, barang tidak terjual, hingga produk cacat, kini dikelola melalui L'Atelier des Matières.
Langkah tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam industri fashion mewah. Jika dahulu pemusnahan stok dapat menjadi pilihan untuk menjaga kontrol terhadap produk, kini tuntutan keberlanjutan membuat brand harus mencari solusi yang lebih ramah lingkungan.
Aturan Uni Eropa Ikut Mengubah Industri Fashion
Perubahan tersebut juga terjadi bersamaan dengan regulasi baru di Uni Eropa.
Mulai 19 Juli 2026, perusahaan besar dilarang memusnahkan pakaian, aksesori fashion, dan sepatu yang tidak terjual, meskipun terdapat sejumlah pengecualian. Kebijakan ini mendorong perusahaan untuk mencari alternatif lain dalam menangani stok, seperti penggunaan kembali, donasi, maupun daur ulang.
Dengan demikian, kisah ratusan tas Chanel senilai Rp19 miliar yang dihancurkan bukan hanya soal barang mewah yang berakhir menjadi limbah. Kasus tersebut juga memperlihatkan bagaimana industri luxury sedang berada di persimpangan antara mempertahankan eksklusivitas, mengendalikan distribusi, dan memenuhi tuntutan keberlanjutan.
Apa yang dahulu dianggap sebagai cara untuk menjaga nilai sebuah merek kini mulai dipertanyakan. Tas mahal yang dihancurkan mungkin terlihat seperti pemborosan, tetapi di baliknya terdapat strategi bisnis yang kompleks, dan kini strategi tersebut perlahan harus beradaptasi dengan tuntutan lingkungan serta aturan baru.
- Chanel
- Fashion Luxury
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.