Gak Bisa Move On, Syifa Hadju Kagumi Penampilannya Sendiri Saat Akad Nikah

Doc: Instagram/@syifahadju

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Momen akad pernikahan selalu menjadi titik sakral dalam perjalanan cinta seseorang. Hal itu pula yang dirasakan oleh Syifa Hadju, yang baru-baru ini mengungkapkan kekagumannya terhadap penampilan dirinya di hari istimewa tersebut.

Dalam sebuah pernyataan yang ia bagikan, Syifa mengaku masih terpesona dengan keseluruhan konsep yang ia tampilkan saat akad, terutama gaya makeup yang menurutnya begitu merepresentasikan impian lamanya.

“Masih kagum dengan penampilan akadku... benar-benar semua yang pernah aku impikan,” tulisnya sebagai caption unggahan Instagram.

Kalimat tersebut bukan sekadar pujian pada hasil akhir, melainkan refleksi dari proses panjang yang ia jalani dalam mempersiapkan hari bahagianya. Bagi Syifa, makeup bukan hanya soal estetika, tetapi juga bagian dari identitas dan perasaan yang ingin ia hadirkan di momen sakral tersebut.

Usung Konsep Klasik

Ia memilih konsep kebaya klasik yang dipadukan dengan riasan bernuansa abadi. Pilihan ini terasa begitu personal, karena mencerminkan kecintaannya pada tradisi sekaligus keinginannya untuk tampil elegan tanpa terikat tren sesaat.

Makeup yang digunakan pun cenderung natural, menonjolkan keindahan asli wajahnya dengan sentuhan lembut yang memberi kesan hangat dan anggun. Hasilnya adalah tampilan yang tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga memiliki makna emosional yang mendalam.

Lebih dari sekadar penampilan, Syifa juga menyoroti pentingnya peran para vendor yang terlibat. Ia menyebut bahwa setiap pihak yang membantu mewujudkan hari tersebut merupakan bagian dari impiannya sejak awal.

Hal ini menunjukkan bahwa pernikahan bukan hanya tentang satu momen, melainkan kolaborasi dari banyak tangan yang bekerja dengan visi yang sama. Dari penata rias hingga desainer kebaya, semuanya berkontribusi menciptakan pengalaman yang utuh dan berkesan.

“Sangat bersyukur. Terima kasih telah mengubah sesuatu yang telah saya bayangkan selama ini menjadi sesuatu yang akhirnya bisa saya jalani,” lanjutnya.

Rasa syukur ini menjadi benang merah dari keseluruhan cerita, memperlihatkan bagaimana impian yang lama disimpan akhirnya bisa terwujud dengan indah.

Apa yang dialami Syifa Hadju menjadi pengingat bahwa hari pernikahan bukan sekadar tentang kemewahan atau kesempurnaan visual, tetapi tentang bagaimana seseorang merasa menjadi versi terbaik dari dirinya.

Ketika konsep, tradisi, dan emosi berpadu dengan harmonis, hasilnya bukan hanya penampilan yang memukau, tetapi juga kenangan yang akan terus hidup sepanjang waktu.*

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN