5 Wisata Paling Populer di Dunia yang Mulai Batasi Turis, Overtourism Makin Mengkhawatirkan?

Ket. Pulau Santorini, Yunani.

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Liburan ke destinasi impian memang terdengar menyenangkan. Namun, bagaimana jika tempat wisata yang ingin dikunjungi justru dipenuhi lautan manusia hingga membuat pengalaman berlibur terasa melelahkan? Fenomena inilah yang kini dihadapi sejumlah kota wisata paling populer di Eropa akibat overtourism atau pariwisata berlebihan.

Organisasi World Travel & Tourism Council (WTTC) memperingatkan berbagai destinasi favorit dunia sedang menghadapi tekanan besar karena jumlah wisatawan yang terus meningkat. Data menunjukkan sekitar 80 persen wisatawan global terkonsentrasi hanya di sekitar 10 persen destinasi wisata dunia, sehingga memicu kepadatan ekstrem, kerusakan lingkungan, hingga menurunkan kualitas hidup masyarakat setempat.

Lonjakan perjalanan internasional yang meningkat sekitar 5 persen hingga melampaui 1,1 miliar perjalanan membuat sejumlah pemerintah kota di Eropa mulai mengambil langkah tegas. Alih-alih terus mengejar jumlah kunjungan wisatawan, mereka kini lebih memprioritaskan keberlanjutan lingkungan dan kenyamanan warga lokal.

Mengacu pada Travel Green List 2026 yang dirilis Wanderlust, terdapat lima destinasi wisata populer di Eropa yang dinilai berani menerapkan kebijakan baru untuk mengendalikan jumlah wisatawan.

1. Barcelona, Spanyol

Barcelona menjadi salah satu kota yang paling keras menghadapi dampak overtourism. Dalam beberapa tahun terakhir, warga berkali-kali menggelar aksi protes akibat melonjaknya harga properti dan biaya sewa hunian yang disebut meningkat hingga 68 persen.

Sebagai respons, pemerintah kota berencana menghapus seluruh izin penyewaan akomodasi jangka pendek pada 2028. Kebijakan tersebut akan mencabut izin lebih dari 10.000 apartemen yang selama ini disewakan kepada wisatawan melalui platform seperti Airbnb. Langkah ini diharapkan dapat mengembalikan ketersediaan hunian bagi penduduk lokal.

2. Amsterdam, Belanda

Amsterdam juga semakin selektif menerima wisatawan. Pemerintah kota telah membekukan pembangunan hotel baru dan memperketat aturan bagi kapal pesiar yang datang ke kota tersebut.

Jumlah kunjungan kapal pesiar dibatasi maksimal 100 kali per tahun, sementara wisatawan harian dikenakan pajak khusus sebesar €15. Bahkan, Amsterdam menargetkan kapal pesiar tidak lagi melintasi pusat kota mulai 2035 sebagai bagian dari upaya mengurangi kepadatan wisata.

3. Dubrovnik, Kroasia

Dubrovnik, yang dikenal luas sebagai salah satu lokasi syuting serial populer Game of Thrones, juga menghadapi lonjakan wisatawan yang sangat tinggi setiap tahunnya.

Pemerintah setempat menerapkan berbagai kebijakan pengendalian jumlah pengunjung untuk menjaga kawasan kota tua yang telah berstatus Situs Warisan Dunia UNESCO agar tetap lestari dan nyaman dihuni masyarakat.

4. Santorini, Yunani

Pulau Santorini selama ini menjadi ikon wisata Yunani berkat panorama laut dan bangunan bercat putih yang memikat jutaan wisatawan.

Namun, kepadatan pengunjung mulai memberikan tekanan terhadap infrastruktur dan lingkungan. Karena itu, pemerintah setempat mulai menerapkan berbagai pembatasan untuk mengendalikan arus wisatawan, terutama saat musim liburan.

5. Blue Lagoon, Pulau Comino, Malta

Blue Lagoon menjadi contoh sukses dalam mengurangi dampak overtourism melalui sistem reservasi digital.

Kini wisatawan diwajibkan memesan slot kunjungan secara online sebelum datang. Mereka harus memilih sesi pagi, siang, atau sore dengan kuota maksimal 4.000 orang pada satu waktu.

Kebijakan tersebut terbukti efektif. Jika sebelumnya kawasan ini bisa dipadati sekitar 12.000 wisatawan pada jam sibuk, kini jumlahnya berhasil ditekan menjadi sekitar 3.830 orang, sehingga pengalaman wisata menjadi jauh lebih nyaman dan kondisi lingkungan lebih terjaga.

Overtourism Jadi Tantangan Pariwisata Dunia

Fenomena overtourism tidak hanya berdampak pada kemacetan dan antrean panjang di objek wisata, tetapi juga memicu kenaikan harga properti, kerusakan lingkungan, peningkatan sampah, hingga mengganggu aktivitas masyarakat lokal.

Karena itu, semakin banyak destinasi wisata dunia mulai mengubah strategi pengelolaan pariwisata. Fokus mereka kini bukan lagi mengejar jumlah wisatawan sebanyak mungkin, melainkan menciptakan sistem yang lebih berkelanjutan agar manfaat ekonomi tetap dirasakan tanpa mengorbankan kualitas hidup warga maupun kelestarian lingkungan.

Langkah yang diambil Barcelona, Amsterdam, Dubrovnik, Santorini, dan Blue Lagoon menunjukkan masa depan industri pariwisata tidak hanya bergantung pada banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga pada kemampuan setiap destinasi menjaga keseimbangan antara kebutuhan pengunjung, masyarakat lokal, dan alam.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN