Jangan Diabaikan, 4 Sinyal Hubungan Tidak Sehat yang Diam-Diam Mengarah ke Perceraian

Ket. Ilustrasi Hubungan Menuju Perceraian

Doc: Freepik

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Fenomena “curveball divorces”, yakni perceraian yang mengejutkan salah satu pasangan, kini semakin sering terjadi. Penelitian yang dilakukan oleh John Gottman dan Julie Schwartz Gottman dari Gottman Institute mengungkap adanya empat gejala hubungan yang retak dan kerap menjadi indikasi perceraian.

Dengan memahami tanda-tanda ilmiah hubungan tidak harmonis ini, pasangan dapat belajar mengelola komunikasi secara lebih bijak dan menjaga hubungan tetap sehat.

Jangan tunggu sampai masalah membesar, dan mulai lebih peka jika menyadari tanda-tanda seperti yang dilansir dari Huffpost berikut ini, cantiks!

1. Mengkritik Pasangan

Kritik yang dimaksud para ahli berbeda dengan sekadar memberikan saran atau keluhan kecil pada pasangan. Kritik yang dimaksud di sini adalah ketika seseorang bersikap seolah-olah masalah yang muncul mencerminkan sesuatu yang mendasar tentang kepribadian pasangannya, atau dikenal sebagai “serangan ad hominem”.

Misalnya, alih-alih mengatakan, “Aku merasa tidak dihargai ketika kantong sampah dibiarkan terlalu penuh. Kita sudah sepakat itu adalah tanggung jawabmu,” seseorang mungkin berkata, “Kamu pemalas, berantakan, dan egois”.

Hal ini tidak otomatis menandakan hubungan akan hancur, tetapi kritik semacam ini bisa membuat pihak yang menerima merasa diserang, ditolak, dan terluka.

Akibatnya, sering kali tercipta pola eskalasi konflik antara pelaku dan korban, di mana ketegangan dan kesalahpahaman semakin meningkat setiap kali masalah muncul.

Untuk menghindari dampak negatif ini, para ahli menyarankan menggunakan kata “aku” ketika ingin menyampaikan perasaan atau kekhawatiran serta menambahkan saran perubahan yang bersifat konstruktif.

Dengan begitu, pasangan dapat memahami masalah dan mencari solusi bersama tanpa merasa diserang secara pribadi. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam membangun komunikasi yang sehat dan memperkuat hubungan.

2. Mengejek Pasangan

Mengejek berbeda dengan kritik. Jika kritik menyerang karakter pasangan, mengejek lebih parah karena tidak hanya mengomentari perilaku, tetapi juga menunjukkan bahwa seseorang merasa dirinya lebih baik atau lebih benar secara moral dibanding pasangannya.

Sikap merendahkan, mengejek, atau bersikap superior seperti ini tidak hanya berdampak secara emosional, tetapi juga memiliki efek fisik yang nyata.

Salah satu cara mengatasinya adalah dengan membiasakan memberi apresiasi, seperti memperhatikan dan mensyukuri hal-hal kecil yang dilakukan pasangan. Kebiasaan ini dapat membawa perubahan positif bagi hubungan.

3. Munculnya Sikap Defensif

Sikap defensif sering muncul ketika pasangan merasa dikritik secara berlebihan atau tidak adil. Alih-alih menanggapi kritik dengan terbuka, mereka cenderung memutarbalikkan kesalahan atau mencoba terlihat tidak bersalah.

Misalnya, jika ada keluhan tentang kantong sampah yang belum dibuang, pasangan defensif bisa membela diri dengan alasan lain, seperti kesibukan mencari uang untuk kebutuhan keluarga.

Meskipun reaksi ini wajar, hal tersebut bisa memperburuk konflik jika pasangan pengkritik tetap menuntut. Dalam situasi seperti ini, mengambil tanggung jawab dan meminta maaf terbukti lebih efektif untuk meredakan ketegangan, menjaga komunikasi tetap sehat, dan menciptakan rasa saling menghargai.

4. Menghindari Pasangan

Menghindari pasangan dan menutup diri dalam komunikasi biasanya terjadi ketika seseorang merasa dipandang rendah, diremehkan, atau dihakimi oleh pasangannya. Tindakan ini bisa terlihat dari sikap berpura-pura sibuk, menoleh ke arah lain, atau seolah-olah tidak mendengarkan.

Menghindar sering terjadi karena interaksi yang sarat dengan kritik dan penghinaan terasa terlalu berat untuk ditangani, sehingga membuat salah satu pasangan merasa kewalahan.

Jika kebiasaan ini telah terbentuk, pola tersebut bisa terus berulang dan sulit dihentikan. Untuk mengatasinya, disarankan mengambil jeda singkat untuk menenangkan diri, misalnya dengan membaca selama 20 menit sebelum kembali berdiskusi dengan lebih fokus.

Dengan cara ini, komunikasi dapat berlangsung lebih efektif dan hubungan terhindar dari jarak emosional yang semakin dalam.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN