Jamu Indonesia Bikin Ilmuwan Korea Terkesima, Rahasia Herbal Nusantara Kini Jadi Rebutan Dunia

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Ketika dunia mulai kembali melirik pengobatan alami, Indonesia justru sudah selangkah lebih maju. Salah satu buktinya adalah meningkatnya perhatian internasional terhadap jamu, ramuan herbal tradisional yang kini tak hanya populer di dalam negeri, tetapi juga menarik minat para peneliti luar negeri.

Salah satu sosok yang tertarik mendalami jamu adalah Kang Youngmin, peneliti utama di Herbal Resources Research Center, bagian dari Korea Institute of Oriental Medicine. Ketertarikannya menunjukkan jamu bukan sekadar minuman tradisional biasa, melainkan warisan kesehatan yang memiliki nilai ilmiah tinggi.

Di Asia, hampir setiap negara memiliki sistem pengobatan tradisionalnya sendiri. Korea, misalnya, dikenal dengan metode pengobatan herbal yang terstruktur dan mendekati pendekatan medis modern. Namun, Indonesia memiliki keunikan tersendiri melalui jamu, minuman herbal yang lahir dari tradisi masyarakat dan terus hidup dalam keseharian hingga kini.

Pengakuan dunia terhadap jamu semakin kuat sejak ditetapkan sebagai UNESCO Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2023. Status ini mempertegas bahwa jamu bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya Indonesia.

Berbeda dengan pengobatan tradisional Korea yang cenderung berbentuk ramuan rebusan (tangyak) atau pil (hwan) dengan resep kompleks, jamu lebih sederhana dan fleksibel. Biasanya, jamu dibuat dari bahan alami seperti kunyit, jahe, dan temulawak yang diparut atau dijadikan minuman segar.

Keunikan lain dari jamu adalah cara konsumsinya yang tidak kaku. Tidak ada aturan ketat seperti dosis atau jadwal tertentu, sehingga lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang membuat jamu terasa dekat dengan masyarakat, bukan sekadar “obat”, tetapi bagian dari gaya hidup sehat.

Tradisi jamu juga tidak bisa dilepaskan dari sosok “jamu gendong” penjual keliling yang membawa ramuan dalam bakul di punggungnya. Kehadiran mereka menjadi simbol bagaimana jamu menyatu dengan kehidupan masyarakat dari generasi ke generasi.

Secara fungsi, jamu lebih banyak dikonsumsi untuk menjaga kesehatan daripada mengobati penyakit. Mulai dari meningkatkan stamina, melancarkan pencernaan, hingga membantu pemulihan pasca melahirkan, semuanya menjadi bagian dari manfaat jamu yang telah dipercaya sejak lama.

Kini, jamu bahkan naik kelas menjadi bagian dari tren global seperti wellness, spa, dan beauty. Banyak pihak di Indonesia mulai mengembangkan jamu dalam skala industri dengan standar modern, sehingga lebih mudah diterima oleh pasar internasional.

Di sisi lain, Korea juga terus mengembangkan penelitian yang menggabungkan pengobatan tradisional dengan ilmu kedokteran modern. Hal ini membuka peluang besar untuk kolaborasi lintas negara dalam mengembangkan pengobatan herbal berbasis sains.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN