Lagu Resmi Piala Dunia 2026 Tuai Kritikan Pedas, Kenapa Lighter Dinilai Tak Layak Jadi World Cup?
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Rilisan lagu resmi Piala Dunia 2026 mulai menuai sorotan luas dari publik global. Lighter, yang dibawakan oleh Jelly Roll dan Carin Leon, justru menghadirkan respons yang beragam sejak pertama kali diperkenalkan.
Alih-alih langsung membakar semangat seperti lagu-lagu World Cup sebelumnya, sebagian pendengar merasa anthem ini kurang menghadirkan energi besar, euforia, dan nuansa megah yang selama ini identik dengan turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia.
Sejak era “Waka Waka” hingga “Wavin’ Flag”, lagu resmi Piala Dunia kerap menjadi simbol persatuan global yang mudah dikenali dan dinyanyikan bersama. Dalam konteks tersebut, “Lighter” hadir dengan pendekatan yang lebih intim dan reflektif. Perpaduan gaya musik country dan Latin yang diusung dua penyanyinya memang menawarkan warna baru, tetapi tidak semua penggemar sepak bola merasa pendekatan ini cocok untuk panggung sebesar Piala Dunia.
Di berbagai platform media sosial, komentar publik menunjukkan adanya jarak antara ekspektasi dan realitas. Banyak yang menginginkan lagu dengan tempo cepat, ritme yang menghentak, serta chorus yang mudah diingat untuk membangun atmosfer stadion. Sebaliknya, “Lighter” justru dianggap terlalu santai dan kurang memberikan dorongan emosional yang kuat saat didengar dalam konteks pertandingan.
Namun, di tengah kritik tersebut, Presiden FIFA Gianni Infantino tetap menunjukkan sikap optimistis. Ia menyebut “Lighter” sebagai “ekspresi energi dan kebahagiaan yang akan menghubungkan fans di seluruh dunia”. Pernyataan ini mencerminkan upaya FIFA untuk memperluas definisi anthem sepak bola, tidak lagi terpaku pada satu formula musikal tertentu. Menurut Infantino, keberagaman justru menjadi kekuatan utama dalam menggambarkan semangat global Piala Dunia.
Langkah FIFA ini bisa dipahami sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk menjangkau audiens yang semakin beragam. Dengan melibatkan artis dari latar belakang musik yang berbeda, FIFA tampaknya ingin menciptakan identitas baru yang lebih inklusif. Namun, perubahan arah ini juga menghadirkan tantangan besar, terutama ketika publik masih memegang kuat standar lama yang sudah terbukti sukses.
Perbedaan pandangan ini memperlihatkan satu hal yang menarik. Ketika FIFA mencoba keluar dari formula lama, ekspektasi publik terhadap sebuah anthem Piala Dunia ternyata masih sangat kuat dan sulit digantikan. Lagu resmi bukan sekadar karya musik, melainkan simbol emosional yang melekat pada momen bersejarah, kemenangan, dan kenangan kolektif jutaan penggemar.
Pada akhirnya, respons terhadap “Lighter” menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu langsung diterima. Dibutuhkan waktu bagi publik untuk menyesuaikan diri dengan pendekatan baru. Entah akan menjadi lagu yang dikenang atau justru dilupakan, “Lighter” telah membuka diskusi penting tentang bagaimana musik, olahraga, dan identitas global saling beririsan dalam panggung sebesar Piala Dunia.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Lagu Resmi Piala Dunia 2026 Tuai Kritikan Pedas, Kenapa Lighter Dinilai Tak Layak Jadi World Cup? .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!