Sering Terbangun Saat Tidur Bisa Jadi Tanda Awal Risiko Alzheimer

Ket. Gangguan kecil selama tidur ternyata dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi kesehatan otak seseorang.

Doc: Unsplash

JAKARTA, KUCANTIK.COM – Gangguan kecil selama tidur ternyata dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi kesehatan otak seseorang. Penelitian terbaru dari Universitas Liège di Belgia menemukan bahwa seseorang yang lebih sering mengalami terbangun singkat saat tidur mungkin memiliki risiko genetik lebih tinggi terhadap penyakit Alzheimer.

Temuan tersebut menarik perhatian karena pola itu ditemukan pada orang-orang yang masih sehat dan belum mengalami gangguan daya ingat maupun kemampuan berpikir. Artinya, perubahan tertentu dalam pola tidur berpotensi muncul jauh sebelum gejala Alzheimer yang lebih jelas terlihat.

Alzheimer Dapat Berkembang Bertahun-tahun Sebelum Gejala

Penyakit Alzheimer merupakan salah satu penyebab demensia yang paling umum. Kondisi ini secara perlahan merusak sel-sel otak dan dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengingat, berpikir, berbahasa, mengambil keputusan, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari.

Perubahan biologis yang berkaitan dengan Alzheimer sendiri dapat dimulai bertahun-tahun sebelum seseorang mendapatkan diagnosis. Karena itu, para ilmuwan terus mencari tanda-tanda awal yang dapat membantu mengenali orang dengan risiko lebih tinggi ketika mereka masih berada dalam kondisi sehat.

Tidur menjadi salah satu aspek yang banyak diteliti dalam upaya tersebut. Gangguan tidur memang sering ditemukan pada penderita Alzheimer, tetapi para peneliti masih berusaha memahami apakah perubahan pola tidur sebenarnya sudah muncul jauh sebelum gangguan kognitif terjadi.

Terbangun Singkat Saat Tidur Jadi Perhatian

Penelitian terbaru ini secara khusus mengamati micro-awakening, yakni periode ketika aktivitas otak mengalami gangguan singkat selama tidur. Seseorang tidak selalu benar-benar sadar ketika hal tersebut terjadi dan bahkan mungkin sama sekali tidak mengingatnya pada pagi hari.

Para peneliti menganalisis pola tidur lebih dari 500 orang dewasa sehat menggunakan rekaman aktivitas otak selama tidur. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan tingkat risiko genetik Alzheimer yang dimiliki masing-masing peserta.

Risiko genetik dalam penelitian dihitung berdasarkan berbagai perbedaan kecil dalam DNA seseorang. Skor tersebut tidak dapat memastikan seseorang akan terkena Alzheimer, tetapi dapat menunjukkan apakah seseorang memiliki kecenderungan bawaan yang lebih tinggi atau lebih rendah terhadap penyakit tersebut.

Ditemukan pada Kelompok Usia Paruh Baya

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara frekuensi terbangun singkat saat tidur dan risiko genetik Alzheimer yang lebih tinggi pada kelompok orang dewasa paruh baya akhir. Peserta dalam kelompok tersebut rata-rata berusia sekitar 59 tahun.

Namun, pola serupa tidak terlihat secara jelas pada peserta yang berusia lebih muda. Temuan ini menjadi menarik karena para peserta penelitian berada dalam kondisi sehat dan belum menunjukkan masalah memori atau kemampuan berpikir yang biasanya berkaitan dengan Alzheimer.

Kondisi tersebut membuka kemungkinan bahwa perubahan pola tidur tertentu dapat menjadi salah satu tanda yang muncul sebelum gejala Alzheimer berkembang. Meski begitu, temuan tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui seberapa kuat hubungannya dengan perkembangan penyakit sebenarnya.

Lokus Coeruleus Diduga Memiliki Peran

Peneliti juga memberikan perhatian khusus pada bagian kecil di batang otak yang disebut lokus coeruleus. Area yang ukurannya kira-kira sebesar butiran beras tersebut berperan dalam mengatur kewaspadaan, perhatian, serta proses peralihan antara kondisi tidur dan terjaga.

Lokus coeruleus juga diduga memiliki kaitan dengan perkembangan Alzheimer. Perubahan abnormal yang melibatkan protein tau diketahui dapat muncul di wilayah tersebut sejak tahap awal, bahkan sebelum kerusakan meluas ke bagian otak lainnya.

Karena berperan dalam mengatur tidur dan kewaspadaan, perubahan pada lokus coeruleus mungkin turut memengaruhi pola seseorang ketika melewati berbagai tahap tidur. Mekanisme tersebut menjadi salah satu kemungkinan yang dapat menjelaskan hubungan antara micro-awakening dan risiko Alzheimer.

Tidur dan Kesehatan Otak

Tidur yang berkualitas memiliki peran penting bagi kesehatan otak. Selain mendukung proses pembentukan dan penyimpanan memori, tidur juga berkaitan dengan berbagai mekanisme pemulihan serta pembuangan produk limbah dari otak.

Namun, para peneliti menegaskan bahwa sering terbangun saat tidur tidak dapat dianggap sebagai penyebab penyakit Alzheimer. Penelitian tersebut hanya menemukan hubungan antara pola tidur tertentu dan risiko genetik, bukan bukti bahwa micro-awakening secara langsung menyebabkan demensia.

Gangguan tidur juga dapat dipicu oleh banyak faktor lain yang tidak berkaitan langsung dengan Alzheimer. Stres, kebisingan, rasa sakit, sleep apnea, penggunaan obat tertentu, konsumsi alkohol, serta perubahan alami akibat proses penuaan dapat membuat seseorang lebih sering terbangun pada malam hari.

Belum Bisa Menjadi Tes Alzheimer

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep tersebut memberikan gambaran mengenai kemungkinan penggunaan pola tidur sebagai salah satu indikator kesehatan otak. Peneliti senior Gilles Vandewalle dan timnya melihat bahwa pengukuran tidur suatu hari nanti berpotensi membantu mengidentifikasi orang yang memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap Alzheimer.

Keunggulan penelitian ini terletak pada penggunaan rekaman aktivitas otak selama tidur pada peserta yang masih sehat serta penggabungannya dengan informasi mengenai risiko genetik. Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti mengamati kemungkinan perubahan sebelum gangguan kognitif muncul.

Meski demikian, hasil penelitian belum dapat digunakan sebagai tes untuk menentukan apakah seseorang akan mengalami Alzheimer. Penelitian ini menemukan hubungan, bukan hubungan sebab-akibat, dan temuan terutama terlihat pada kelompok dewasa paruh baya akhir.

Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menguji apakah micro-awakening benar-benar dapat memprediksi perkembangan Alzheimer. Jika hubungan tersebut nantinya terkonfirmasi melalui penelitian jangka panjang dan kelompok peserta yang lebih luas, pola tidur sehari-hari berpotensi menjadi salah satu sumber informasi tambahan untuk memantau kesehatan otak sejak dini.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN