Surplus Perdagangan Makin Tergerus Kenaikan Impor Migas
Kamis, 04 Jun 2026, 08:24 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (3/6) mengatakan selama beberapa tahun terakhir, Indonesia relatif terbantu oleh surplus perdagangan komoditas yang besar.
âNamun ketika harga energi naik dan impor migas meningkat, maka bantalan tersebut mulai menipis. Jika tren ini berlanjut, kita berpotensi melihat pelebaran defisit transaksi berjalan pada kuartal kedua tahun ini,â kata Fakhrul.
Adapun ekspor tumbuh kuat menjadi 25,30 miliar dollar AS atau meningkat 21,98 persen secara tahunan (year on year/yoy). Di sisi lain, impor pun melonjak menjadi 25,21 miliar dollar AS atau meningkat 22,49 persen secara tahunan.
Oleh karenanya, pemerintah diminta mewaspadai potensi pelebaran defisit neraca transaksi berjalan atau Current Account Deficit/CAD) pada kuartal II-2026 seiring menyempitnya surplus neraca perdagangan akibat lonjakan impor migas dan tingginya harga energi global.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan surplus neraca perdagangan pada April 2026 tercatat sebesar 89,1 juta dollar AS, menurun signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang surplus 3,32 miliar dollar AS.
Lebih lanjut Fakhrul mengingatkan bahwa perhatian utama pasar saat ini bukan lagi sekadar besarnya ekspor Indonesia, melainkan kecepatan kenaikan impor migas yang mulai menggerus surplus perdagangan.
Ia juga menyoroti kenaikan impor migas yang signifikan atau meningkat lebih dari 80 persen secara tahunan mencapai 4,60 miliar dollar AS pada April 2026. âLonjakan ini terutama berasal dari impor hasil minyak dan minyak mentah yang meningkat tajam akibat kenaikan kebutuhan energi dan dampak perang di Timur Tengah terhadap harga minyak dunia,â katanya.
Defisit sektor migas Indonesia pada April 2026 mencapai 3,44 miliar dollar AS. Sementara surplus nonmigas yang sebesar 3,53 miliar dollar AS hampir seluruhnya habis digunakan untuk menutup kebutuhan impor energi. Akibatnya, surplus perdagangan nasional hanya tersisa sekitar 89 juta dollar AS.
Kondisi tersebut, menurut Fakhrul, perlu menjadi perhatian karena perdagangan barang merupakan fondasi utama bagi transaksi berjalan Indonesia.
Risiko tersebut semakin relevan karena pada saat yang sama tekanan inflasi energi juga mulai terlihat di dalam negeri. Data inflasi Mei 2026 menunjukkan kelompok transportasi masih mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi, terutama pada bensin, solar, tarif angkutan udara, dan pelumas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak perang belum sepenuhnya selesai dan masih merambat ke perekonomian domestik.
Di sisi lain, Fakhrul mengapresiasi kinerja ekspor Indonesia yang masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik, dengan ekspor nonmigas mencapai 24,15 miliar dollar AS pada April 2026 atau tumbuh 23,36 persen secara tahunan.
Namun, ia mengingatkan bahwa pasar keuangan biasanya lebih sensitif terhadap perubahan pada neraca pembayaran dibandingkan sekadar pertumbuhan ekspor.
Menurut Fakhrul, investor kini mencermati kemampuan Indonesia dalam menghasilkan surplus devisa yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan eksternal.
âKetika surplus perdagangan turun dari miliaran dollar menjadi hanya puluhan juta dollar dalam satu bulan, tentu pasar akan mulai mempertanyakan arah transaksi berjalan ke depan,â katanya.
Oleh sebab itu, Fakhrul mendorong perbaikan bauran kebijakan makroekonomi. Ia juga mengingatkan bahwa stabilitas rupiah tidak bisa hanya ditopang oleh kebijakan moneter. Perbaikan struktur neraca pembayaran dinilai menjadi prioritas.
âDalam konteks ini, kurva imbal hasil yang lebih kredibel dan kebijakan fiskal yang selaras akan menjadi sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor,â katanya.
Masih Rentan
Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Aloysius Gunadi Brata menilai menyusutnya surplus neraca perdagangan pada April 2026 menjadi sinyal yang perlu diwaspadai karena menunjukkan masih rentannya struktur ekonomi Indonesia terhadap gejolak harga komoditas dan energi global.
âSelama ini surplus perdagangan Indonesia banyak ditopang oleh faktor eksternal, terutama tingginya harga komoditas. Ketika harga energi naik dan impor migas meningkat, kita bisa melihat betapa tipisnya fondasi surplus tersebut,â kata Aloysius.
Menurut dia, potensi pelebaran defisit transaksi berjalan tidak semata-mata disebabkan oleh kenaikan impor migas, tetapi juga mencerminkan persoalan yang lebih mendasar, yakni belum kuatnya transformasi ekonomi yang mampu menghasilkan nilai tambah tinggi dan mengurangi kebergantungan pada impor energi.
âIni menunjukkan bahwa perbaikan kinerja eksternal Indonesia belum sepenuhnya berasal dari peningkatan produktivitas atau diversifikasi ekspor. Karena itu, ketika kondisi global berubah, tekanan terhadap neraca perdagangan dan transaksi berjalan kembali muncul,â paparnya.
Pemerintah tambah Aloysius tidak boleh terlalu bergantung pada siklus harga komoditas untuk menjaga kesehatan sektor eksternal. Menurutnya, penguatan industri pengolahan, efisiensi energi, serta pengembangan sumber energi domestik harus menjadi prioritas agar perekonomian tidak terus-menerus rentan terhadap kenaikan harga energi dunia.YK/ers/E-9
- ekonomi global
Redaktur: Diapari S
Penulis: Diapari S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.