Pemerintah Diminta Segera Sesuaikan Harga BBM Nonsubsidi

Doc: istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Awan Santosa, meminta pemerintah segera merespons penurunan harga minyak mentah dunia dalam beberapa waktu terakhir dengan menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi.

“Langkah tersebut penting untuk meringankan beban ekonomi masyarakat.Setelah harga minyak mentah dunia turun semestinya harga BBM nonsubsidi juga diturunkan. Hal ini untuk mengurangi beban ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat, termasuk kelas menengah,” kata Awan, Minggu (28/6).

Menurut Awan, BBM non subsidi seperti Pertamax, Shell V-Power, atau BP 92 lebih banyak digunakan oleh masyarakat kelas menengah ke atas. Namun demikian, dampak kenaikan harga BBM jenis ini tetap terasa luas karena memengaruhi biaya transportasi dan logistik.

“Jika harga BBM nonsubsidi turun, efek berantainya akan terasa. Biaya distribusi barang bisa lebih rendah, inflasi bisa lebih terjaga, dan pada akhirnya daya beli masyarakat bisa kembali menguat,” jelasnya.

Awan menambahkan, penurunan harga BBM nonsubsidi juga menjadi bentuk keadilan harga yang sejalan dengan tren pasar global. Pemerintah, katanya, perlu lebih responsif agar kepercayaan publik terhadap kebijakan energi tetap terjaga.

Penurunan harga minyak mentah dunia dalam beberapa pekan terakhir seharusnya segera direspons pemerintah dengan menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi pada Juli 2026.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Digital Economy Center, Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai harga BBM nonsubsidi harus mengikuti tren harga minyak global.

“Seperti yang mereka sampaikan, harga BBM nonsubsidi sudah seharusnya mengikuti harga rata-rata minyak mentah global dalam periode tertentu. Misal dalam sebulan ini, rata-rata harga minyak mentah global lebih rendah dibandingkan bulan kemarin, maka ya harusnya Juli nanti akan ada penurunan harga BBM nonsubsidi,” kata Nailul.

Nailul juga menyorot harga MOPS atau Means of Platts Singapore yang menjadi acuan impor BBM. Menurutnya, MOPS dipastikan akan ikut turun seiring koreksi harga minyak mentah global.

“Jadi saya rasa pemerintah seharusnya menurunkan harga BBM nonsubsidi sesegera mungkin,” tegasnya.

Ia menambahkan, penurunan harga BBM nonsubsidi akan memberi dampak langsung bagi kelas menengah yang menjadi pengguna utama jenis BBM seperti Pertamax. Harapannya ketika harga BBM non subsidi turun, kelas menengah bisa merasakan dampak yang signifikan.

“Saya yakin, sebagian pendapatan kelas menengah banyak yang ditahan agar tidak dikonsumsi. Penurunan harga BBM non subsidi, saya rasa bisa memberikan angin segar bagi kelas menengah,” jelas Nailul.

Momentum Transisi Energi

Lebih lanjut, Nailul menilai situasi geopolitik yang mulai mereda, seperti dibukanya Selat Hormuz dan meredanya ketegangan di Timur Tengah, harus dimanfaatkan pemerintah untuk mempercepat transisi energi.

“Selain menyesuaikan harga BBM non subsidi, dibukanya selat hormuz dan sedikit redanya ketegangan di timur tengah, pemerintah harus fokus untuk menerapkan energi yang lebih bersih dan tidak tergantung pada impor energi. Momentum kemarin, ketika harga tinggi seharusnya bisa dimanfaatkan untuk percepatan transisi energi seharusnya,” katanya.

Nailul mengakui transisi energi di Indonesia masih jauh dari selesai. “Transisi energi di Indonesia masih jauh dari kata ‘beres’. Akhirnya, lagi-lagi akan tergantung dari impor energi,” pungkasnya.ers/E-9

Komentar (0)

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN