Mengenal 'Flamengo Era': Fase Ketika Ibu Merasa Kehilangan Diri Sendiri

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM -  Menjadi seorang ibu adalah perjalanan luar biasa yang penuh dengan kebahagiaan.

Namun, jujur saja, di balik senyuman saat melihat tumbuh kembang si kecil, banyak ibu yang diam-diam merasa lelah, stres, hingga merasa asing dengan dirinya sendiri.

Dalam dunia psikologi pengasuhan, kondisi emosional ini punya istilah yang sangat indah sekaligus menyentuh, yakni Flamingo Era.

Terinspirasi dari Burung Flamingo yang Memudar

Istilah ini tidak muncul begitu saja, melainkan diambil dari fenomena alam yang dialami oleh burung flamingo. Tahukah Mommies kalau burung flamingo sebenarnya bisa kehilangan warna merah muda cerahnya yang indah?

Saat merawat dan menyusui bayinya dengan crop milk (susu tembolok yang kaya protein dan lemak), seluruh energi dan nutrisi induk flamingo terkuras habis. Akibatnya, pigmen merah muda pada bulunya perlahan memudar, membuat tubuh si induk tampak pucat dan lelah.

Persis seperti burung flamingo, seorang ibu di dunia nyata sering kali mencurahkan 100% waktu, tenaga, pikiran, dan kasih sayangnya hanya untuk anak. Demi memenuhi kebutuhan keluarga, banyak ibu yang rela menunda impian, melupakan hobi, hingga mengorbankan waktu istirahatnya sendiri. Tanpa sadar, mereka merasa kehilangan "warna" hidup atau semangat yang dulu pernah mereka miliki sebelum punya anak.

Dua Emosi yang Saling Berperang

Berada di fase Flamingo Era artinya seorang ibu harus menghadapi dua perasaan yang bertolak belakang secara bersamaan. Di satu sisi, ada rasa bahagia dan cinta yang luar biasa melihat anak tumbuh sehat. Namun di sisi lain, ada rasa sepi, lelah yang menumpuk, dan kerinduan mendalam untuk kembali menemukan identitas pribadi yang sempat terabaikan.

Fase ini sangat wajar terjadi, terutama pada masa-masa awal pernikahan dan mengurus anak yang masih kecil.

"Warna" yang Pudar Itu Akan Kembali

Kabar baiknya, konsep Flamingo Era bukan sekadar membahas tentang kehilangan atau pengorbanan. Konsep ini adalah sebuah simbol harapan.

Sama seperti burung flamingo yang bulunya akan kembali berwarna merah muda cerah setelah anaknya tumbuh mandiri, seorang ibu juga punya kesempatan yang sama. Seiring berjalannya waktu, ketika anak mulai besar, ibu akan mendapatkan kembali waktunya untuk merawat diri, mengejar mimpi yang tertunda, dan membangun versi dirinya yang baru.

Flamingo Era mengajarkan kita satu hal penting: mencintai anak bukan berarti harus berhenti mencintai diri sendiri. Merawat diri (self-care) atau mengambil waktu sejenak untuk egois demi kesehatan mental bukanlah tanda bahwa seorang ibu egois atau kurang kasih sayang. Justru, itu adalah cara terbaik untuk mengisi kembali "energi" dan "warna" yang sempat pudar, agar bisa menjadi ibu yang lebih bahagia dan kuat untuk anak-anak tercinta.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN