JAKARTA, KUCANTIK.COM -Ketua Harian I Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Mayjen TNI Purn Bachtiar Utomo usai panen perdana kedelai di Jakarta, akhir pekan lalu mengatakan masalah pangan bukan hanya masalah negara tapi semua harus ikut terlibat dalam memastikan ketersediaan pangan nasional.
“Jangan sampai terjadi lost generation farm di Indonesia. Mari semua dekatkan anak-anak muda kita dengan pertanian. Anak muda Indonesia harus dekat dan cinta dengan pertanian. Mereka akan bekerja sama dalam membangun ketahanan pangan bangsa,” kata Bachtiar.
Sebagai langkah nyata dari upaya mencapai kedaulatan pangan adalah substitusi komoditas impor dengan menanam sendiri di dalam negeri misalnya kedelai yang selama ini dipenuhi melalui impor.
HKTI jelas Bachtiar menyampaikan tiga rekomendasi agar petani tidak malas menanam kedelai demi membantu pemerintah mencapai target swasembada kedelai sebesar 2,62 juta ton pada 2029.
“Ada tiga rekomendasi yang bisa kami berikan agar petani bersemangat bertanam kedelai karena selama ini dianggap tidak menguntungkan,” kata Bachtiar.
Hal pertama adalah Pemerintah harus mengintervensi dengan menyiapkan off taker atau pihak yang membeli hasil panen petani kedelai sehingga ada kepastian saat petani menjual hasil panen.
“Jika ada kepastian maka petani akan bersemangat menanam kedelai karena menguntungkan petani,” katanya.
Kedua, pemerintah dapat menggandeng pihak swasta agar melakukan diversifikasi kedelai. Selama ini kedelai lokal hanya digunakan sebagai bahan pembuat tahu dan tempe.
Ia mencontohkan produk kedelai ini harus diolah menjadi susu kedelai sehingga memiliki nilai purna jual yang tinggi.
“Selama ini petani malas bertanam karena tidak menjanjikan. Beda dengan tanaman lain seperti padi atau lainnya,” katanya.
Rekomendasi juga buat kamu:
Saat ini harga kedelai dijual dengan harga berkisar 8.000-10.000 ribu rupiah per kilogram (kg). Sementara jika dijual dalam bentuk benih, harga jualnya menjadi 15 ribu, bahkan 20 ribu rupiah per kg, tergantung kualitas.
Ia optimistis program swasembada kedelai yang ditargetkan Presiden Prabowo pada 2029 dapat terealisasi dengan syarat semua harus bergerak bersama untuk menyukseskan program ini.
“Jika ada kepastian bagi petani tentu akan membuat mereka sejahtera,” katanya.
Ketiga, petani harus diberi bantuan produktif misalnya lahan gratis untuk bertanam, bibit, pupuk serta pendampingan sehingga menghasilkan panen yang baik. “Hasil panen ini semua akan diserahkan kepada petani agar mereka lebih sejahtera,” katanya.
Direktur Aneka Kacang dan Umbi (AKABI) Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Dyah Susilokarti mengatakan saat ini pihaknya memiliki lahan 37.500 hektare yang siap ditanam kedelai tapi memang ada keterbatasan bibit.
Realitas Ekonomi
Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, Bali, I Nengah Muliarta mengatakan, membangun kedaulatan pangan nasional tidak bisa hanya mengandalkan heroisme retoris atau ajakan sentimental agar generasi muda kembali ke sawah.
Di balik seruan “cinta pertanian” yang digaungkan oleh tokoh-tokoh seperti di HKTI, terdapat realitas ekonomi yang keras dan kesenjangan struktural yang gagal dijembatani oleh kebijakan konvensional.
“Mengandalkan semangat patriotisme anak muda tanpa mengubah lanskap agribisnis secara fundamental adalah bentuk pengabaian terhadap logika pasar yang rasional,”tegas Muliarta.
Ancaman lost generation dalam sektor pertanian bukan disebabkan oleh pudarnya rasa nasionalisme, melainkan akibat dari kegagalan sektor ini dalam menawarkan standar hidup yang layak. Generasi muda saat ini adalah kelompok yang sangat literat terhadap data dan peluang.
Selama pertanian masih dipandang sebagai sektor berisiko tinggi dengan perlindungan harga yang rendah, maka "romantisme lumpur" tidak akan pernah bisa mengalahkan daya tarik sektor industri atau jasa. Transformasi dari subsistence farming menuju smart farming berbasis teknologi digital bukan lagi pilihan, melainkan syarat mutlak. Pertanian harus dikemas sebagai industri teknologi yang presisi, efisien, dan yang paling penting, menguntungkan.
Ambisi swasembada kedelai sebesar 2,62 juta ton pada 2029 perlu ditinjau ulang dengan kacamata ekosistem yang lebih luas. Memaksakan penanaman komoditas tertentu hanya demi mengejar angka statistik sering kali melupakan prinsip keunggulan komparatif.
“Petani tidak enggan menanam kedelai karena mereka “malas”, melainkan karena mereka logis. Tanpa adanya intervensi harga yang mampu melindungi mereka dari gempuran kedelai impor yang jauh lebih murah, menanam kedelai sama saja dengan merencanakan kerugian. Maka, strategi offtaker yang ditawarkan harus lebih dari sekadar “pembeli siaga,”paparnya.
Pemerintah tegas Muliarta harus hadir dengan sistem yang menjamin harga di tingkat petani tetap berada di atas biaya produksi, sekaligus mengintegrasikannya dengan Sistem Resi Gudang untuk menjaga stabilitas pasokan.
Sementara itu, Anggota DPD DIY Pemuda Tani Indonesia, Pranasik Siahaan, mengatakan, pendekatan terhadap anak muda tidak bisa hanya berbasis ajakan moral, tetapi harus disertai dengan ekosistem yang membuat sektor pertanian relevan dan menjanjikan secara ekonomi. Menurutnya, tanpa perubahan pendekatan tersebut, sektor pertanian akan sulit menarik minat generasi baru.
Pranasik menambahkan bahwa kepastian pasar menjadi salah satu persoalan utama yang selama ini dihadapi petani, termasuk dalam komoditas kedelai. Ia menyebut keberadaan offtaker atau pembeli hasil panen secara pasti dapat memberikan rasa aman bagi petani untuk menanam dan meningkatkan produktivitas.ers/YK/E-9
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Anak Muda Indonesia Harus Dekat Dengan Pertanian .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!