Iran Bersedia Bicarakan Pembahasan Nuklir Jika AS Cabut Blokade AS Selat Hormuz 

Ket. Selat Hormuz

Doc: istimewa

ISLAMABAD, KUCANTIK.COM - Sebagaimana dilaporkan Axios yang mengutip seorang pejabat AS dan dua sumber yang mengetahui masalah tersebut, Iran disebutkan telah menyampaikan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS), termasuk menunda negosiasi nuklir, untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang.

Sumber tersebut mengatakan rencana itu disampaikan melalui mediator di Pakistan, menyerukan perpanjangan gencatan senjata agar pihak-pihak yang bertikai dapat berupaya mengakhiri pertempuran secara permanen.

Pembicaraan nuklir akan dilakukan kemudian, hanya setelah blokade AS terhadap Selat Hormuz dicabut.

Para mediator Pakistan telah menyampaikan proposal tersebut kepada Gedung Putih, tetapi belum jelas apakah AS ingin mempertimbangkannya.

Presiden AS, Donald Trump berencana mengadakan pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih pada Senin (27/7) dengan para pejabat keamanan nasional dan kebijakan luar negeri, demikian dilaporkan oleh media tersebut.

“Ini adalah diskusi diplomatik yang sensitif dan AS tidak akan bernegosiasi melalui pers,” kata Olivia Wales, juru bicara Gedung Putih, dalam sebuah pernyataan yang dikirim melalui email.

“Seperti yang telah dikatakan Presiden, AS memegang kendali dan hanya akan membuat kesepakatan yang mengutamakan rakyat Amerika, dan tidak akan pernah mengizinkan Iran memiliki senjata nuklir.”

Harga minyak mentah memangkas kenaikannya dan saham-saham Asia memperluas penguatannya pada perdagangan 27 April menyusul laporan Axios, meningkatkan sentimen setelah upaya untuk memulai kembali pembicaraan terhenti. Indeks kontrak berjangka ekuitas AS menghapus kerugian sebelumnya dan naik 0,1 persen.

Upaya untuk melanjutkan pembicaraan damai terkait perang Iran terhenti pada akhir pekan setelah Presiden Trump membatalkan rencana kunjungan para utusan utamanya dan Republik Islam Iran mengatakan tidak akan bernegosiasi selama mereka masih diancam.

Pada tanggal 25 April, Presiden Trump mengakui adanya rencana baru dari Iran, dengan mengatakan bahwa republik Islam itu dengan cepat mengirimkan proposal baru setelah ia memerintahkan para utusannya untuk membatalkan perjalanan ke Pakistan untuk melakukan pembicaraan.

“Menariknya... ketika saya membatalkannya, dalam waktu 10 menit, kami mendapatkan kabar baru yang jauh lebih baik,” kata Trump kepada wartawan.

“Iran menawarkan banyak hal tetapi tidak cukup,” tambahnya, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Tidak Dapat Dilewati

Meskipun gencatan senjata sebagian besar telah berlaku sejak awal April, kedua negara terus mempertahankan blokade Selat Hormuz, membuat jalur pasokan energi utama tersebut praktis tidak dapat dilewati.

Gangguan terhadap sekitar seperlima aliran minyak dunia ini disebut sebagai guncangan pasokan terbesar dalam sejarah oleh Badan Energi Internasional.

Pasukan Amerika yang menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran telah memerintahkan 38 kapal untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan, kata Komando Pusat AS dalam sebuah unggahan di media sosial.

Iran, pada gilirannya, memberlakukan blokade sendiri terhadap Hormuz, menggunakan “armada nyamuk” berupa kapal-kapal perang kecilnya. Jumlah transit harian kini mendekati nol, dibandingkan dengan sekitar 135 sebelum konflik dimulai pada 28 Februari.

Kepala eksekutif Vitol Group, Russell Hardy, pada FT Commodities Global Summit mengatakan pasar minyak menghadapi kerugian pasokan yang pasti sekitar satu miliar barel, sebagian karena waktu yang dibutuhkan untuk menghidupkan kembali aliran setelah selat tersebut dibuka kembali.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan para mediator di Pakistan pada tanggal 25 April dan meninggalkan Islamabad jauh sebelum kedatangan utusan AS yang direncanakan.

Ia mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosial bahwa Iran “belum melihat apakah AS benar-benar serius tentang diplomasi”. ST/BLOOMBERG/SB/E-9

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN