Terlalu Banyak Minum Air Saat Marathon Bisa Berujung Fatal, Pelari Wajib Tahu Risikonya

Ket. Ilustrasi wanita yang sedang minum saat melakukan marathon.

Doc: Gemini AI

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Banyak orang percaya semakin banyak minum air saat berolahraga, semakin baik pula untuk kesehatan tubuh. Namun, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar. Dalam olahraga ketahanan seperti marathon, minum air secara berlebihan justru dapat memicu masalah kesehatan serius yang berpotensi membahayakan nyawa.

Di tengah meningkatnya popularitas lari jarak jauh dan marathon, para ahli kesehatan olahraga mengingatkan bahwa pelari tidak hanya perlu mewaspadai dehidrasi, tetapi juga risiko overhidrasi atau kelebihan cairan dalam tubuh.

Kondisi ini sering kali luput dari perhatian karena banyak pelari lebih fokus menghindari kekurangan cairan dibandingkan memahami batas aman konsumsi air selama perlombaan.

Bahaya Minum Air Terlalu Banyak Saat Marathon

Saat berlari dalam waktu lama, tubuh memang kehilangan cairan melalui keringat. Karena itu, mengganti cairan yang hilang sangat penting untuk menjaga performa dan mencegah dehidrasi.

Namun, jika seseorang terus-menerus minum air dalam jumlah besar tanpa memperhatikan kebutuhan tubuhnya, kadar natrium atau garam dalam darah bisa menurun drastis. Kondisi ini dikenal sebagai hiponatremia terkait olahraga (Exercise-Associated Hyponatremia/EAH).

Hiponatremia terjadi ketika darah menjadi terlalu encer akibat kelebihan cairan. Akibatnya, keseimbangan elektrolit tubuh terganggu dan sel-sel tubuh mulai menyerap terlalu banyak air.

Dalam kasus ringan, kondisi ini dapat menyebabkan rasa mual, pusing, kram otot, hingga sakit kepala. Namun dalam kasus yang lebih serius, hiponatremia dapat memicu pembengkakan otak, kejang, kehilangan kesadaran, bahkan kematian.

Mengapa Pelari Marathon Rentan Mengalaminya?

Pelari marathon termasuk kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami overhidrasi karena durasi aktivitas yang panjang.

Banyak peserta lomba beranggapan bahwa mereka harus minum di setiap pos air meskipun tidak merasa haus. Akibatnya, jumlah cairan yang masuk ke tubuh melebihi cairan yang keluar melalui keringat.

Selain itu, faktor seperti cuaca dingin, kecepatan lari yang lebih lambat, serta durasi lomba yang panjang juga dapat meningkatkan risiko hiponatremia.

Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa kasus hiponatremia lebih sering ditemukan pada peserta marathon dibandingkan cabang olahraga ketahanan lainnya.

Gejala yang Tidak Boleh Diabaikan

Salah satu tantangan terbesar dalam mengenali hiponatremia adalah gejalanya sering mirip dengan dehidrasi.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Mual dan muntah
- Sakit kepala
- Tubuh terasa lemas
- Kebingungan atau sulit berkonsentrasi
- Kram otot
- Pembengkakan pada tangan dan kaki
- Pusing berlebihan
- Kejang pada kasus berat

Jika gejala tersebut muncul saat atau setelah marathon, pelari sebaiknya segera mencari bantuan medis.

Cara Minum yang Tepat Saat Marathon

Para ahli olahraga menyarankan agar pelari tidak memaksakan diri untuk minum dalam jumlah tertentu hanya karena mengikuti aturan umum.

Pendekatan yang kini banyak direkomendasikan adalah minum sesuai rasa haus. Tubuh memiliki mekanisme alami untuk memberi sinyal kapan membutuhkan cairan.

Selain air putih, pelari juga disarankan mengonsumsi minuman yang mengandung elektrolit, terutama pada lomba berdurasi panjang. Elektrolit seperti natrium membantu menjaga keseimbangan cairan dan fungsi saraf selama aktivitas fisik berat.

Sebelum mengikuti marathon, penting juga untuk memahami kebutuhan cairan pribadi melalui latihan rutin. Setiap orang memiliki tingkat keringat dan kebutuhan hidrasi yang berbeda.

Keseimbangan Adalah Kunci

Dalam olahraga marathon, dehidrasi memang berbahaya, tetapi kelebihan cairan juga bukan solusi yang tepat. Keduanya dapat menurunkan performa dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Karena itu, pelari perlu memahami hidrasi bukan soal minum sebanyak mungkin, melainkan menjaga keseimbangan cairan tubuh agar tetap optimal selama berlari.

Dengan strategi hidrasi yang tepat, tubuh dapat bekerja lebih efisien, performa tetap terjaga, dan risiko komplikasi kesehatan saat marathon dapat diminimalkan. Jadi, sebelum mengikuti lomba lari berikutnya, pastikan Cantiks tidak hanya membawa botol minum, tetapi juga memahami kapan dan berapa banyak cairan yang benar-benar dibutuhkan tubuh.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN