6 Pantangan di Bulan Suro yang Masih Dipercaya Masyarakat Jawa, Dari Larangan Menikah hingga Pindah Rumah

Ket. Pantangan di Bulan Suro.

Doc: istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM – Bulan Suro atau Sura merupakan bulan pertama dalam kalender Jawa yang memiliki makna khusus bagi sebagian masyarakat. Bulan ini sering dikaitkan dengan nilai-nilai spiritual, introspeksi diri, serta berbagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Penanggalan Jawa sendiri merupakan perpaduan antara kalender Saka dan kalender Hijriah. Dalam tradisi masyarakat Jawa, Bulan Suro dianggap sebagai waktu yang sakral sehingga terdapat sejumlah pantangan yang diyakini perlu dihindari agar terhindar dari kesialan atau gangguan dalam kehidupan.

Meski perkembangan zaman semakin modern, sejumlah kepercayaan tersebut masih dipegang oleh sebagian masyarakat, terutama di wilayah yang masih kuat menjaga tradisi leluhur.

1. Tidak Dianjurkan Menggelar Pernikahan

Salah satu pantangan yang paling dikenal saat Bulan Suro adalah larangan menyelenggarakan pesta pernikahan. Banyak masyarakat Jawa meyakini bahwa mengadakan pernikahan pada bulan ini kurang baik karena dianggap berpotensi mendatangkan hambatan dalam kehidupan rumah tangga.

Kepercayaan tersebut muncul karena Bulan Suro dianggap sebagai masa yang lebih tepat digunakan untuk refleksi dan kegiatan spiritual dibandingkan perayaan besar. Karena alasan itu, banyak pasangan memilih menunda pesta pernikahan hingga bulan berikutnya.

2. Menghindari Pembangunan Rumah

Selain pernikahan, memulai pembangunan rumah juga termasuk aktivitas yang sering dihindari selama Bulan Suro. Dalam kepercayaan Jawa, pembangunan rumah yang dimulai pada bulan ini dipercaya kurang membawa keberuntungan bagi pemiliknya.

Oleh karena itu, sebagian masyarakat lebih memilih menunggu waktu lain yang dianggap lebih baik sebelum memulai proses pembangunan tempat tinggal.

3. Pantangan Pindah Tempat Tinggal

Tradisi Jawa juga mengenal larangan pindah rumah selama Bulan Suro. Aktivitas berpindah tempat tinggal diyakini dapat membawa berbagai hambatan atau ketidakberuntungan apabila dilakukan pada periode tersebut.

Meski demikian, pandangan ini lebih banyak didasarkan pada kepercayaan budaya dan tidak memiliki dasar ilmiah yang dapat dibuktikan secara pasti.

4. Mengurangi Perjalanan Jauh yang Tidak Mendesak

Sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa Bulan Suro merupakan waktu yang kurang tepat untuk melakukan perjalanan jauh tanpa kepentingan penting. Mereka meyakini risiko mengalami kendala atau kejadian yang tidak diinginkan bisa lebih besar dibandingkan waktu lainnya.

Karena itu, banyak orang memilih membatasi aktivitas bepergian dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga atau mengikuti kegiatan keagamaan serta tradisi lokal.

5. Menjaga Ucapan dan Perilaku

Bulan Suro juga identik dengan ajakan untuk menjaga sikap, perkataan, dan perilaku sehari-hari. Mengucapkan kata-kata kasar, menghina orang lain, atau berbicara sembarangan dianggap tidak sesuai dengan nilai kesakralan bulan tersebut.

Tradisi ini pada dasarnya mengajarkan pentingnya menjaga etika dan menghormati sesama, sehingga banyak orang memanfaatkannya sebagai momentum untuk memperbaiki diri.

6. Menghindari Memotong Rambut dan Kuku pada Malam Hari

Pantangan lain yang masih sering dibicarakan adalah larangan memotong rambut maupun kuku, terutama saat malam hari di Bulan Suro. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, kebiasaan tersebut dipercaya dapat membawa energi kurang baik atau mengundang hal-hal yang tidak diinginkan.

Walaupun tidak didukung bukti ilmiah, tradisi ini tetap bertahan sebagai bagian dari warisan budaya yang masih dijalankan oleh sebagian masyarakat hingga sekarang.

Tradisi yang Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi

Berbagai pantangan di Bulan Suro pada dasarnya merupakan bagian dari budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan selama bertahun-tahun. Sebagian masyarakat masih memegang teguh kepercayaan tersebut, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai tradisi yang tidak harus diikuti secara mutlak.

Terlepas dari perbedaan pandangan, Bulan Suro tetap menjadi salah satu momen penting dalam budaya Jawa yang sarat makna spiritual, refleksi diri, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN