3 Bulan Kerja Tanpa Libur, Dokter Magang Meninggal Dunia: Waspadai Bahaya Saturasi Oksigen Rendah

Ket. dr Myta meninggal dunia

Doc: LinkedIn

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kabar duka datang dari dunia kesehatan Indonesia. Seorang dokter internship, dr. Myta Aprilia Azmy, yang merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, meninggal dunia pada Jumat, 1 Mei 2026.

Kepergiannya memicu sorotan luas, terutama terkait dugaan beban kerja berlebihan yang dialaminya selama menjalani masa magang.

Dugaan Beban Kerja Tanpa Istirahat

Sebelum meninggal dunia, dr. Myta diketahui tengah menjalani tugas di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi. Ia diduga tetap bekerja meskipun dalam kondisi kesehatan yang menurun.

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa selama kurang lebih tiga bulan, ia menjalani tugas tanpa hari libur yang memadai.

Ikatan Alumni (IKA) Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya bahkan telah mengirimkan surat tertanggal 30 April 2026 yang menyoroti kondisi tersebut.

Dalam surat itu disebutkan bahwa dr. Myta tetap dijadwalkan untuk jaga malam meski telah melaporkan gejala sakit sejak Maret 2026.

Salah satu kutipan dalam surat tersebut berbunyi bahwa ia tetap bertugas dalam kondisi sesak napas dan demam tinggi. Hal ini memunculkan kekhawatiran serius mengenai sistem kerja dan pengawasan terhadap dokter internship di lapangan.

Kondisi Kesehatan yang Memburuk

Sebelum wafat, kondisi dr. Myta dilaporkan semakin memburuk. Kadar saturasi oksigen dalam tubuhnya sempat berada di bawah angka 80 persen, sebuah kondisi yang sangat berbahaya.

Ia kemudian dirujuk ke RS Mohammad Hoesin di Palembang untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Namun, nyawanya tidak tertolong.

Bahaya Saturasi Oksigen Rendah

Saturasi oksigen adalah ukuran seberapa banyak oksigen yang dibawa oleh sel darah merah dalam tubuh. Dalam kondisi normal, saturasi oksigen berada di kisaran 95–100 persen.

Ketika angka ini turun di bawah 90 persen, tubuh mulai mengalami kondisi yang disebut hipoksemia, dan jika mencapai di bawah 80 persen, situasinya bisa menjadi kritis.

Berikut beberapa bahaya dari saturasi oksigen rendah:

1. Gangguan Fungsi Organ Vital
Oksigen sangat dibutuhkan oleh organ-organ penting seperti otak, jantung, dan ginjal. Kekurangan oksigen dapat menyebabkan kerusakan permanen pada organ-organ tersebut.

2. Penurunan Kesadaran
Saturasi rendah dapat menyebabkan kebingungan, penurunan kesadaran, hingga kehilangan kesadaran karena otak tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup.

3. Sesak Napas dan Kelelahan Ekstrem
Tubuh akan berusaha keras untuk mendapatkan oksigen, menyebabkan napas menjadi cepat dan dangkal, serta rasa lelah yang luar biasa.

4. Risiko Gagal Napas
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal napas, di mana tubuh tidak mampu lagi mempertahankan fungsi pernapasan.

5. Kematian
Dalam kasus ekstrem, seperti yang diduga dialami dr. Myta, saturasi oksigen yang sangat rendah dapat berujung pada kematian.

Kasus ini memunculkan pertanyaan besar tentang sistem kerja dokter internship di Indonesia. Masa magang seharusnya menjadi fase pembelajaran dengan pengawasan yang memadai, bukan justru menjadi beban yang membahayakan kesehatan fisik dan mental.

Diperlukan evaluasi menyeluruh dari pihak terkait, termasuk rumah sakit dan institusi pendidikan, agar kejadian serupa tidak terulang. Perlindungan terhadap tenaga medis muda harus menjadi prioritas, mengingat mereka adalah garda depan pelayanan kesehatan di masa depan.

Kepergian dr. Myta Aprilia Azmy menjadi pengingat keras bahwa dedikasi tenaga kesehatan tidak boleh dibayar dengan pengorbanan nyawa akibat sistem yang lalai.*

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN