6 Fakta Kebakaran Bromo Makin Mencekam: Tembus 520 Hektare, 5 Pintu Wisata Ditutup Total

Senin, 10 Agu 2026, 14:35 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kembali menghadapi situasi darurat akibat kebakaran hutan dan lahan. Api yang pertama kali terdeteksi pada 3 Agustus 2026 hingga kini masih belum sepenuhnya berhasil dikendalikan.

Bukannya mereda, kebakaran justru terus meluas dan dilaporkan telah menghanguskan area hingga sekitar 520 hektare. Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman semakin menantang karena sebagian titik api berada di kawasan perbukitan dengan medan terjal dan sulit dijangkau.

Dampak kebakaran juga mulai terasa terhadap aktivitas wisata. Sejumlah akses menuju kawasan wisata Gunung Bromo terpaksa ditutup demi mengutamakan keselamatan wisatawan maupun masyarakat. Lantas, bagaimana kondisi terkini kebakaran Bromo? Berikut sederet fakta yang perlu diketahui.

1. Api Pertama Kali Terdeteksi di Blok Bantengan

Kebakaran pertama kali diketahui pada Senin (3/8/2026). Titik api ditemukan di kawasan Blok Bantengan yang berada di perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang. Lokasi tersebut berada di area perbukitan sehingga proses pemadaman dari darat menghadapi berbagai kendala. Medan yang sulit membuat petugas tidak dapat dengan mudah menjangkau seluruh titik api.

Menariknya, titik awal kebakaran tersebut bukan berada di area wisata utama Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Pranata Humas Balai Besar TNBTS, Endrip Wahyutama, menjelaskan bahwa lokasi awal api berada di jalur yang biasa digunakan masyarakat dari wilayah Jemplang menuju Desa Argosari, Kabupaten Lumajang.

"Sumbernya di atas (Blok Bantengan), bukan lokasi wisata, bukan jalur umum juga. Itu jalur terabasan (jalur tikus) warga," jelas Endrip.

2. Diduga Disebabkan Ulah Manusia

Ket. Foto: Potret kebakaran hutan di Bromo. — Sumber: Istimewa

Penyebab pasti kebakaran masih menjadi bagian dari penanganan dan penyelidikan. Namun, pihak TNBTS menduga sumber api berasal dari aktivitas manusia.

Dugaan tersebut muncul karena faktor alam dinilai minim kemungkinan menjadi sumber awal api. Cuaca panas dan kondisi kemarau memang dapat mempercepat penyebaran api, tetapi bukan menjadi sumber munculnya api itu sendiri.

"Kalau pastinya dari manusia. Bukan dari alam. Kalau cuaca itu kan membuat api membesar, merambat. Tetapi kalau sumber (api) bukan karena cuaca," ungkap Endrip.

Dengan kondisi vegetasi yang mengering selama musim kemarau, api kemudian lebih mudah menjalar dari satu titik ke titik lainnya.

3. Luas Kebakaran Mencapai 520 Hektare

Dalam beberapa hari, kebakaran Bromo berkembang cukup cepat. Luas area terdampak bahkan telah mencapai sekitar 520 hektare. Kondisi medan menjadi salah satu tantangan terbesar bagi petugas. Kawasan yang terbakar terdiri dari perbukitan, lereng curam, hingga tebing yang menyulitkan akses kendaraan dan personel pemadam.

Angin kencang juga memperburuk situasi. Ketika api bertemu vegetasi yang kering, kobaran dapat dengan cepat merambat dan menciptakan titik api baru. Sejumlah lokasi yang masih mengalami kebakaran antara lain kawasan Tebing P-30 di Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, serta sekitar Gunung Dingklik, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

4. Helikopter Dikerahkan untuk Water Bombing

Karena tidak semua titik api dapat dijangkau melalui jalur darat, pemerintah mengambil langkah tambahan dengan mengerahkan helikopter untuk melakukan water bombing. Metode ini dilakukan dengan menjatuhkan air dalam jumlah besar dari udara ke wilayah yang terbakar dan sulit dijangkau petugas di lapangan.

Upaya pemadaman juga melibatkan berbagai pihak. BNPB bersama BMKG menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu proses penanganan kebakaran apabila kondisi atmosfer memungkinkan. Strategi tersebut diharapkan dapat membantu menciptakan kondisi yang mendukung turunnya hujan di wilayah sekitar kebakaran.

5. Wisata Gunung Bromo Ditutup Total

Meluasnya kebakaran tidak hanya menjadi ancaman terhadap lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada sektor pariwisata. Demi menjaga keselamatan wisatawan dan masyarakat, seluruh akses wisata Gunung Bromo yang terdampak kebakaran ditutup mulai Sabtu (8/8/2026) pukul 22.00 WIB hingga waktu yang belum ditentukan.

Penutupan dilakukan sebagai langkah antisipasi mengingat kondisi kebakaran masih belum sepenuhnya terkendali. Meski demikian, sejumlah destinasi wisata di Kabupaten Probolinggo yang tidak terdampak kebakaran masih dapat beroperasi.

6. Lima Pintu Masuk Bromo Ditutup

Penutupan akses wisata tersebut mencakup lima pintu masuk utama menuju kawasan Bromo. Kelima akses tersebut adalah:
- Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo
- Wonokitri, Kabupaten Pasuruan
- Jemplang, Kabupaten Malang
- Coban Trisula, Kabupaten Malang
- Senduro, Kabupaten Lumajang

Belum diketahui kapan kelima akses tersebut akan kembali dibuka karena keputusan sangat bergantung pada perkembangan kondisi kebakaran di lapangan.

Warga dan Wisatawan Diminta Waspada

Kebakaran yang telah meluas hingga ratusan hektare menjadi pengingat bahwa kawasan konservasi sangat rentan terhadap kebakaran, khususnya ketika memasuki musim kemarau.

Kondisi vegetasi yang kering ditambah angin kencang dapat membuat api menyebar dengan cepat. Karena itu, masyarakat maupun wisatawan perlu mematuhi seluruh arahan petugas selama proses penanganan berlangsung.

Untuk sementara, penutupan akses wisata menjadi langkah penting agar upaya pemadaman dapat dilakukan dengan lebih aman dan terfokus.

Kebakaran Bromo yang kini mencapai 520 hektare bukan hanya mengancam keindahan kawasan wisata, tetapi juga kelestarian ekosistem di dalamnya. Publik kini menanti perkembangan terbaru mengenai keberhasilan pemadaman dan kapan kawasan wisata Bromo dapat kembali dibuka.

  • karhutla
  • kebakaran bromo

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.