Awas! Terlalu Semangat Olahraga Bisa Picu Gagal Ginjal, Ini Fakta Mengerikan yang Jarang Disadari

Ket. Sekumpulan wanita melakukan olahraga hyrox.

Doc: Instagram/@hyroxina

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Olahraga selama ini dikenal sebagai kunci utama untuk menjaga kesehatan tubuh dan meningkatkan kualitas hidup. Namun siapa sangka, olahraga, aktivitas yang dianggap menyehatkan ini justru bisa berubah menjadi ancaman serius jika dilakukan secara berlebihan.

Fenomena ini menjadi sorotan setelah sejumlah kasus menunjukkan latihan fisik yang terlalu intens dapat menyebabkan kerusakan otot parah hingga berujung pada gangguan ginjal. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah rhabdomyolysis atau sering disingkat rhabdo, sebuah gangguan medis yang tidak boleh dianggap sepele.

Salah satu kasus yang menarik perhatian datang dari Amerika Serikat. Seorang wanita bernama Savanna Stebbins harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengikuti kelas bersepeda indoor dengan intensitas tinggi. 

Melalui unggahan media sosial Savanna Stebbins pada Maret 2025, ia mengungkapkan didiagnosis rhabdomyolysis akibat latihan fisik yang terlalu berat.

Kasus serupa juga pernah dialami Atrina Lau di Malaysia pada l 2021. Setelah mencoba sesi latihan spinning atau sepeda statis, kondisi kesehatannya memburuk. 

Pemeriksaan medis menunjukkan kadar kreatin kinase dalam tubuhnya melonjak ke tingkat yang sangat berbahaya. Dokter bahkan memperingatkan tanpa perawatan segera, ia berisiko mengalami gagal ginjal.

Mengapa Olahraga Berlebihan Bisa Merusak Ginjal?

Rhabdomyolysis terjadi ketika jaringan otot mengalami kerusakan ekstrem akibat aktivitas fisik yang terlalu berat atau penggunaan otot secara berlebihan. Saat otot rusak, tubuh melepaskan berbagai zat, termasuk kreatin kinase (CK) dan mioglobin, ke dalam aliran darah.

Masalahnya, mioglobin dalam jumlah besar dapat membebani ginjal dan mengganggu proses penyaringan darah. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi kerusakan ginjal akut yang berpotensi mengancam nyawa.

Tak hanya olahraga berat, rhabdomyolysis juga bisa dipicu cedera fisik serius, seperti kecelakaan lalu lintas, benturan keras, atau trauma yang menyebabkan otot mengalami kerusakan parah.

Meski siapa saja bisa mengalaminya, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi. Atlet, pelari jarak jauh, personel militer, petugas pemadam kebakaran, hingga polisi termasuk kelompok yang kerap melakukan aktivitas fisik ekstrem dan perlu lebih waspada terhadap kondisi ini.

Tanda Rhabdomyolysis, Jangan Diabaikan

Sayangnya, banyak orang menganggap nyeri otot setelah olahraga sebagai hal yang normal. Padahal, ada beberapa gejala yang bisa menjadi sinyal bahaya.

Berikut tanda-tanda rhabdomyolysis yang perlu diwaspadai:

- Nyeri otot atau kram yang jauh lebih parah dari biasanya.

- Otot terasa sangat pegal dan sulit digerakkan.

- Tubuh terasa sangat lemas hingga kesulitan menyelesaikan aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan.

- Urine berubah warna menjadi gelap, menyerupai teh atau cola.

- Penurunan kemampuan fisik secara drastis setelah berolahraga.

Yang perlu diketahui, gejala tidak selalu muncul langsung setelah latihan. Pada beberapa kasus, tanda-tanda baru terlihat beberapa jam bahkan beberapa hari setelah kerusakan otot terjadi.

Karena itu, jangan pernah menganggap remeh rasa sakit yang tidak biasa setelah berolahraga. Penanganan medis yang cepat dapat mencegah komplikasi serius dan meningkatkan peluang pemulihan secara maksimal.

Jangan Terjebak Tren Push The Limit

Di era media sosial, banyak orang berlomba-lomba menunjukkan kemampuan fisik ekstrem demi mencapai target tertentu. Padahal, memaksakan diri tanpa memperhatikan kemampuan tubuh justru bisa menjadi bumerang.

Praktisi kebugaran menekankan pentingnya prinsip "start low, go slow", yaitu memulai latihan dari intensitas rendah dan meningkatkannya secara bertahap sesuai kemampuan tubuh.

Seseorang yang lama tidak berolahraga, misalnya, tidak disarankan langsung kembali ke level latihan tertinggi yang pernah dicapai sebelumnya. Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi agar otot, sendi, dan organ vital dapat bekerja secara optimal tanpa risiko cedera.

Mendorong batas kemampuan memang boleh dilakukan, tetapi harus disertai kesiapan fisik yang memadai. Ingat, tujuan olahraga adalah membuat tubuh lebih sehat, bukan justru mengantarkan diri ke ruang perawatan rumah sakit.

Jadi, sebelum terlalu bersemangat mengejar target kebugaran, pastikan Cantiks mendengarkan sinyal tubuh. Sebab dalam beberapa kasus, olahraga yang berlebihan bukan hanya menyebabkan nyeri otot biasa, tetapi juga bisa berujung pada kerusakan ginjal yang mengancam kesehatan jangka panjang.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN