Ramai Dugaan Monopoli Layar Bioskop, Ernest Prakasa Ungkap Realita Industri Film
Ket. Ramai Dugaan Monopoli Layar Bioskop, Ernest Prakasa Ungkap Realita Industri Film
Doc: Instagram
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kisruh dugaan monopoli layar bioskop memicu perhatian publik setelah produser film Nicki R.V. dari 786 Production mengadu ke DPR RI.
Ia menyoroti dominasi sejumlah rumah produksi besar yang dinilai lebih mudah mendapatkan jadwal tayang dibanding sineas independen.
Rekomendasi juga buat kamu:
Nicki menyebut beberapa rumah produksi besar seperti MD Pictures, Starvision, Multivision, hingga Falcon disebut mampu menayangkan hingga 8 sampai 11 film dalam setahun.
Sementara itu, produser lain disebut kesulitan memperoleh slot tayang meski sudah mengajukan permohonan jauh-jauh hari.
Persoalan ini mencuat setelah film produksi 786 Production disebut gagal mendapatkan jadwal tayang pada Agustus 2026. Padahal, pengajuan penayangan diklaim sudah dilakukan sejak November 2025.
Di tengah polemik tersebut, sineas sekaligus komika Ernest Prakasa ikut memberikan pandangannya melalui media sosial. Lewat video di Instagram pribadinya, Ernest mencoba menjelaskan bagaimana sistem pemilihan film di bioskop sebenarnya bekerja.
Ernest Prakasa Jelaskan Sistem Penayangan Film di Bioskop
Untuk mempermudah penjelasan, Ernest mengibaratkan bioskop seperti warung dengan rak display yang terbatas. Menurutnya, bioskop harus memilih “produk” yang paling berpotensi menarik pembeli agar bisnis tetap berjalan.
“Jadi dengan display lu yang terbatas itu, lu harus pilih benar-benar barang-barang yang memang orang akan beli gitu. Karena kalau nggak, dia akan makan tempat lu yang sangat terbatas itu,” kata Ernest Prakasa dalam videonya, dikutip Senin (25/5/2026).
“Seperti analogi warung tadi, bioskop tuh cuma punya satu tujuan: gimana caranya layar-layar yang terbatas ini menghasilkan sebanyak mungkin tiket. Karena mahal, Bro. Operasionalnya mahal, sehingga dengan operasional mahal itu, gimana caranya layar-layar ini bisa menghasilkan sebanyak mungkin tiket (terjual)?” tambahnya.
Menurut Ernest, reputasi rumah produksi menjadi salah satu faktor penting yang membuat film tertentu lebih dipercaya pihak bioskop. Ia menyebut publik biasanya sudah memiliki ekspektasi kualitas terhadap rumah produksi besar yang karya-karyanya dikenal luas.
“Ketika ngelihat brand-nya, orang udah tahu, ‘Oh, iya, gue tahu nih produk-produk mereka sebelumnya, dan gue suka, dan gue percaya kualitasnya pasti oke.’ Bukan berarti brand baru tidak bisa oke, tapi kepercayaan orang belum ada, kira-kira gitu ya,” ucap Ernest.
Selain nama besar, promosi juga disebut menjadi faktor krusial dalam persaingan slot layar bioskop. Ernest mengungkapkan rumah produksinya bahkan menyiapkan promosi besar-besaran untuk film Agak Laen 2 dengan mendatangi lebih dari 50 podcast dan program media.
“Kita siapin kegiatan promo untuk datang ke podcast-podcast itu lebih dari 50 podcast. Kebayang nggak, lu? Podcast dan televisi dan program-program lah, ya. Itu lebih dari 50,” ungkapnya.
Meski begitu, Ernest mengakui tetap ada film dengan promosi minim yang akhirnya sukses besar karena viral dari mulut ke mulut. Namun menurutnya, kasus seperti itu masih tergolong anomali dalam industri perfilman.
Di akhir penjelasannya, Ernest menegaskan bahwa sistem layar bioskop saat ini bukan terjadi karena suap atau permainan curang, melainkan dipengaruhi mekanisme pasar.
“Menurut gue sih bukan curang ya, tapi memang bioskop cenderung lebih percaya pada nama besar dari segi PH (rumah produksi) dan produser,” pungkasnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Ramai Dugaan Monopoli Layar Bioskop, Ernest Prakasa Ungkap Realita Industri Film .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!