Kontroversi Aime Leon Dore Klaim Batik Indonesia Buka Dosa Lama Brand Fashion Internasional
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Di tengah berbagai isu global, publik Indonesia kembali dibuat geram, kali ini bukan karena politik, melainkan soal budaya. Dunia fashion internasional kembali tersandung kontroversi setelah brand asal Amerika Serikat, Aime Leon Dore (ALD), dituding mengabaikan identitas batik sebagai warisan budaya Indonesia.
Masalah bermula ketika ALD merilis koleksi Spring/Summer 2026 yang menampilkan kemeja bermotif mirip batik. Namun alih-alih menyebutnya sebagai batik, brand tersebut memberi nama produk itu “Printed Abstract Shirt”. Tak hanya itu, dalam deskripsinya tertulis produk tersebut dibuat di India, hal yang langsung memicu kemarahan netizen Indonesia.
Jika dilihat sekilas, motif yang digunakan sangat menyerupai batik tambal khas Yogyakarta. Banyak warganet menilai ini bukan sekadar inspirasi, melainkan bentuk pengaburan identitas budaya. Komentar pedas pun membanjiri media sosial brand tersebut, menuntut klarifikasi dan tanggung jawab.
Setelah mendapat tekanan publik, ALD akhirnya mengubah nama produknya menjadi “Batik Inspired Print Shirt”. Namun, langkah ini dianggap belum cukup. Menurut Lynda Ibrahim, seorang penulis dan konsultan bisnis, brand tersebut seharusnya secara tegas menyebut asal-usul motif sebagai “Indonesian batik” serta menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Batik sendiri bukan sekadar motif kain biasa. Teknik pembuatan menggunakan canting dan malam ini diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2009, dengan penegasan sebagai “Indonesian Batik”. Pengakuan ini seharusnya menjadi acuan penting bagi brand global dalam menghormati asal-usul budaya tersebut.
Kontroversi ini juga membuka kembali diskusi tentang cultural appropriation, penggunaan elemen budaya tanpa pemahaman atau penghargaan yang layak. Bahkan dalam skenario terburuk, hal ini bisa mengarah pada cultural erasure, yakni penghapusan identitas budaya secara perlahan.
Ironisnya, ALD bukan brand kecil. Didirikan Teddy Santis, label ini pernah berkolaborasi dengan New Balance dan The North Face, serta mendapat dukungan dari LVMH, induk dari brand besar seperti Louis Vuitton dan Dior. Dengan sumber daya sebesar itu, publik menilai seharusnya tidak ada alasan untuk “salah riset”.
Kasus ini juga bukan yang pertama. Sebelumnya, Marks & Spencer pernah menuai kritik karena menjual produk bermotif batik tanpa atribusi yang jelas. Desainer ternama Diane von Furstenberg juga sempat menggunakan motif batik dalam koleksinya tanpa melibatkan perajin Indonesia secara langsung.
Dampaknya bukan hanya soal pengakuan, tetapi juga ekonomi. Ketika produksi dilakukan di luar Indonesia, para perajin lokal yang telah menjaga tradisi batik selama puluhan tahun tidak mendapatkan manfaat finansial dari popularitas global tersebut.
Kini, produk “Batik Inspired Print Shirt” dari ALD masih dijual dengan harga sekitar US$225 atau setara Rp3,8 juta. Nilai yang cukup tinggi, namun ironisnya tidak melibatkan tangan-tangan asli pembuat batik dari Indonesia.
Belajar dari kasus serupa seperti yang pernah dialami Prada, langkah terbaik bagi brand global bukan hanya klarifikasi, tetapi juga kolaborasi nyata dengan komunitas lokal. Mengakui kesalahan, memberi kredit yang layak, dan memberdayakan perajin asli adalah cara terbaik untuk menghormati budaya yang mereka angkat.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Kontroversi Aime Leon Dore Klaim Batik Indonesia Buka Dosa Lama Brand Fashion Internasional .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!