Gitasav Soroti Akar Masalah Empati Oknum Nakes, Singgung Banyaknya Pihak yang Memilih Kelas Sosial

Ket. Gitasav turut tanggapi kasus oknum nakes yang nirempati ke mendiang Yurizal

Doc: Instagram/@gitasav

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Influencer sekaligus kreator konten Gitasav ikut menyoroti polemik yang mencuat setelah muncul komentar tidak pantas dari oknum tenaga kesehatan (nakes) terkait mendiang Yurizal.

Peristiwa tersebut memicu perdebatan luas di media sosial mengenai empati dalam pelayanan kesehatan, terlebih setelah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memberikan tanggapan bahwa burnout bukanlah alasan untuk bersikap tidak berempati kepada pasien maupun masyarakat.

Melalui unggahan Instagram Story di akun pribadinya, pemilik nama lengkap Gita Savitri Devi ini menyampaikan pandangannya mengenai penyebab yang menurutnya lebih mendasar dibanding sekadar kelelahan kerja atau burnout.

20260806155159_HO9p-EYawAEZiJp.jpg

(Tanggapan Gitasav soal oknum nakes nirempati, dok: Instagram/@gitasav)

Ia menilai persoalan tersebut berkaitan dengan cara pandang sebagian orang terhadap kelompok masyarakat yang kurang beruntung secara ekonomi.

Dalam unggahan itu, Gitasav menulis, "Kalau menurut gw karena banyak banget manusia (bukan hanya dokter) yang classist."

Ia kemudian melanjutkan pendapatnya dengan mengatakan, "Class consciousness-nya gak ada. Jadi melihat orang miskin itu kayak geleuh banget, bahkan a crime."

Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena menempatkan isu empati dalam konteks yang lebih luas, yakni persoalan kesadaran sosial dan cara masyarakat memandang kesenjangan ekonomi.

Menurutnya, sikap yang dianggap merendahkan orang miskin tidak hanya ditemukan pada profesi tertentu, tetapi dapat terjadi pada siapa saja apabila memiliki pola pikir yang diskriminatif terhadap status sosial.

Unggahan Gitasav muncul di tengah ramainya diskusi mengenai etika tenaga kesehatan di media sosial. Sebelumnya, publik dihebohkan oleh komentar dari seorang oknum nakes yang dinilai tidak pantas terkait mendiang Yurizal.

Kasus tersebut kemudian memancing kritik dari berbagai kalangan dan mendorong munculnya pembahasan mengenai profesionalisme, empati, serta etika dalam berinteraksi di ruang digital.

Tanggapan dan Respon IDI

Di sisi lain, IDI juga telah memberikan respons terhadap isu tersebut. Dalam pernyataan yang beredar luas, organisasi profesi itu menegaskan bahwa tekanan pekerjaan atau burnout memang merupakan persoalan nyata di dunia kesehatan.

Namun, kondisi tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran untuk menunjukkan sikap yang tidak berempati kepada pasien maupun masyarakat.

Pandangan Gitasav menambah perspektif baru dalam diskusi yang berkembang. Alih-alih hanya menyoroti faktor kelelahan kerja, ia mengajak publik melihat kemungkinan adanya persoalan sosial yang lebih mendasar, yaitu sikap classism atau diskriminasi berdasarkan kelas sosial.

Hingga kini, perbincangan mengenai kasus tersebut masih terus berlangsung di media sosial. Banyak warganet yang mendukung pentingnya peningkatan empati dan etika komunikasi, baik bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat secara umum. *

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN