Kisah Keluarga Belanda Jatuh Cinta pada Indonesia, Pilih Membelot dan Teriak Merdeka!

Sabtu, 08 Agu 2026, 18:10 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Keluarga Kobus memang berasal dari Belanda, negara yang menjajah Indonesia selama ratusan tahun. Namun, keluarga berhaluan sosialis di Amsterdam ini sejak awal dikenal mendukung gerakan kemerdekaan Indonesia.

Mengutip BBC News Indonesia, keluarga Kobus terdiri dari Betsy, Annie, dan Miny, tiga anak perempuan dari wanita Belanda bernama Mien.

Ket. Foto: Kisah Keluarga Belanda Jatuh Cinta pada Indonesia, Pilih Membelot dan Teriak Merdeka! — Sumber: BBC

Mereka berangkat dengan Kapal Weltevreden dari Pelabuhan Rotterdam pada 6 Desember 1946, bersama lebih dari 200 mantan mahasiswa Indonesia serta warga Belanda yang memihak Indonesia, negeri yang baru berusia satu tahun.

Dalam buku jurnalis Belanda Hilde Janssen berjudul Enkele Reis Indonesie, yang diterjemahkan menjadi Tanah Air Baru, Indonesia, disebutkan Mien aktif dalam gerakan bawah tanah melawan penjajahan Jerman di Belanda.

Mien juga menampung sejumlah pemuda Indonesia yang bekerja untuk perusahaan perkapalan Belanda. Karena sering singgah, mereka berkenalan dengan keluarga Kobus dan kerap mengajak mereka berjalan-jalan atau menyaksikan pertunjukan keroncong.

Dari sanalah kisah asmara ketiga gadis Kobus bermula. Masing-masing jatuh cinta kepada pelaut Indonesia yang mereka temui dan akhirnya melakukan “nikah masal”.

Pada 9 Mei 1946, Betsy menikah dengan Djumiran, Annie dengan Djabir, serta Miny dengan Amarie.

Setelah itu, Kobus bersaudara kerap mendampingi suami mereka berkumpul bersama pemuda Indonesia lainnya atau datang ke Institut Kolonial untuk menonton dan bermain keroncong.

Keluarga Kobus Nekat Hijrah ke Indonesia

Tiga kakak beradik Kobus sejak awal ingin hijrah ke Indonesia. Namun, rencana tersebut terus tertunda karena kapal-kapal Belanda memprioritaskan pengerahan pasukan ke Indonesia “untuk menertibkan situasi” setelah Indonesia memerdekakan diri.

Kesempatan datang pada Desember 1946 dan tidak disia-siakan Betsy, Annie, Miny, serta Mien. Sahabat mereka, Dolly, dan sejumlah orang lain turut dalam perjalanan tersebut.

Saat itu, Dolly sudah memiliki anak bernama Narjo yang berusia 1,5 tahun. Selama empat minggu perjalanan, Annie dan Miny tak jarang merawat anak Indo tersebut. Mereka tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 1 Januari 1947.

Setelah pemeriksaan paspor dan dokumen, Dolly, keluarga Kobus, para suami mereka, serta penumpang lainnya menaiki kereta yang dikirim pemerintahan baru Indonesia menuju Yogyakarta. Saat itu, Jakarta atau Batavia masih dikuasai Belanda.

Perjalanan dikawal pasukan militer Belanda hingga garis demarkasi di Kranji, Bekasi, yang memisahkan wilayah kekuasaan Belanda dan Republik Indonesia.

Keberadaan para perempuan kulit putih terlihat mencolok di antara ratusan orang Indonesia. Di Stasiun Kranji, seorang serdadu Belanda melihat Dolly dan Kobus bersaudara.

“Dia melihat kami dan berkata, ‘Ke sana?’ Lalu dia menyilangkan jari di dahi. Dia pikir kami orang gila karena rombongan Belanda lain justru menuju Jakarta dan belum lama dibebaskan dari kamp tahanan Jepang,” papar Dolly.

Sepanjang perjalanan, ketiga Kobus muda dengan penuh kegirangan menjulurkan kepala dari kereta dan berseru kepada penduduk, “Merdeka! Merdeka!”

Menyerahkan Anaknya ke Soekarno

Setelah beberapa hari di Yogyakarta, mereka menghadiri acara penyambutan yang dihadiri Presiden Soekarno. Bersama Mien, kakak beradik Kobus berhasil menghampiri sang proklamator.

Mien bagaikan “menyerahkan” ketiga anak perempuannya kepada Indonesia melalui Soekarno.

“Ketiga anak saya adalah satu-satunya harta yang saya miliki,” ujar Mien kepada Soekarno, sebagaimana dikenang Miny kepada Hilde Janssen dalam buku Tanah Air Baru, Indonesia.

Soekarno menepuk bahu Mien seraya berkata, “Jangan khawatir, ibu. Kami akan menjaga mereka.”

Pengalaman tersebut juga disinggung Dolly saat diwawancara BBC.

“Ibu mereka yang langsung menemui Soekarno dan menitipkan anak-anaknya. Itu dukungan dia kepada Indonesia.”

Di sela-sela acara, seorang staf Menteri Sosial mengatakan kepada Miny bahwa bantuan mereka dibutuhkan di Jember, Jawa Timur.

Di sana, Palang Merah Indonesia mendirikan sejumlah tempat penampungan bagi warga Surabaya yang mengungsi setelah kota tersebut direbut pasukan Inggris dan diserahkan kepada Belanda.

Beberapa hari kemudian, Kobus bersaudara berangkat ke Jember. Miny dan Annie bekerja untuk Palang Merah Indonesia, sedangkan Dolly menetap bersama suaminya di Solo. Toto, anak bungsu Miny, kembali mengungkapkan kisah tersebut.

“Ibu saya aktif ikut dalam perjuangan waktu Indonesia clash dengan Belanda sebagai anggota Palang Merah Indonesia,” kata Toto yang mendapat kisah tersebut dari ibunya, Miny.

  • Keluarga Belanda Jatuh Cinta pada Indonesia
  • Cerita Kemerdekaan

Redaktur: Fitrya A Kusumah

Penulis: Fitrya A Kusumah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.