Masuk 53 Kota Terbaik Dunia, Mengapa 35 Persen Warga Jakarta Belum Terlayani Air Bersih?
JAKARTA, KUCANTIK.COM – Pencapaian Jakarta yang berhasil menembus peringkat ke-53 dalam daftar World's Best Cities 2026 menuai perhatian publik. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut hasil tersebut sebagai bukti ibu kota semakin diperhitungkan di tingkat internasional dan mampu bersaing dengan berbagai kota besar dunia.
Namun, di balik capaian tersebut, masih terdapat persoalan mendasar yang dinilai belum sepenuhnya teratasi. Salah satunya adalah akses air bersih perpipaan yang hingga kini belum dapat dinikmati oleh seluruh warga Jakarta.
Dalam keterangannya di kawasan Senayan, Sabtu (4/7/2026), Pramono Anung mengatakan Jakarta terus menunjukkan perkembangan positif sebagai kota global. Ia mengungkapkan saat dirinya mulai menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, posisi ibu kota berada di peringkat ke-74 dunia.
Dalam kurun waktu sekitar 10 bulan, peringkat tersebut naik ke posisi ke-71. Berdasarkan hasil survei terbaru yang dirilis Resonance Consultancy, lembaga konsultan yang berbasis di Brussel, Belgia, Jakarta kembali melonjak ke peringkat ke-53 dari 100 kota terbaik dunia.
Menurut Pramono, capaian tersebut menempatkan Jakarta di atas sejumlah kota besar dunia, termasuk Washington DC yang berada di posisi ke-57 dan Abu Dhabi di peringkat ke-86. Ia menilai hasil itu mencerminkan meningkatnya daya saing Jakarta sebagai pusat ekonomi nasional sekaligus kota yang terus bertransformasi menuju standar global.
Tak hanya itu, Pramono juga menyampaikan ekonomi Jakarta pada triwulan pertama 2026 tumbuh 5,59 persen, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 16,67 persen. Angka tersebut disebut meningkat dibandingkan periode sebelumnya dan menjadi salah satu modal penting menjelang usia Jakarta yang ke-500 tahun.
Meski demikian, berbagai indikator pelayanan publik masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Salah satu persoalan yang masih banyak dikeluhkan masyarakat adalah ketersediaan air bersih. Berdasarkan data yang ada, cakupan distribusi air minum melalui jaringan perpipaan yang dikelola PAM JAYA hingga saat ini baru mencapai sekitar 65 persen dari target layanan sebesar 100 persen.
Artinya, sekitar 35 persen warga Jakarta masih belum memperoleh akses air bersih melalui jaringan perpipaan. Sebagian masyarakat masih mengandalkan air tanah, sumur, maupun sumber air alternatif lainnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena akses terhadap air minum yang aman merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat sekaligus indikator penting dalam pembangunan perkotaan.
Rekomendasi juga buat kamu:
Di sejumlah wilayah, warga masih menyampaikan berbagai keluhan, mulai dari belum tersambungnya jaringan perpipaan, tekanan air yang tidak stabil, hingga kualitas pasokan yang dinilai belum optimal.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama PAM JAYA sendiri terus melakukan pengembangan jaringan distribusi dengan target memperluas cakupan layanan hingga menjangkau seluruh wilayah Jakarta dalam beberapa tahun mendatang.
Perbedaan antara pengakuan internasional terhadap Jakarta dengan kondisi pelayanan dasar di lapangan kemudian memunculkan berbagai pandangan.
Sebagian pihak menilai keberhasilan Jakarta masuk jajaran kota terbaik dunia merupakan pencapaian yang layak diapresiasi karena mempertimbangkan berbagai aspek, seperti ekonomi, investasi, inovasi, mobilitas, hingga daya tarik kota.
Namun, tidak sedikit yang berpendapat bahwa predikat kota terbaik juga semestinya diiringi dengan terpenuhinya layanan dasar bagi seluruh masyarakat, seperti akses air bersih, sanitasi, transportasi publik, hingga kualitas lingkungan.
Bagi banyak warga, kualitas hidup sehari-hari tidak hanya ditentukan tingginya investasi atau posisi dalam pemeringkatan internasional, tetapi juga oleh kemudahan memperoleh layanan publik yang memadai.
Karena itu, meskipun Jakarta berhasil mencatat lonjakan peringkat dalam daftar World's Best Cities 2026, pemerataan pelayanan publik tetap menjadi tantangan yang perlu terus mendapat perhatian.
Peningkatan daya saing global dinilai akan semakin bermakna apabila berjalan seiring dengan percepatan penyediaan layanan dasar yang merata bagi seluruh warga.
Dengan demikian, keberhasilan Jakarta di panggung internasional tidak hanya tercermin dari angka dalam pemeringkatan, tetapi juga dari meningkatnya kualitas hidup masyarakat yang merasakan langsung manfaat pembangunan di ibu kota.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Masuk 53 Kota Terbaik Dunia, Mengapa 35 Persen Warga Jakarta Belum Terlayani Air Bersih? .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!