Kebiasaan Gen Alpha: Dari “iPad Kids” hingga Obsesi Skincare Sejak Dini

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM -  Generasi Alpha atau Gen Alpha kini mulai menjadi sorotan.

Mereka adalah anak-anak yang lahir antara tahun 2010 hingga 2024 dan menjadi generasi pertama yang sepenuhnya tumbuh di era digital. Berbeda dari generasi sebelumnya, cara mereka tumbuh, bermain, hingga membentuk kebiasaan sehari-hari sangat dipengaruhi oleh teknologi dan internet.

Tumbuh sebagai “iPad Kids”

Gen Alpha sering dijuluki “iPad Kids” karena sejak kecil sudah akrab dengan gadget seperti tablet dan smartphone. Bagi mereka, teknologi bukan sekadar alat, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mereka terbiasa mengakses video, bermain game, bahkan membuat konten digital sejak usia dini.

Dunia Mereka Ada di Internet

Sebagian besar aktivitas Gen Alpha berlangsung di dunia digital. Mereka aktif di platform seperti YouTube, TikTok, hingga game seperti Roblox dan Minecraft.

Tidak hanya sebagai penonton, mereka juga mulai menjadi kreator dan memiliki cara komunikasi sendiri, termasuk bahasa gaul khas generasinya.

Lebih Banyak di Dalam Rumah

Pengalaman pandemi Covid-19 turut membentuk kebiasaan Gen Alpha. Banyak dari mereka menghabiskan waktu di rumah, termasuk belajar secara daring dalam waktu lama.

Hal ini membuat mereka cenderung lebih sedikit bermain di luar dibanding generasi sebelumnya.

Generasi Paling Beragam

Gen Alpha dikenal sebagai generasi yang sangat terbuka terhadap perbedaan. Interaksi global melalui internet membuat mereka lebih mudah menerima keberagaman budaya dan perspektif.

Punya Bahasa dan Tren Sendiri

Mereka menciptakan istilah dan tren baru yang sering kali sulit dipahami generasi di atasnya. Fenomena ini menunjukkan bagaimana kuatnya pengaruh budaya digital dalam kehidupan mereka.

Obsesi Skincare Sejak Dini

Salah satu tren unik adalah ketertarikan pada skincare di usia sangat muda, sering disebut sebagai fenomena “Sephora Kids”.

Anak-anak mulai mengenal produk perawatan kulit, bahkan membeli produk premium dan membuat konten tentangnya di media sosial. Tren ini memunculkan kekhawatiran karena produk tersebut belum tentu cocok untuk usia mereka.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN