Gencatan Senjata AS-Iran Tekan Harga Minyak hingga di Bawah 100 dolar AS per Barel

Doc: istimewa

WASHINGTON, KUCANTIK.COM - Pengumuman gencatan senjata dengan Iran selama dua pekan yang diikuti dengan pembukaan Selat Hormuz langsung berdampak positif terhadap harga minyak global yang sudah turun di bawah 100 dolar AS per barel.

“Berdasarkan pembicaraan dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Asim Munir, mereka meminta saya untuk menahan mengirim angkatan penghancur ke Iran dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara menyeluruh, segera, dan aman, maka saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan ke Iran selama dua pekan. Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah,” tulis Trump di platform Truth Social.

Alasan pihaknya menyetujui gencatan senjata dengan Iran, karena Amerika telah mencapai dan melampaui semua tujuan militer dalam perang terhadap Iran. “Kami juga telah mencapai tahap yang sangat jauh terkait kesepakatan yang definitif mengenai perdamaian jangka panjang dengan Iran, dan perdamaian di Timur Tengah,” kata Trump.

Sebagai konsekwensi dari gencatan senjata itu, harga minyak dunia pun turun drastis 13-17 persen. Pada pukul 00:17, harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Juni turun 12,6 persen dari penutupan sebelumnya menjadi 91,92 dollar AS atau sekitar 1,56 juta rupiah per barel. Ini menandai pertama kalinya sejak 23 Maret Brent jatuh di bawah 92 dollar AS. Sementara itu, minyak mentah WTI berjangka untuk pengiriman Mei turun 16,6 persen menjadi 94,10 dollar AS atau sekitar 1,6 juta rupiah per barel.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Rabu (8/4) mengatakan Iran akan membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz selama dua pekan.

Akses tersebut hanya dapat dilakukan melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran dan tetap tunduk pada pembatasan teknis.

“Selama dua pekan, lintasan aman di Selat Hormuz akan dimungkinkan dengan koordinasi bersama Angkatan Bersenjata Iran dan memperhatikan keterbatasan teknis,” tulis Araghchi di platform X.

Patuhi Kewajiban

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres menyambut baik pengumuman gencatan senjata selama dua pekan antara AS dan Iran.

“(Sekjen Guterres) menyerukan kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik sedang yang terjadi di Timur Tengah untuk mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional dan untuk mematuhi ketentuan gencatan senjata guna membuka jalan menuju perdamaian yang langgeng dan komprehensif di kawasan tersebut,” sebut Guterres seperti disampaikan Juru Bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric.

Guterres juga menekankan bahwa penghentian segera terhadap permusuhan yang terjadi menjadi sangat penting untuk melindungi nyawa warga sipil dan mengurangi penderitaan manusia di tengah krisis.

Dia juga mengapresiasi upaya mediasi yang dipimpin Pakistan dan negara-negara lain, yang bekerja untuk memfasilitasi perjanjian gencatan senjata.

“Utusan Pribadi Sekretaris Jenderal Jean Arnault berada di kawasan ini untuk mendukung upaya menuju perdamaian yang langgeng,” kata Dujarric.

Dari dalam negeri, Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang menyambut baik gencatan senjata dan menyebut langkah tersebut mencerminkan keterbukaan pihak-pihak yang bertikai untuk menempuh jalur diplomasi.

“Indonesia melihat momentum ini sebagai awal yang positif, serta mendorong agar kesempatan ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memajukan penyelesaian damai yang berkelanjutan,” kata Yvonne di Jakarta, Rabu (8/4).

Dialog dan diplomasi jelasnya merupakan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan konflik. Indonesia akan terus mendukung upaya diplomasi yang konstruktif guna mencapai penyelesaian konflik yang lebih permanen.

Lebih lanjut Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran kemudian menegaskan bahwa perundingan dengan AS akan dimulai pada Jumat mendatang di Islamabad, Pakistan.

Menurut SNSC, kesepakatan dengan AS mencakup sejumlah poin penting, antara lain Iran tetap memegang kendali atas Selat Hormuz, pencabutan seluruh sanksi terhadap Teheran, kelanjutan program pengayaan uranium, serta penarikan seluruh pasukan AS dari Timur Tengah.Dari berbagai sumber/Ant/E-9

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN