Piala Dunia Picu Lonjakan KDRT? Studi Ungkap Kasus Naik 38 Persen Saat Tim Favorit Kalah
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Piala Dunia selalu identik dengan pesta sepak bola terbesar di dunia. Miliaran pasang mata menyaksikan setiap pertandingan, suporter memadati stadion, sementara jutaan lainnya menggelar nonton bareng demi mendukung tim kebanggaan mereka. Euforia kemenangan, sorak-sorai, hingga perayaan berlangsung hampir di setiap penjuru dunia.
Namun, di balik atmosfer meriah tersebut, sejumlah penelitian mengungkap sisi lain yang jauh lebih kelam. Beberapa studi menemukan adanya peningkatan laporan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) selama turnamen sepak bola berlangsung, terutama ketika tim favorit mengalami kekalahan.
Temuan yang paling banyak menjadi rujukan berasal dari penelitian Lancaster University di Inggris yang dipublikasikan pada 2014. Penelitian tersebut menganalisis laporan KDRT di wilayah Lancashire selama Piala Dunia 2002, 2006, dan 2010.
Hasilnya cukup mengejutkan. Ketika tim nasional Inggris menjalani pertandingan, laporan KDRT meningkat sekitar 26 persen dibanding hari-hari biasa. Angka itu bahkan melonjak hingga 38 persen setelah Inggris menelan kekalahan.
Meski demikian, para peneliti memberikan penegasan penting. Mereka menyatakan bahwa sepak bola bukanlah penyebab seseorang melakukan kekerasan. Pertandingan hanya dapat menjadi pemicu tambahan ketika dipadukan dengan faktor lain seperti emosi yang memuncak, konsumsi minuman beralkohol, stres, serta hubungan yang sebelumnya memang sudah tidak sehat.
Artinya, pelaku tetap bertanggung jawab penuh atas tindak kekerasan yang dilakukan. Kekalahan tim sepak bola tidak dapat dijadikan alasan maupun pembenaran atas tindakan KDRT.
Penelitian tersebut juga memiliki keterbatasan karena hanya dilakukan di satu wilayah di Inggris. Oleh sebab itu, para peneliti mendorong dilakukannya studi dengan cakupan nasional maupun internasional agar diperoleh bukti ilmiah yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara pertandingan sepak bola dan peningkatan kasus kekerasan domestik.
Kekhawatiran serupa kembali menguat setelah National Police Chiefs' Council (NPCC) merilis data selama Euro 2024. Lembaga tersebut mencatat lebih dari 300 laporan tindak pidana KDRT yang menurut korban berkaitan dengan perilaku pelaku setelah pertandingan sepak bola berlangsung.
Sementara itu, Crown Prosecution Service (CPS) mengungkap bahwa sekitar empat dari lima perkara KDRT yang dirujuk kepada jaksa dan diputuskan untuk diproses berakhir dengan penetapan dakwaan terhadap pelaku. Data tersebut menunjukkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga tetap menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian berbagai pihak.
Melihat potensi risiko tersebut, sejumlah organisasi di Inggris memperkuat langkah pencegahan. Women's Aid, misalnya, meluncurkan kampanye bertajuk The Other Kick Off untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai meningkatnya risiko KDRT selama kompetisi sepak bola berlangsung.
Di sisi lain, CPS bersama kepolisian setempat juga mengimbau masyarakat agar lebih waspada selama turnamen besar berlangsung serta memastikan penanganan cepat terhadap setiap laporan kekerasan yang diterima.
Para peneliti kembali mengingatkan bahwa hubungan antara turnamen sepak bola dan meningkatnya laporan KDRT bukan berarti olahraga ini menciptakan pelaku kekerasan. Faktor utama tetap berada pada individu yang memiliki kecenderungan melakukan kekerasan, sedangkan pertandingan hanya dapat memperburuk kondisi ketika dipicu emosi, alkohol, atau konflik rumah tangga yang telah berlangsung sebelumnya.
Karena itu, pembahasan mengenai fenomena ini tidak dimaksudkan untuk memberi stigma kepada penggemar sepak bola. Sebaliknya, temuan tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa di balik gegap gempita pesta olahraga dunia, terdapat potensi risiko sosial yang perlu diantisipasi bersama.
Ke depan, para ahli berharap penelitian lebih luas dapat dilakukan untuk memperkuat bukti ilmiah. Selain itu, edukasi kepada masyarakat, peningkatan layanan bagi korban, serta penegakan hukum terhadap pelaku KDRT dinilai menjadi langkah penting agar semangat sportivitas di setiap turnamen sepak bola tidak dibayangi meningkatnya kasus kekerasan dalam rumah tangga.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Piala Dunia Picu Lonjakan KDRT? Studi Ungkap Kasus Naik 38 Persen Saat Tim Favorit Kalah .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!