Sarwendah Makin Tertekan? Karyawan Ungkap Kondisi Mental usai Konflik dengan Ruben Onsu

Ket. Sarwendah.

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Konflik yang melibatkan Sarwendah dan Ruben Onsu masih terus bergulir dan menjadi perhatian publik. Perselisihan yang awalnya berkaitan dengan hak asuh anak dan nafkah kini melebar hingga memicu gelombang reaksi dari warganet. Di tengah tekanan tersebut, kondisi psikologis Sarwendah disebut mengalami penurunan yang cukup serius.

Hal tersebut diungkapkan Nigel, salah satu karyawan Sarwendah, yang baru saja menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Polres Metro Jakarta Selatan pada Selasa (14/7/2026). Pemeriksaan tersebut berkaitan dengan laporan dugaan fitnah dan pencemaran nama baik yang dilayangkan Sarwendah terhadap sejumlah akun media sosial.

Laporan tersebut diketahui didaftarkan pada 26 Juni 2026. Sarwendah menilai sejumlah unggahan di media sosial telah mencemarkan nama baiknya sekaligus berdampak pada keluarganya.

Usai menjalani pemeriksaan, Nigel mengungkapkan mendapat sekitar 27 pertanyaan dari penyidik. Namun, perhatian publik justru tertuju pada pengakuannya mengenai kondisi terbaru sang artis.

Menurut Nigel, Sarwendah saat ini sedang berada dalam fase yang sangat berat secara mental akibat berbagai persoalan yang menimpanya dalam beberapa waktu terakhir.

"Kalau secara mental memang sedang berada di titik paling down," ungkap Nigel kepada awak media.

Ia juga mengaku Sarwendah kini rutin berkonsultasi dengan psikiater sebagai bagian dari upaya mendapatkan pendampingan profesional untuk menjaga kesehatan mentalnya.

Pengakuan tersebut semakin memperlihatkan besarnya tekanan yang dihadapi mantan personel Cherrybelle tersebut di tengah sorotan publik yang tak kunjung mereda.

Nigel mengaku terakhir kali bertemu Sarwendah beberapa hari sebelum dirinya dipanggil penyidik. Meski tidak menjelaskan secara rinci kondisi saat itu, ia menegaskan sang bos sedang berusaha melewati masa-masa sulit yang dialaminya.

Konflik Ruben Onsu dan Sarwendah Semakin Memanas

Perseteruan antara Ruben Onsu dan Sarwendah bermula setelah keduanya resmi bercerai pada 2024. Berdasarkan kesepakatan perceraian, hak asuh anak berada di tangan Sarwendah.

Namun, hubungan keduanya kembali memanas ketika muncul persoalan mengenai akses Ruben untuk bertemu anak-anaknya. Ruben mengaku tidak memperoleh kesempatan yang cukup untuk bertemu buah hatinya.

Situasi tersebut kemudian berkembang menjadi konflik baru mengenai kewajiban nafkah. Ruben disebut menghentikan pemberian nafkah bulanan sebesar Rp225 juta sebagai bentuk protes atas persoalan hak bertemu anak.

Di sisi lain, kubu Sarwendah menilai Ruben telah mengabaikan tanggung jawabnya sebagai ayah. Polemik itu pun semakin ramai dibicarakan setelah sejumlah video Sarwendah yang diduga berisi sindiran terhadap Ruben viral di media sosial.

Konten-konten tersebut memancing perdebatan panjang di kalangan netizen dan memicu gelombang komentar yang semakin memperkeruh suasana.

Ruben Onsu Pilih Fokus Jalur Hukum

Di tengah munculnya berbagai reaksi publik, Ruben Onsu memilih tidak ikut menanggapi petisi boikot yang ditujukan kepada mantan istrinya.

Melalui kuasa hukumnya, Minola Sebayang, Ruben disebut lebih memusatkan perhatian pada proses hukum terkait gugatan hak asuh anak yang kini sedang bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Menurut Minola, setiap komunikasi yang dilakukan bersama Ruben setelah kembali ke Indonesia lebih banyak membahas strategi hukum dan persiapan bukti untuk mendukung gugatan tersebut.

Kuasa hukum Ruben juga menyebut pihaknya telah menyiapkan berbagai dokumen dan bukti yang nantinya akan diajukan di persidangan.

Mereka menilai fokus utama Ruben saat ini adalah memperjuangkan kepentingan anak-anak melalui jalur hukum, bukan menanggapi dinamika yang berkembang di media sosial.

Gelombang Petisi Boikot Terus Bertambah

Di tengah konflik yang belum menemukan titik terang, Sarwendah juga menghadapi tekanan lain berupa munculnya sejumlah petisi boikot di platform Change.org.

Tercatat ada tiga petisi berbeda yang menyerukan penghentian dukungan terhadap Sarwendah, yaitu "Cancel Sarwendah dari Media Sosial", "Boikot Sarwendah", dan "Boikot/Cancel Sarwendah untuk Semua Media Sosial dan Televisi".

Petisi dengan jumlah dukungan terbesar berhasil mengumpulkan lebih dari 74 ribu tanda tangan. Sementara petisi kedua memperoleh lebih dari 21 ribu dukungan, sedangkan petisi ketiga masih mengumpulkan puluhan tanda tangan.

Isi petisi tidak hanya menyerukan agar Sarwendah diboikot di media sosial, tetapi juga mengajak berbagai perusahaan dan pelaku usaha mempertimbangkan kembali kerja sama promosi dengannya.

Para penggagas petisi menilai setiap brand memiliki tanggung jawab menjaga citra perusahaan dengan memilih figur publik yang dianggap sesuai dengan nilai dan kepercayaan konsumen.

Mereka juga meminta agar Sarwendah tidak lagi dilibatkan dalam berbagai aktivitas promosi maupun siaran langsung hingga polemik yang sedang menjadi perhatian masyarakat memperoleh penyelesaian yang jelas.

Di sisi lain, proses hukum antara Sarwendah dan Ruben Onsu masih terus berjalan. Sementara publik terus mengikuti setiap perkembangan kasus tersebut, kondisi mental Sarwendah kini menjadi sorotan baru setelah adanya pengakuan dari orang terdekat mengenai upayanya menjalani pendampingan psikiater di tengah tekanan yang datang bertubi-tubi.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN