Pameran 'Schiaparelli: Fashion Becomes Art' Tampilkan Transformasi Fashion Jadi Seni
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Hubungan antara fashion dan seni bukanlah hal baru. Sejak lama, para desainer telah menjadikan karya seniman besar dunia sebagai sumber inspirasi, menghadirkan busana yang tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, tetapi juga memiliki nilai artistik tinggi.
Dengan teknik yang kompleks dan pendekatan avant-garde, fashion bahkan kerap dipandang sejajar dengan lukisan maupun patung dalam dunia seni rupa.
Rekomendasi juga buat kamu:
Hal inilah yang diangkat dalam pameran besar bertajuk “Schiaparelli: Fashion Becomes Art” di Victoria and Albert Museum. Dibuka pada 28 Maret, pameran ini menyoroti perjalanan visioner desainer asal Italia, Elsa Schiaparelli, yang dikenal dengan pendekatan surealis dan eksperimental dalam dunia mode.
Pameran tersebut menampilkan bagaimana karya Schiaparelli tidak sekadar busana, melainkan ekspresi artistik yang mampu menantang norma, mulai dari standar kecantikan hingga fungsi dasar pakaian.
Melalui desainnya, Schiaparelli membuktikan bahwa fashion bisa menjadi medium untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap tubuh dan identitas.
Menariknya, hampir satu abad setelah masa kejayaannya, warisan Schiaparelli diteruskan oleh direktur kreatif rumah mode tersebut saat ini, Daniel Roseberry.
Dalam pameran ini, karya keduanya dipertemukan untuk menunjukkan bagaimana pendekatan “shocking” ala Schiaparelli tetap relevan di tengah industri fashion yang cenderung konservatif.
Menurut kurator senior fashion V&A, Sonnet Stanfill, kekuatan Schiaparelli terletak pada kolaborasinya dengan para seniman besar.
Ia pernah bekerja sama dengan tokoh-tokoh seperti Man Ray, Jean Cocteau, hingga Salvador Dali. Kolaborasi tersebut bukan sekadar visual, melainkan pertukaran ide kreatif yang mendalam.
Berasal dari keluarga aristokrat intelektual di Roma dan tanpa pendidikan formal di bidang fashion, Schiaparelli justru melahirkan karya yang berani dan tidak biasa. Ia kerap menabrak pakem estetika yang dipegang desainer sezamannya seperti Coco Chanel atau Christian Dior.
Schiaparelli justru merayakan keanehan. Ia menciptakan topi berbentuk sepatu, jaket bertema sirkus dengan kancing menyerupai kuda, hingga sepatu bot berbahan bulu monyet pada 1938, desain yang dianggap nyeleneh namun menjadi pernyataan artistik kuat.
Pendekatan ini membuat karyanya relevan di tengah dinamika Eropa pra-Perang Dunia II yang penuh gejolak, terutama di Paris yang saat itu cenderung konservatif. Kini, semangat tersebut kembali dihidupkan melalui karya Roseberry yang memadukan elemen futuristik dan budaya pop.
Lewat pameran ini, publik diajak memahami bahwa fashion bukan hanya soal estetika, tetapi juga medium untuk menggugah emosi dan memancing diskusi tentang perempuan, kekuasaan, dan identitas.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Pameran 'Schiaparelli: Fashion Becomes Art' Tampilkan Transformasi Fashion Jadi Seni .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!