Benarkah Pernikahan Sunda dan Jawa Tak Harmonis? Bedah Sejarah dan Realita di Balik Mitosnya

Ket. Ilustrasi pernikahan.

Doc: freepik.com

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Benarkah mitos pernikahan adat Sunda dan Jawa membawa ketidakharmonisan bagi rumah tangga?

Kepercayaan mengenai larangan penyatuan dua suku besar di Indonesia ini telah mengakar selama berabad-abad, sering kali dikaitkan dengan nasib buruk hingga dominasi salah satu pihak.

Namun, tahukah Anda bahwa stigma ini bermula dari tragedi Perang Bubat di masa kerajaan Majapahit?

Mari bedah lebih dalam mengenai akar sejarah, fakta sosiologis, hingga cara menyikapi mitos ini secara rasional agar hubungan asmara Anda tetap kokoh tanpa bayang-bayang trauma masa lalu.

Tragedi Perang Bubat: Pemicu Larangan Pernikahan

Awal mula munculnya larangan ini dapat ditarik kembali ke peristiwa Perang Bubat yang terjadi pada tahun 1357 Masehi.

Tragedi ini bermula dari rencana pernikahan politik antara Raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan putri Kerajaan Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi.

Niat baik tersebut berakhir tragis di lapangan Bubat akibat perselisihan antara rombongan Kerajaan Sunda dengan Mahapatih Gajah Mada. Seluruh rombongan Sunda gugur dalam peristiwa tersebut, termasuk sang putri.

Kegagalan pernikahan ini meninggalkan luka mendalam bagi kedua kerajaan dan melahirkan sentimen yang diwariskan secara turun-temurun dalam bentuk larangan pernikahan antarsuku tersebut.

Tiga Mitos yang Berkembang di Masyarakat

Selain faktor sejarah, terdapat beberapa anggapan miring yang sering dikaitkan jika pasangan Sunda dan Jawa tetap memutuskan untuk menikah:

  1. Potensi Kesialan: Terdapat kepercayaan lama yang mengibaratkan pernikahan pria Sunda dengan wanita Jawa seperti menikahi saudara sendiri, sehingga dianggap dapat mendatangkan ketidakharmonisan atau hilangnya keberkahan.

  2. Dominasi Istri dalam Rumah Tangga: Muncul kekhawatiran bahwa peran kepala rumah tangga akan tergeser karena anggapan bahwa pihak istri akan jauh lebih dominan dalam mengatur dinamika keluarga.

  3. Ketidakharmonisan Hubungan: akumulasi dari prasangka-prasangka tersebut menciptakan stigma bahwa rumah tangga beda suku ini akan sulit menemukan kebahagiaan jangka panjang.

Menyikapi Mitos Secara Dewasa dan Rasional

Penting untuk disadari bahwa konstruksi sosial dan budaya masa lalu memang berperan dalam membentuk pola pikir ini. Namun, secara ilmiah dan realitas modern, tidak ada kaitan langsung antara latar belakang suku dengan kegagalan sebuah pernikahan.

Keharmonisan rumah tangga tidak ditentukan oleh garis keturunan, melainkan oleh kematangan karakter, pola komunikasi yang sehat, serta komitmen kedua belah pihak dalam menghadapi tantangan hidup.

Saling menghormati perbedaan budaya justru dapat menjadi kekuatan dalam membangun bahtera rumah tangga yang lebih berwarna dan solid.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah pernikahan tidak ditentukan oleh latar belakang suku atau peristiwa sejarah ratusan tahun silam, melainkan oleh komunikasi, kedewasaan, dan komitmen kedua pasangan.

Menghargai tradisi adalah hal baik, namun membiarkan mitos menghambat kebahagiaan tentu bukan pilihan bijak. Jadi, apakah Anda siap melangkah maju bersama pasangan tanpa terbelenggu stigma lama?

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN