Lionel Messi Mendadak Dibenci, Imbas Argentina Kalah di Piala Dunia 2026?

Rabu, 22 Jul 2026, 16:30 WIB

JAKARTA, UCANTIK.COM - Lionel Messi menjadi salah satu nama yang paling banyak diperbincangkan sepanjang Piala Dunia 2026. Namun, kali ini sorotan yang diterima kapten Timnas Argentina tidak hanya datang dari penampilannya di lapangan, tetapi juga dari derasnya kritik yang membanjiri media sosial.

Berbeda dengan Piala Dunia 2022 ketika banyak penggemar berharap Messi akhirnya mengangkat trofi juara, atmosfer pada edisi 2026 justru berubah drastis. Berbagai potongan video, cuplikan pertandingan, hingga komentar di media sosial membuat nama sang megabintang kerap dikaitkan dengan kontroversi. Bahkan, sejumlah unggahan memberi label seperti cheat hingga villain kepada peraih delapan Ballon dOr tersebut.

Perubahan sentimen itu semakin menguat setelah Argentina gagal mempertahankan gelar juara usai kalah dari Spanyol di partai final. Sejumlah insiden, mulai dari keputusan wasit, pelanggaran di lapangan, selebrasi pemain, hingga kericuhan setelah pertandingan, menjadi bahan perdebatan yang terus bergulir di berbagai platform digital.

Meski tidak selalu terlibat langsung dalam setiap kontroversi, Messi tetap menjadi sosok yang paling sering disorot. Banyak warganet mengaitkan berbagai insiden dengan dirinya, sehingga kritik terhadap sang kapten semakin meluas.

Fenomena tersebut turut dianalisis oleh Rosie, seorang analis dan content strategist yang aktif mengamati dinamika narasi di media sosial. Menurutnya, perubahan cara publik memandang Messi tidak semata-mata dipengaruhi oleh performa di lapangan, tetapi juga oleh cara informasi disajikan dan disebarkan di internet.

Rosie menjelaskan algoritma media sosial cenderung memprioritaskan konten yang memicu emosi kuat, seperti kemarahan, perdebatan, atau kontroversi. Konten semacam itu biasanya menghasilkan lebih banyak komentar, dibagikan lebih sering, dan akhirnya menjangkau audiens yang lebih luas.

Ia menilai narasi tidak selalu dibangun melalui informasi yang sepenuhnya salah. Dalam banyak kasus, sebuah video atau foto memang berasal dari kejadian nyata, tetapi hanya menampilkan sebagian kecil dari keseluruhan peristiwa. Potongan tersebut kemudian diberi judul atau keterangan yang mengarahkan penonton pada kesimpulan tertentu tanpa menghadirkan konteks secara utuh.

Selama Piala Dunia 2026, berbagai cuplikan pertandingan Argentina beredar dalam banyak versi. Ketika potongan serupa terus muncul berulang kali, sebagian pengguna media sosial dapat mulai menganggap narasi tersebut sebagai fakta, meskipun belum menyaksikan pertandingan secara lengkap.

Rosie juga mengaitkan fenomena ini dengan penelitian Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang menganalisis sekitar 126.000 rangkaian berita di Twitter selama 11 tahun. Studi tersebut menemukan bahwa informasi palsu dapat menyebar lebih jauh, lebih cepat, dan memiliki peluang sekitar 70 persen lebih besar untuk dibagikan dibandingkan informasi yang benar.

Meski demikian, Rosie tidak menyatakan bahwa seluruh kritik terhadap Messi merupakan hasil kampanye yang terorganisasi. Ia menegaskan analisanya hanya menjelaskan pola umum mengenai bagaimana opini publik dapat terbentuk dan diperkuat melalui media sosial, tanpa menyimpulkan adanya operasi tertentu di balik seluruh sentimen negatif tersebut.

Ia juga menyinggung fenomena psikologis yang dikenal sebagai illusory truth effect, yakni kecenderungan seseorang mempercayai suatu informasi karena terus-menerus melihatnya di berbagai tempat, meskipun kebenarannya belum terbukti.

Menurut Rosie, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat proses produksi konten menjadi jauh lebih cepat dan murah dibandingkan sebelumnya. Teknologi tersebut memungkinkan pembuatan artikel, gambar, video, hingga komentar dalam jumlah besar, sehingga penyebaran sebuah narasi dapat berlangsung lebih masif.

Sebagai contoh, NewsGuard mencatat jumlah situs berita berbasis AI meningkat sangat pesat, dari puluhan pada 2023 menjadi ribuan situs dalam berbagai bahasa pada pertengahan 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa penyebaran informasi di era digital berlangsung semakin cepat dan kompleks.

Di akhir analisanya, Rosie menegaskan tidak terlalu mengkhawatirkan warisan karier Lionel Messi karena prestasi sang pemain telah tercatat selama lebih dari dua dekade. Namun, ia mengingatkan bahwa kemampuan media sosial dan teknologi AI dalam membentuk persepsi publik menjadi tantangan yang jauh lebih besar dan patut mendapat perhatian di masa depan.

  • Messi
  • Piala Dunia 2026

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.