Fashion Week di Era Digital: Ajang Glamour Bernilai Miliaran atau Pemborosan?
Ket. Fashion week tidak hanya berdampak positif bagi industri fashion saja, tapi juga perekonomian lokal dan melestarikan warisan budaya beserta nilainya.
Doc: Courtesy of Prada
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Fashion week atau pekan mode selalu menjadi sorotan, bukan hanya bagi pelaku industri, tapi juga masyarakat global. Dari panggung spektakuler hingga deretan selebritas ternama yang hadir, setiap fashion show dibuat seistimewa mungkin untuk memikat perhatian. Tapi tahukah Cantiks, berapa biaya fantastis yang digelontorkan untuk satu pertunjukan? Angkanya bikin geleng kepala.
Menurut situs Fashionista, peragaan sederhana di New York Fashion Week bisa menelan biaya lebih dari 200 ribu USD, setara dengan Rp3,3 miliar, belum termasuk honor selebritas. Bahkan, pada 2011, Robert Duffy, Presiden Marc Jacobs, mengungkap peragaan Fall 2011 mereka menghabiskan 1 juta USD, sekitar Rp16,9 miliar.
Dengan angka sebesar itu, tidak heran beberapa rumah mode memilih lokasi sendiri, seperti Valentino yang menggelar koleksi Fall/Winter 2026 di Roma, atau Coperni yang memutuskan absen dari fashion week musim ini. Namun, banyak brand mewah tetap kukuh hadir di panggung ikon dunia: New York, London, Milan, dan Paris.
Lalu muncul pertanyaan penting: apakah fashion week masih relevan di era media sosial, di mana satu postingan bisa menjangkau jutaan mata?
Sejarah Fashion Week
Dimulai akhir 1800-an hingga awal 1900-an, jauh sebelum adanya media sosial. Desainer mengajak perempuan mengenakan busananya, berjalan di area publik agar karya mereka diperhatikan, difoto, dan diliput media. Paul Poiret, misalnya, pernah menggelar pesta kostum legendaris “The Thousand and Second Night” di Paris, 1911.
Pada 1918, meningkatnya pembeli asing mendorong rumah mode mengadakan peragaan rutin dua kali setahun, fondasi fashion week modern.
Perang Dunia II mengubah lanskap ini. Karena orang asing tak bisa ke Prancis, Amerika memulai fashion week pertama di New York pada 19 Juli 1943, dikenal sebagai Press Week, agar editor dan jurnalis bisa melihat karya desainer Amerika.
Kota Fashion Dunia
Empat ibu kota fashion dunia, New York, London, Milan, Paris kemudian menjadi panggung prestisius. New York menonjolkan gaya komersial; London dikenal eklektik dan multikultural; Milan sarat glamor Italia; Paris menjadi episentrum haute couture.
Namun, di era digital, fungsi utama fashion week mulai berubah. Eksposur bisa diperoleh dengan satu unggahan viral, sehingga peran promosi tradisional mulai tergeser. Meski begitu, dampak ekonomi dan budaya tetap besar.
Ribuan orang bekerja di balik layar, hotel dan restoran meraih keuntungan signifikan, bahkan New York Fashion Week diperkirakan menghasilkan 887 juta USD per tahun. London menyumbang lebih dari 374 juta USD untuk ekonomi lokal.
Selain ekonomi, fashion week menjadi panggung budaya. Setiap koleksi menyampaikan narasi tentang identitas, kemewahan, dan nilai budaya.
Seperti diungkap Angela Uriyo, “Apa yang ditampilkan di atas panggung peragaan busana bukan sekadar mode, tetapi cerita yang lebih luas tentang nilai dan budaya.”
Fashion week bukan sekadar ajang glamor mahal. Tetap relevan, bukan hanya sebagai promosi, tapi sebagai simbol prestise, penggerak ekonomi, dan penjaga warisan budaya di dunia mode.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Fashion Week di Era Digital: Ajang Glamour Bernilai Miliaran atau Pemborosan? .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!