Fenomena Ustazah AI Viral di TikTok, Dakwah Digital atau Ancaman Baru?

Ket. Fenomena ustazah AI yang menuai pro dan kontra

Doc: TikTok/@nia.hajar_s

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Media sosial kembali diramaikan dengan kemunculan akun TikTok @nia.hajar_s yang berisi konten ceramah agama.

Akun tersebut berhasil menarik perhatian publik dengan capaian yang sangat besar, yakni sekitar 864 ribu pengikut dan lebih dari 9,8 juta tanda suka.

Setiap unggahan videonya mampu meraih ratusan ribu hingga jutaan penonton, menjadikannya salah satu akun dakwah yang sedang ramai diperbincangkan.

Namun, di balik popularitasnya, terungkap fakta yang mengejutkan. Sosok yang dikenal sebagai “Kak Hajar” ternyata bukan manusia sungguhan.

Seluruh tampilan wajah, ekspresi, suara, hingga gerakan dalam video merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Sekilas, tidak ada yang mencurigakan. Penampilan Kak Hajar terlihat seperti ustazah pada umumnya, lengkap dengan cara berbicara yang tenang dan penyampaian materi yang terstruktur.

Justru karena tingkat realisme yang sangat tinggi inilah fenomena tersebut memicu perdebatan luas di kalangan netizen, praktisi teknologi, hingga pemerhati agama.

Tuai Kekhawatiran

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah kemampuan AI menciptakan figur yang nyaris tidak bisa dibedakan dari manusia asli.

Banyak pengguna media sosial mengaku baru mengetahui bahwa sosok tersebut merupakan karakter virtual setelah membaca berbagai diskusi di internet.

Sebelum itu, mereka mengira sedang menyimak ceramah dari seorang ustazah sungguhan.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kepercayaan publik terhadap konten keagamaan di era digital.

Selama ini, masyarakat cenderung mengaitkan ceramah agama dengan sosok nyata yang memiliki latar belakang pendidikan, pengalaman, serta rekam jejak yang jelas.

Kehadiran figur AI yang mampu berbicara layaknya manusia berpotensi mengaburkan batas antara pendakwah asli dan karakter digital.

Selain itu, banyak pihak menilai bahwa dakwah tidak hanya sebatas menyampaikan teks atau kutipan agama.

Dakwah juga mencakup keteladanan, pengalaman hidup, akhlak, dan tanggung jawab moral dari seorang ulama atau pendakwah.

Nilai-nilai tersebut sulit direpresentasikan oleh algoritma yang bekerja berdasarkan data dan pemrograman.

Perdebatan semakin menguat ketika membahas kemungkinan terjadinya kesalahan dalam penyampaian materi agama.

Jika terdapat kekeliruan tafsir, kutipan yang tidak akurat, atau informasi yang menyesatkan, publik akan kesulitan menentukan siapa yang harus bertanggung jawab.

Berbeda dengan pendakwah manusia yang identitasnya jelas, karakter AI tidak memiliki otoritas maupun tanggung jawab personal.

Inovasi dalam Bersyi'ar

Di sisi lain, sebagian kalangan melihat teknologi ini sebagai inovasi yang dapat memperluas jangkauan edukasi keagamaan.

AI mampu menghasilkan konten secara cepat, konsisten, dan menjangkau audiens yang sangat luas.

Namun manfaat tersebut tetap harus diimbangi dengan transparansi mengenai penggunaan teknologi serta pengawasan terhadap isi materi yang disampaikan.

Fenomena akun TikTok @nia.hajar_s menunjukkan bahwa perkembangan AI telah memasuki ranah yang sangat sensitif, termasuk bidang keagamaan.

Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya soal kecanggihan teknologi, melainkan bagaimana masyarakat mampu membedakan antara figur nyata dan figur virtual, serta memastikan bahwa informasi yang diterima tetap dapat dipertanggungjawabkan secara moral maupun intelektual.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN