Kisah Haru di Balik Kesuksesan Idgitaf, Penyintas Mikrotia Sejak Bayi Hingga Ungkap Ucapan Nyelekit Perawat

Minggu, 02 Agu 2026, 15:00 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Penyanyi sekaligus penulis lagu Idgitaf membagikan kisah yang menyentuh tentang kondisi yang telah ia alami sejak lahir.

Melalui unggahan di akun TikTok pribadinya, pelantun lagu Satu-Satu itu mengungkap bahwa dirinya merupakan penyintas mikrotia, sebuah kelainan bawaan yang memengaruhi bentuk telinga.

Ket. Foto: — Sumber: Instagram/@idgitaf

Dalam ceritanya, Idgitaf mengaku kondisi tersebut langsung disadari oleh tenaga medis saat ia dilahirkan. Ia bahkan mengungkap pengalaman yang cukup membekas bagi keluarganya.

"Aku itu udah mikrotia itu, udah dari kecil, langsung ternotice sama si perawatnya," ujar Idgitaf dalam video yang diunggah di akun TikTok miliknya.

Tak hanya itu, ia juga menceritakan bahwa sang perawat sempat melontarkan ucapan yang menyakitkan dengan menyebut dirinya cacat.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan hidup yang kini berani ia ceritakan kepada publik sebagai bentuk penerimaan diri.

Meski tumbuh dengan kondisi tersebut, Idgitaf berhasil membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berkarya.

Penyanyi yang dikenal dengan lagu-lagu penuh makna ini terus menorehkan prestasi di industri musik Indonesia dan menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk menerima diri apa adanya.

Apa Itu Mikrotia?

Mikrotia adalah kelainan bawaan sejak lahir yang ditandai dengan ukuran telinga luar yang lebih kecil dari normal atau tidak terbentuk secara sempurna. Kondisi ini terjadi ketika perkembangan telinga janin tidak berlangsung optimal pada minggu-minggu awal kehamilan.

Mikrotia dapat terjadi pada salah satu telinga (unilateral) maupun kedua telinga (bilateral), meski kasus pada satu sisi jauh lebih sering ditemukan.

Tingkat keparahannya juga bervariasi, mulai dari telinga yang hanya sedikit lebih kecil hingga hampir tidak memiliki daun telinga sama sekali.

Secara umum, mikrotia dibagi menjadi empat derajat. Pada derajat ringan, bentuk telinga masih menyerupai telinga normal meski ukurannya lebih kecil.

Sementara pada derajat yang lebih berat, struktur telinga luar sangat minim atau bahkan tidak terbentuk, sehingga hanya menyisakan jaringan kecil.

Selain memengaruhi penampilan, mikrotia sering kali disertai atresia liang telinga, yaitu kondisi ketika saluran telinga tidak terbentuk atau tertutup.

Akibatnya, penderita dapat mengalami gangguan pendengaran konduktif pada sisi yang terkena. Namun, kemampuan mendengar pada telinga yang normal umumnya tetap baik sehingga banyak penyintas masih dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan optimal.

Penyebab pasti mikrotia belum selalu diketahui. Sebagian besar kasus terjadi secara sporadis tanpa riwayat keluarga. Namun, faktor genetik, gangguan perkembangan janin, hingga paparan tertentu selama kehamilan diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini.

Penanganan mikrotia disesuaikan dengan tingkat keparahan dan kebutuhan setiap pasien. Pilihannya dapat berupa penggunaan alat bantu dengar apabila terdapat gangguan pendengaran, hingga rekonstruksi telinga melalui operasi atau penggunaan prostesis untuk memperbaiki bentuk telinga.

Dengan diagnosis dan penanganan yang tepat, penyintas mikrotia tetap dapat tumbuh, belajar, dan beraktivitas secara normal.

Kisah yang dibagikan Idgitaf menjadi pengingat bahwa kondisi bawaan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi.

Keberaniannya berbicara terbuka juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang mikrotia sekaligus mengurangi stigma terhadap penyintas kelainan bawaan.*

  • Idgitaf
  • Mikrotia

Redaktur: Weti Aprianti

Penulis: Weti Aprianti

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.