Deretan Skandal Daycare di Indonesia, Dari Balita Lebam Hingga Diperlakukan Tak Manusiawi
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Sejumlah kasus kekerasan di tempat penitipan anak (day care) yang mencuat dan viral di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi pengingat serius akan pentingnya pengawasan ketat terhadap fasilitas tersebut.
Day care yang seharusnya menjadi tempat aman dan nyaman bagi anak justru dalam beberapa kasus berubah menjadi sumber trauma, baik fisik maupun psikologis.
Little Aresha Yogyakarta
Salah satu kasus terbaru terjadi pada April 2026 di Yogyakarta, tepatnya di wilayah Sorosutan, Umbulharjo. Sebuah daycare bernama Little Aresha digerebek dan disegel oleh aparat kepolisian setelah muncul dugaan kuat adanya kekerasan dan penelantaran anak.
Kasus ini mencuat ke publik setelah beredarnya foto-foto yang memperlihatkan kondisi balita yang memprihatinkan, disertai laporan dari orang tua yang menemukan lebam pada tubuh anak mereka.
Tidak hanya itu, beberapa anak juga menunjukkan tanda-tanda trauma, seperti ketakutan berlebihan dan perubahan perilaku yang drastis. Dari hasil investigasi awal, terungkap bahwa daycare tersebut beroperasi tanpa izin resmi, memperparah kekhawatiran publik terhadap lemahnya pengawasan.
Daycare di Depok
Kasus serupa juga terjadi di Depok, Jawa Barat, pada Agustus 2024. Dalam kejadian ini, pemilik daycare diduga melakukan penganiayaan terhadap balita yang dititipkan.
Peristiwa tersebut sempat viral dan memicu perdebatan luas di masyarakat mengenai standar keamanan dan kelayakan tempat penitipan anak. Korban dilaporkan mengalami trauma berat, yang dampaknya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga berpotensi memengaruhi perkembangan emosional anak ke depan.
Daycare di Pekanbaru
Rekomendasi juga buat kamu:
Di waktu yang hampir bersamaan, kasus dugaan kekerasan anak juga diselidiki oleh aparat di Pekanbaru, Riau. Penyidikan dilakukan setelah adanya laporan dari orang tua yang mencurigai adanya perlakuan tidak wajar terhadap anak mereka di sebuah daycare.
Seperti pada kasus lainnya, tanda-tanda awal sering kali terlihat dari perubahan perilaku anak, seperti menjadi lebih pendiam, mudah menangis, atau menunjukkan ketakutan saat hendak dititipkan.
Rangkaian kasus ini menunjukkan pola yang serupa. Banyak di antaranya terungkap berkat kepekaan orang tua dalam membaca perubahan perilaku anak atau menemukan tanda fisik yang mencurigakan.
Hal ini menegaskan bahwa peran orang tua tetap menjadi garis pertahanan pertama dalam melindungi anak, meskipun mereka berada di bawah pengasuhan pihak lain.
Di sisi lain, kasus-kasus tersebut juga menggarisbawahi pentingnya regulasi dan pengawasan yang lebih ketat terhadap operasional daycare.
Fasilitas penitipan anak seharusnya memiliki izin resmi, tenaga pengasuh yang terlatih dan kompeten, serta sistem pengawasan yang transparan, seperti penggunaan CCTV yang dapat diakses orang tua.
Tanpa standar yang jelas dan pengawasan yang konsisten, risiko terjadinya kekerasan akan terus membayangi.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, penyedia layanan, dan orang tua menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan penitipan anak yang aman.
Kepercayaan tidak bisa hanya diberikan begitu saja, tetapi harus dibangun melalui transparansi, akuntabilitas, dan komitmen nyata terhadap keselamatan anak.*
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Deretan Skandal Daycare di Indonesia, Dari Balita Lebam Hingga Diperlakukan Tak Manusiawi .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!