Skandal Chanel Makin Panas, Tas Mewah Dicuri hingga Terseret Isu Eksploitasi Tenaga Kerja

Rabu, 22 Jul 2026, 17:25 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Di balik citranya sebagai salah satu rumah mode paling bergengsi di dunia, Chanel kini menghadapi dua kontroversi yang menyita perhatian publik internasional. Brand fashion mewah asal Prancis tersebut menjadi sorotan setelah muncul kasus dugaan pencurian ratusan produk mewah di Hong Kong serta penyelidikan terkait dugaan eksploitasi tenaga kerja dalam rantai pasokannya di Italia.

Dua kasus yang berbeda ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai transparansi, pengawasan internal, hingga praktik keberlanjutan (sustainability) yang dijalankan oleh industri fashion mewah. Meski Chanel telah memberikan klarifikasi atas berbagai tudingan tersebut, kontroversi ini tetap memancing diskusi luas di kalangan pecinta mode maupun pemerhati hak pekerja.

Ratusan Tas dan Dompet Chanel Diduga Dicuri Sebelum Dimusnahkan

Salah satu kasus yang paling menyita perhatian terjadi di Hong Kong. Berdasarkan laporan The Standard, Chanel Hong Kong diketahui memiliki prosedur untuk menangani produk-produk yang sudah tidak lagi dipasarkan. Dalam praktik yang berlangsung beberapa tahun lalu, perusahaan disebut memusnahkan sekitar 10.000 hingga 20.000 produk mewah setiap enam bulan, mulai dari tas hingga dompet yang dianggap sudah usang atau tidak lagi layak dipasarkan.

Sebelum dimusnahkan, setiap barang terlebih dahulu melalui proses inventarisasi yang ketat. Manajer gudang melakukan pengecekan stok, kemudian inspektur memverifikasi produk, melepas kemasan, lalu mengirimkannya melalui jalur khusus menuju lokasi penghancuran di fasilitas Goodman Interlink, Tsing Yi.

Namun, sistem tersebut diduga dimanfaatkan dua mantan pegawai gudang.

Keduanya dituduh mencuri sekitar 724 produk Chanel yang seharusnya dimusnahkan. Barang-barang mewah tersebut diduga hendak dijual kembali untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Kasus ini mulai terungkap pada awal 2017 setelah rekaman CCTV memperlihatkan para pelaku bersama beberapa staf gudang lainnya sedang memindahkan barang-barang tersebut ke sebuah kendaraan pengiriman.

Proses hukum terhadap para terdakwa masih terus berjalan.

Praktik Pemusnahan Barang Mewah Ikut Dipertanyakan

Ket. Foto: Chanel. — Sumber: Pexels

Selain dugaan pencurian, publik juga mempertanyakan kebijakan pemusnahan produk yang selama ini dilakukan sejumlah rumah mode mewah.

Banyak pihak menilai penghancuran barang yang belum terjual bertentangan dengan prinsip keberlanjutan karena menghasilkan limbah sekaligus menyia-nyiakan sumber daya yang digunakan dalam proses produksi.

Menanggapi sorotan tersebut, Chanel Hong Kong menegaskan bahwa angka yang muncul dalam persidangan tidak lagi mencerminkan kebijakan global perusahaan saat ini.

Perusahaan menjelaskan bahwa sejak 2019 mereka telah menjalankan program L'Atelier des Matières, sebuah inisiatif yang bertujuan mendaur ulang produk yang tidak lagi dapat dipasarkan, termasuk barang cacat maupun stok yang tidak terjual.

Melalui program tersebut, material dari berbagai produk akan diproses kembali agar dapat digunakan dalam rantai produksi baru sehingga mendukung ekonomi sirkular dan mengurangi limbah industri fashion.

Uni Eropa Kini Melarang Pemusnahan Produk Fashion Tak Terjual

Kontroversi mengenai pemusnahan produk fashion juga bertepatan dengan perubahan regulasi di Uni Eropa. Mulai 19 Juli 2026, perusahaan-perusahaan besar di kawasan tersebut resmi dilarang memusnahkan pakaian, aksesori, maupun alas kaki yang tidak terjual.

Aturan baru ini mendorong perusahaan untuk lebih mengutamakan penjualan kembali, donasi, perbaikan, atau penggunaan ulang dibanding menghancurkan produk.

Kebijakan tersebut dibuat guna mengurangi limbah tekstil, menekan emisi karbon, sekaligus memaksimalkan pemanfaatan energi, air, dan bahan baku yang telah digunakan selama proses produksi.

Chanel Ikut Diselidiki dalam Dugaan Eksploitasi Tenaga Kerja di Italia

Belum selesai dengan kontroversi di Hong Kong, Chanel juga terseret dalam penyelidikan besar yang dilakukan aparat Italia terkait dugaan eksploitasi tenaga kerja di industri fashion mewah.

Pada 17 Juli 2026, kepolisian Italia menggerebek sejumlah kantor perusahaan fashion ternama sebagai bagian dari investigasi terhadap rantai pasokan mereka.

Selain Chanel, penyelidikan juga menyasar beberapa nama besar lain seperti Bulgari, Moncler, Brunello Cucinelli, Etro, Goyard Italie, Jacob Cohen Company, hingga Stefano Ricci.

Menurut laporan, aparat menduga sejumlah perusahaan menggunakan subkontraktor yang mempekerjakan pekerja asal China dengan kondisi kerja yang tidak memenuhi standar.

Investigasi Meluas ke Sejumlah Brand Mewah Dunia

Penyelidikan ini merupakan bagian dari investigasi yang lebih luas yang dipimpin jaksa Milan mengenai dugaan pelanggaran ketenagakerjaan di industri barang mewah.

Sebelumnya, beberapa merek ternama seperti Prada, Givenchy, dan Dolce & Gabbana juga telah masuk dalam radar penyelidikan terkait rantai pasokan mereka.

Sementara itu, Loro Piana bahkan sempat ditempatkan di bawah administrasi peradilan sementara menyusul kekhawatiran mengenai kondisi kerja di sejumlah pemasoknya.

Hingga kini belum ada putusan hukum yang menyatakan Chanel maupun merek-merek lain bersalah dalam kasus tersebut. Proses investigasi masih berlangsung dan pihak berwenang terus mengumpulkan bukti terkait dugaan pelanggaran yang terjadi.

Terlepas dari hasil akhirnya nanti, dua kontroversi ini kembali menunjukkan bahwa industri fashion mewah tidak hanya dituntut menghadirkan produk berkualitas tinggi, tetapi juga memastikan praktik bisnis yang transparan, berkelanjutan, dan menghormati hak-hak pekerja di seluruh rantai produksinya.

  • Chanel
  • Skandal Chanel

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.