5 Jenis Gangguan Menstruasi yang Perlu Diwaspadai dan Penyebabnya

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM -  Menstruasi merupakan proses alami yang dialami perempuan sebagai bagian dari sistem reproduksi.

Setiap orang dapat memiliki pola menstruasi yang berbeda, baik dari segi lama perdarahan maupun jarak antarsiklus. Namun, perubahan yang terjadi secara terus-menerus atau disertai keluhan tertentu dapat menjadi tanda adanya gangguan menstruasi.

Gangguan menstruasi dapat berkaitan dengan perubahan hormon, kondisi organ reproduksi, stres, perubahan berat badan, aktivitas fisik yang berlebihan, hingga penyakit tertentu. Karena itu, perubahan pada siklus menstruasi sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai hal biasa.

1. Tidak Mengalami Menstruasi

Salah satu gangguan menstruasi adalah amenorea, yaitu kondisi ketika menstruasi tidak terjadi.

Amenorea dapat dibedakan menjadi primer dan sekunder. Amenorea primer berkaitan dengan kondisi ketika seorang remaja belum mengalami menstruasi pada usia tertentu. Sementara itu, amenorea sekunder terjadi ketika seseorang yang sebelumnya memiliki siklus menstruasi kemudian tidak mengalami haid selama beberapa bulan.

Berhentinya menstruasi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Stres berat, perubahan berat badan yang drastis, olahraga berlebihan, penggunaan obat tertentu, kehamilan, menyusui, dan kontrasepsi hormonal merupakan beberapa kondisi yang dapat memengaruhi siklus menstruasi.

Dalam kasus tertentu, tidak menstruasi juga dapat berkaitan dengan gangguan pada organ reproduksi maupun kondisi medis lainnya.

2. Darah Menstruasi Terlalu Banyak

Perdarahan menstruasi yang sangat banyak atau berlangsung lebih lama dari biasanya juga perlu diperhatikan. Kondisi ini dikenal sebagai menoragia.

Salah satu tandanya adalah kebutuhan mengganti pembalut yang jauh lebih sering dibandingkan biasanya atau menstruasi berlangsung dalam waktu yang lebih panjang. Gumpalan darah berukuran besar juga dapat menyertai perdarahan yang berlebihan.

Penyebabnya beragam, mulai dari gangguan hormonal hingga masalah pada rahim seperti miom, adenomiosis, atau polip. Gangguan pembekuan darah dan penggunaan obat tertentu juga dapat berperan.

Perdarahan yang berlangsung banyak dan dalam waktu lama dapat menyebabkan tubuh kehilangan darah secara berlebihan sehingga meningkatkan risiko anemia.

3. Nyeri Haid yang Berlebihan

Kram atau rasa sakit ketika menstruasi memang cukup umum dialami. Namun, nyeri yang sangat berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari perlu mendapat perhatian.

Dismenore biasanya ditandai dengan rasa sakit pada bagian bawah perut. Rasa nyeri dapat menjalar ke punggung bagian bawah atau paha dan pada sebagian orang disertai mual, muntah, maupun sakit kepala.

Nyeri haid dapat terbagi menjadi dismenore primer dan sekunder. Dismenore primer umumnya berkaitan dengan peningkatan prostaglandin yang memicu kontraksi rahim. Sementara itu, dismenore sekunder dapat berkaitan dengan kondisi tertentu, salah satunya endometriosis.

Jika nyeri menstruasi semakin berat, muncul setelah sebelumnya tidak pernah mengalami keluhan serupa, atau mengganggu aktivitas, pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan.

4. Menstruasi Terlalu Jarang

Menstruasi yang datang dengan jarak yang terlalu panjang dikenal sebagai oligomenorea. Kondisi ini menyebabkan seseorang mengalami menstruasi lebih jarang dibandingkan pola siklus yang umum.

Oligomenorea dapat terjadi pada remaja karena sistem pengaturan hormon antara otak dan ovarium masih berkembang. Pada usia reproduktif, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan gangguan ovulasi maupun ketidakseimbangan hormon.

Gangguan menstruasi yang berlangsung terus-menerus juga dapat berhubungan dengan masalah kesuburan karena ovulasi tidak terjadi secara teratur.

5. Keluhan Menjelang Menstruasi

Perubahan kondisi tubuh dan suasana hati sebelum menstruasi dikenal sebagai premenstrual syndrome atau PMS. Keluhannya dapat berupa perut kembung, gangguan pencernaan, perubahan suasana hati, serta berbagai perubahan fisik lainnya.

Pada sebagian perempuan, gejala tersebut dapat menjadi sangat berat sampai mengganggu aktivitas dan hubungan dengan lingkungan sekitar. Kondisi dengan gejala pramenstruasi yang berat dapat berkaitan dengan premenstrual dysphoric disorder atau PMDD.

Perubahan hormon selama siklus menstruasi diduga berperan dalam munculnya berbagai keluhan tersebut.

Kapan Gangguan Menstruasi Perlu Diperiksa

Tidak semua perubahan menstruasi menunjukkan penyakit. Namun, gangguan yang berlangsung berulang, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sebaiknya tidak diabaikan.

Pemeriksaan dokter spesialis kebidanan dan kandungan dapat membantu mengetahui penyebab gangguan menstruasi. Penanganannya akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing, mulai dari perubahan gaya hidup hingga pemberian obat tertentu. Dalam kondisi tertentu, tindakan medis lebih lanjut mungkin diperlukan.

Dengan mengenali perubahan pada siklus menstruasi, seseorang dapat lebih cepat menyadari apabila terdapat kondisi yang membutuhkan pemeriksaan. Karena itu, jangan mengabaikan perubahan menstruasi yang berlangsung terus-menerus, terutama jika disertai perdarahan berlebihan atau nyeri yang berat.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN