Takhta Kekaisaran Jepang Memanas! Wacana Putri Aiko Jadi Kaisar Perempuan Picu Perdebatan, Politikus Soroti Pernikahan
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Wacana menjadikan Putri Aiko sebagai penerus Takhta Kekaisaran Jepang kembali memicu perdebatan. Di tengah semakin berkurangnya anggota keluarga kekaisaran, muncul usulan agar perempuan diberi kesempatan menjadi kaisar. Namun, pandangan tersebut masih menuai penolakan dari kalangan konservatif.
Polemik terbaru mencuat setelah anggota parlemen senior dari Partai Demokrat Liberal (LDP), Hirofumi Nakasone, menyampaikan pendapat kontroversial terkait peluang Putri Aiko menjadi penerus takhta. Menurutnya, langkah tersebut justru akan menimbulkan persoalan baru, termasuk dalam kehidupan pribadi sang putri.
Putri Aiko merupakan anak tunggal Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako. Meski berada di garis keluarga inti kekaisaran, perempuan berusia 24 tahun tersebut tidak dapat mewarisi takhta berdasarkan aturan yang berlaku saat ini karena sistem suksesi hanya mengizinkan keturunan laki-laki dari garis ayah menjadi kaisar.
Dalam pidato di Takaoka, Prefektur Toyama, Hirofumi Nakasone mengatakan jika Putri Aiko diangkat menjadi kaisar sebelum menikah, situasinya akan menyulitkan siapa pun yang ingin menjadi pendamping hidupnya.
Menurut Nakasone, calon suami Putri Aiko akan menghadapi tekanan yang sangat besar karena harus mendampingi seorang kaisar. Ia juga menilai Putri Aiko nantinya akan mendapat tuntutan untuk melahirkan pewaris laki-laki demi menjaga keberlangsungan dinasti kekaisaran.
Pernyataan tersebut langsung menjadi sorotan publik karena dianggap mencerminkan perdebatan panjang mengenai peran perempuan dalam sistem monarki Jepang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Saat ini, aturan suksesi Kekaisaran Jepang masih mengacu pada Undang-Undang Rumah Tangga Kekaisaran 1947. Aturan tersebut secara tegas membatasi hak pewaris takhta hanya kepada keturunan laki-laki dari garis ayah.
Kondisi ini membuat Putri Aiko tidak memenuhi syarat menjadi penerus, meskipun ia merupakan anak satu-satunya Kaisar Naruhito. Di sisi lain, jumlah anggota keluarga kekaisaran terus menyusut sehingga memunculkan kekhawatiran mengenai keberlangsungan institusi monarki Jepang di masa depan.
Sejumlah pihak mendorong agar pemerintah mengubah aturan tersebut dengan membuka peluang bagi perempuan untuk naik takhta. Dukungan publik terhadap gagasan itu juga tergolong tinggi berdasarkan berbagai hasil jajak pendapat dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, Hirofumi Nakasone menegaskan persoalan suksesi tidak bisa ditentukan berdasarkan popularitas.
"Ini bukanlah pemungutan suara popularitas. Ini tentang siapa yang akan mewarisi takhta kaisar negara, dan kita harus mendiskusikannya dengan tenang berdasarkan hukum," ujarnya.
Di tengah perdebatan tersebut, nama Pangeran Hisahito tetap menjadi kandidat terkuat penerus Takhta Krisan. Hisahito merupakan putra bungsu Pangeran Mahkota Akishino sekaligus keponakan Kaisar Naruhito.
Pangeran Hisahito menjadi satu-satunya pewaris laki-laki dari generasi muda keluarga kekaisaran. Ia juga mencatat sejarah sebagai anggota keluarga kerajaan Jepang pertama yang mencapai usia 18 tahun dalam kurun waktu sekitar 40 tahun.
Dengan kondisi keluarga kekaisaran yang kini hanya beranggotakan 17 orang, perdebatan mengenai perubahan aturan suksesi diperkirakan akan terus berlanjut. Hingga kini, pemerintah Jepang masih belum mengambil keputusan untuk merevisi Undang-Undang Rumah Tangga Kekaisaran yang telah berlaku selama puluhan tahun.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Takhta Kekaisaran Jepang Memanas! Wacana Putri Aiko Jadi Kaisar Perempuan Picu Perdebatan, Politikus Soroti Pernikahan .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!