Pemilu Paruh Waktu di AS Tak Pengaruhi Sikap Washington Terhadap Iran

Doc: istimewa

WASHINGTON, KUCANTIK.COM - Tidak ada kerangka waktu untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran, kata Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Rabu (22/4). Dalam pernyataannya yang dikutip dari Fox News, menyebutkan tidak ada tekanan waktu pada perpanjangan gencatan senjata atau pembicaraan damai baru yang tertunda.

“Orang-orang mengatakan saya ingin (segera) mengakhirinya karena pemilihan paruh waktu, itu tidak benar,” sanggah Trump.

Sebelumnya, Trump sempat menyampaikan bahwa perang akan berlangsung empat hingga enam pekan setelah dimulai pada 28 Februari.

Pada Selasa (21/4), Trump mengatakan, dia akan memperpanjang gencatan senjata dua pekan yang dijadwalkan berakhir pada Rabu malam waktu setempat untuk memberi lebih banyak waktu bagi Iran menyusun proposal terpadu untuk negosiasi lebih lanjut.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada wartawan pada Rabu bahwa Trump belum menetapkan tenggat waktu untuk menerima proposal Iran.

“Pada akhirnya, jangka waktu akan ditentukan oleh panglima tertinggi,” kata Leavitt.

Trump mungkin akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran selama tiga hingga lima hari lagi, lapor media daring AS Axios pada Rabu (22/4), yang mengutip tiga pejabat AS.

Komandan Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran Ahmad Vahidi dan para wakilnya telah menolak sebagian besar hal yang telah dibahas oleh para negosiator Iran sendiri dalam putaran pertama pembicaraan AS-Iran di Pakistan pada awal bulan ini, menurut laporan tersebut.

Hambatan Utama

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa pelanggaran komitmen, tindakan blokade di Selat Hormuz, serta ancaman dari AS menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi.

“Iran selalu menyambut dan terus membuka diri terhadap dialog dan kesepakatan. Namun, itikad buruk, pengepungan, dan ancaman merupakan penghalang utama bagi negosiasi yang tulus. Dunia menyaksikan retorika kosong yang penuh kemunafikan serta kontradiksi antara klaim dan tindakan,” tulis Pezeshkian di media sosial X, Rabu (22/4).

Sebelumnya pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan serta korban sipil.

Iran kemudian merespons dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.

Eskalasi konflik tersebut hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, sehingga turut mendorong kenaikan harga bahan bakar.

Kemudian pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Namun, perundingan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil.

Meski tidak ada pengumuman resmi mengenai dimulainya kembali permusuhan, AS mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.Ant/E-9

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN