Dugaan Hasutan pada Ruben Onsu Viral, Psikolog Soroti Dampak Emosional Anak di Tengah Konflik Orang Tua

Rabu, 22 Jul 2026, 16:05 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Perseteruan antara Ruben Onsu dan Sarwendah setelah perceraian kembali menjadi perhatian publik. Selain membahas persoalan hak asuh anak, munculnya pernyataan Betrand Peto membuat isu keluarga tersebut semakin ramai diperbincangkan.

Dalam sebuah unggahan di media sosial, Betrand mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kondisi hubungan anak-anak dengan kedua orang tua mereka. Ia menyebut adanya dugaan pihak keluarga Sarwendah yang berusaha memengaruhi pandangan anak-anak terhadap Ruben Onsu.

Pernyataan tersebut kemudian menuai berbagai reaksi masyarakat. Di tengah ramainya perdebatan, psikolog Rahma Kusuma Fitri memberikan pandangan mengenai dampak konflik perceraian terhadap kondisi psikologis anak.

Menurut Rahma, anak sering menjadi pihak yang paling rentan ketika orang tua mengalami konflik berkepanjangan. Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan utama anak bukan hanya soal bersama siapa mereka tinggal, melainkan bagaimana mereka tetap mendapatkan rasa aman dan hubungan emosional yang sehat dengan kedua orang tua.

Rahma yang juga merupakan dosen Program Studi Psikologi Universitas Islam Mulia Yogyakarta menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan teori attachment atau keterikatan emosional yang diperkenalkan oleh psikolog John Bowlby.

Dalam teori tersebut, anak membutuhkan keyakinan figur pengasuh utama tetap hadir, memberikan dukungan, dan dapat dipercaya meskipun kondisi keluarga telah berubah.

“Dalam teori attachment yang dikembangkan John Bowlby, anak membutuhkan keyakinan figur pengasuh utama tetap tersedia secara emosional dan dapat dipercaya,” ujar Rahma, Rabu (22/7/2026).

Rahma menegaskan perceraian orang tua tidak selalu menjadi penyebab utama munculnya gangguan psikologis pada anak. Faktor yang lebih menentukan adalah bagaimana orang tua menjaga komunikasi dan hubungan emosional setelah berpisah.

Menurutnya, anak tetap dapat berkembang dengan baik apabila kedua orang tua mampu menciptakan lingkungan yang stabil dan tidak menjadikan anak sebagai bagian dari konflik.

“Yang paling penting bagi anak bukan apakah orang tuanya tinggal bersama atau tidak, melainkan apakah hubungan emosional dengan kedua orang tua tetap terjaga,” jelasnya.

Namun, masalah dapat muncul ketika anak merasa dipaksa memilih salah satu pihak. Kondisi tersebut dikenal sebagai loyalty conflict atau konflik kesetiaan.

Rahma menjelaskan konflik kesetiaan terjadi ketika anak merasa mencintai salah satu orang tua berarti harus menjauh atau mengkhianati orang tua lainnya.

“Apabila anak terus-menerus menerima desakan ia harus memilih salah satu pihak, anak dapat mengalami konflik kesetiaan,” ungkap Rahma.

Dampaknya, anak dapat mengalami tekanan emosional seperti kecemasan, rasa bersalah, kebingungan, hingga kesulitan membangun kepercayaan dalam hubungan sosial.

Tidak hanya berdampak pada kondisi mental, stres akibat konflik keluarga juga dapat muncul melalui gejala fisik. Beberapa anak bisa mengalami gangguan tidur, sakit kepala, mual, sakit perut, hingga penurunan kemampuan berkonsentrasi dan prestasi akademik.

Rahma yang juga merupakan psikolog klinis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta mengingatkan orang tua perlu menjaga agar anak tidak menjadi pihak yang harus menanggung konflik antara mereka.

Pernyataan Betrand Peto yang Memicu Perhatian Publik

Sebelumnya, Betrand Peto membuat publik heboh setelah mengunggah curahan hati melalui akun Instagram pribadinya pada Juni 2026.

Dalam unggahan tersebut, Betrand menyinggung perpisahan Ruben Onsu dan Sarwendah serta menyampaikan tudingan terkait adanya pihak keluarga yang dianggap memengaruhi hubungan anak-anak dengan sang ayah.

Betrand menyebut tindakan tersebut berdampak terhadap pandangan anak-anak kepada Ruben sebagai seorang ayah.

Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya adik-adiknya telah terpengaruh oleh konflik orang dewasa yang terjadi di sekitar mereka.

Pernyataan Betrand kemudian memunculkan berbagai tanggapan dari publik. Meski demikian, isu tersebut masih berada dalam ranah klaim masing-masing pihak dan perlu dilihat secara objektif tanpa melibatkan anak lebih jauh dalam konflik orang dewasa.

Kasus ini kembali menjadi pengingat dalam setiap konflik perceraian, kepentingan dan kesehatan emosional anak seharusnya menjadi perhatian utama. Dukungan, komunikasi yang sehat, serta hubungan positif dengan kedua orang tua menjadi faktor penting agar anak tetap merasa aman dalam menghadapi perubahan keluarga.

Ket. Foto: Ruben Onsu dan Sarwendah. — Sumber: Istimewa
  • Ruben Onsu
  • Sarwendah

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.