5 Jurusan S1 Paling Banyak Hasilkan Pengangguran, Ada Manajemen hingga Hukum
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Memiliki gelar sarjana ternyata belum otomatis menjadi tiket untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Di tengah semakin luasnya akses pendidikan tinggi di Indonesia, muncul persoalan baru yang patut menjadi perhatian, banyak lulusan S1 justru belum terserap secara optimal pasar kerja.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyoroti fenomena tersebut dalam laporan bertajuk “Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?”
Dalam laporan yang ditulis Muhammad Hanri, PhD dan Nia Kurnia Sholihah, MD tersebut, disebutkan sekitar 8 juta lulusan sarjana di Indonesia bekerja di posisi yang berada di bawah tingkat pendidikan mereka. Tak hanya itu, peneliti juga mengidentifikasi bidang studi yang cukup banyak muncul di antara kelompok pengangguran dengan pendidikan minimal S1.
Temuan ini menjadi semakin relevan di tengah rencana pemerintah membangun perguruan tinggi baru, yakni Universitas Republik Indonesia (URI). Menurut LPEM FEB UI, persoalannya bukan sekadar memperbanyak jumlah kampus atau membuka jurusan yang populer, melainkan memastikan lulusan memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja.
5 Jurusan yang Banyak Ditemukan di Kalangan Pengangguran S1
Berdasarkan analisis terhadap data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025, terdapat lima bidang studi yang secara keseluruhan mencakup sekitar 40 persen pengangguran dengan pendidikan minimal S1.
Berikut lima bidang studi tersebut:
Manajemen: 10,3 persen
Hukum: 9 persen
Ekonomi: 8,7 persen
Pendidikan: 7,1 persen
Akuntansi: 5,1 persen
Manajemen berada di posisi teratas. Bidang ini memang memiliki cakupan yang sangat luas, mulai dari pengelolaan organisasi, pemasaran, sumber daya manusia, keuangan, aset, hingga berbagai sektor industri.
Namun, luasnya pilihan karier tidak otomatis membuat persaingan lulusan menjadi lebih ringan. Ketika memasuki pasar kerja, lulusan manajemen dapat berhadapan dengan kandidat dari bidang bisnis lainnya maupun lulusan komunikasi, hukum, ekonomi, dan berbagai jurusan lain yang memiliki kompetensi serupa.
Hal serupa juga terlihat pada bidang pendidikan. Jurusan ini memiliki cakupan program yang sangat beragam, mulai dari pendidikan guru, bahasa, sains, ekonomi, hingga pendidikan vokasi. Peluang kerja lulusannya juga sangat dipengaruhi oleh kebutuhan tenaga pendidik, sistem rekrutmen, ketersediaan formasi, serta kebutuhan sekolah di setiap daerah.
Informatika Juga Masuk Daftar, Padahal Dianggap Jurusan Masa Depan
Temuan lain yang tak kalah menarik adalah munculnya ilmu komputer atau informatika dengan porsi 4,6 persen di antara pengangguran lulusan minimal S1.
Padahal, selama beberapa tahun terakhir, bidang teknologi kerap dianggap sebagai salah satu pilihan pendidikan dengan prospek kerja menjanjikan.
Namun, kebutuhan industri teknologi ternyata bergerak sangat cepat. Penguasaan teori saja belum tentu cukup untuk membuat lulusan langsung terserap. Kemampuan praktis, pengalaman kerja, kualitas pendidikan, penguasaan teknologi terbaru, serta kecocokan kompetensi dengan kebutuhan perusahaan juga dapat menjadi faktor penting.
Meski demikian, LPEM FEB UI memberikan catatan penting. Angka tersebut tidak dapat diartikan sebagai tingkat pengangguran masing-masing jurusan.
Artinya, tingginya persentase suatu bidang studi di antara pengangguran tidak otomatis berarti jurusan tersebut memiliki prospek kerja paling buruk. Untuk mengetahui risiko pengangguran sebenarnya, jumlah pengangguran harus dibandingkan dengan total angkatan kerja dari bidang studi yang sama.
Buka Kampus Baru Bukan Sekadar Tambah Jumlah Sarjana
Temuan LPEM FEB UI juga memberikan catatan penting bagi rencana perluasan pendidikan tinggi di Indonesia. Menambah jumlah universitas memang dapat memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan, tetapi langkah tersebut perlu dibarengi perencanaan yang matang.
Universitas baru harus memiliki program studi yang benar-benar dibutuhkan, standar pendidikan yang kuat, serta mampu mengisi kesenjangan akses pendidikan di wilayah tertentu. Yang tak kalah penting, kurikulum dan kompetensi lulusannya harus memiliki hubungan erat dengan kebutuhan industri dan perkembangan ekonomi.
Jika hanya mengejar peningkatan jumlah lulusan tanpa memperhatikan daya serap pasar kerja, persoalan lama justru berpotensi semakin besar. Jumlah sarjana bertambah, tetapi kesempatan mendapatkan pekerjaan yang sesuai belum tentu ikut meningkat.
Karena itu, LPEM FEB UI menilai penguatan kualitas perguruan tinggi yang sudah ada, mempererat hubungan antara kampus dan dunia kerja, serta menciptakan lebih banyak pekerjaan dengan keterampilan tinggi merupakan langkah yang sama pentingnya.
Gelar sarjana memang penting, tetapi di tengah persaingan kerja yang semakin ketat, gelar saja ternyata belum cukup. Kompetensi yang relevan dan keterhubungan dengan kebutuhan industri menjadi kunci agar lulusan tidak sekadar bertambah, tetapi juga benar-benar terserap pasar kerja.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk 5 Jurusan S1 Paling Banyak Hasilkan Pengangguran, Ada Manajemen hingga Hukum .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!