Reza Rahadian Bongkar Sisi Gelap Suzzanna Santet Dosa di Atas Dosa yang Sarat Kritik Sosial, Bukan Horor Biasa!

Ket. Poster film Suzzanna Santet Dosa di Atas Dosa.

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Suzzanna selama ini identik dengan sosok hantu legendaris yang lekat dengan aura mistis dan cerita teror yang menegangkan. Namun lewat film terbaru berjudul Suzzanna Santet Dosa di Atas Dosa, semesta Suzzanna hadir dengan pendekatan yang jauh lebih kompleks. Film ini tidak hanya menampilkan horor yang menyeramkan, tetapi juga mengangkat lapisan cerita yang lebih dalam mengenai relasi kekuasaan, ketidakadilan sosial, hingga konflik kemanusiaan.

Aktor papan atas Reza Rahadian mengungkapkan proyek film ini menawarkan sudut pandang yang berbeda dari film horor kebanyakan. Dalam perbincangan mengenai film tersebut, ia menjelaskan kisah yang disajikan tidak hanya bertumpu pada elemen mistis, tetapi juga menggambarkan bagaimana manusia bisa terdorong melakukan tindakan ekstrem akibat tekanan dan ketidakadilan yang dialami.

Makna Dosa di Atas Dosa yang Lebih Dalam

Bagi Reza Rahadian, frasa "dosa di atas dosa” bukan sekadar judul dramatis yang dibuat untuk menarik perhatian. Ia menilai ungkapan tersebut memiliki makna filosofis yang cukup kuat dalam konteks cerita.

Menurutnya, setiap manusia tentu memiliki kesalahan atau dosa dalam hidup. Namun dalam cerita film ini, terdapat tindakan yang jauh lebih ekstrem dan melampaui batas biasa, sebuah “dosa” yang muncul akibat rangkaian konflik yang terus menumpuk. Konsep inilah yang menjadi inti perjalanan karakter Suzzanna dalam film tersebut.

Film ini menggambarkan transformasi Suzzanna hingga akhirnya memilih jalan santet sebagai bentuk perlawanan terhadap orang-orang yang menindasnya. Keputusan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan lahir dari tekanan, konflik, serta ketidakadilan yang ia alami sepanjang hidupnya.

Peran Pramuja: Sosok Tenang yang Berdiri di Tengah Ketidakadilan

Dalam film ini, Reza Rahadian memerankan karakter Pramuja, seorang pria yang merupakan keponakan dari seorang mantri atau dukun di sebuah wilayah. Tokoh ini memiliki peran penting dalam perjalanan cerita karena menjadi salah satu sosok yang terhubung langsung dengan Suzzanna.

Pertemuan mereka terjadi secara tidak sengaja ketika Pramuja menemukan Suzzanna di sungai dan menolongnya. Dari peristiwa tersebut, hubungan di antara keduanya mulai berkembang. Meski begitu, kisah mereka bukan sekadar romansa. Hubungan tersebut sarat dengan dinamika emosional dan konflik sosial yang semakin kompleks seiring berjalannya cerita.

Pramuja digambarkan sebagai pribadi yang tenang, tidak mudah gegabah, serta memiliki kemampuan menguasai situasi. Ia bukan tipe karakter yang suka konfrontasi secara keras. Namun dalam kondisi tertentu, ia dipaksa untuk mengambil sikap dan menentukan pilihan.

Karakter ini juga bisa dilihat sebagai representasi masyarakat yang sering kali terjebak di antara kekuasaan dan ketidakadilan. Mereka memahami adanya ketimpangan, tetapi sering kali berada dalam posisi yang sulit untuk melawan.

Horor yang Dibalut Isu Sosial

Salah satu alasan utama Reza tertarik bergabung dalam film ini adalah kekuatan cerita yang menyentuh isu sosial. Walau berada dalam genre horor, film ini tidak hanya menampilkan kematian atau teror supranatural.

Cerita yang dibangun juga menyinggung hubungan antar manusia, perbedaan kelas sosial, serta bagaimana kekuasaan dapat menindas mereka yang tidak memiliki kekuatan. Dalam narasi film, digambarkan bagaimana pihak yang memiliki kuasa dapat bertindak sewenang-wenang terhadap pihak yang lebih lemah.

Pendekatan ini membuat film terasa berbeda dari kebanyakan film horor yang biasanya hanya mengandalkan unsur ketakutan. Di sini, teror justru menjadi medium untuk menyampaikan kritik sosial yang lebih luas.

Diskusi Kreatif dengan Sutradara

Untuk menghidupkan karakter Pramuja, Reza Rahadian mengaku tidak melakukan riset mendalam seperti yang pernah ia lakukan di beberapa proyek film lain. Ia merasa karakter tersebut sudah digambarkan dengan cukup jelas dalam skenario.

Sebagian besar proses kreatif justru terjadi melalui diskusi intens dengan sang sutradara, Azhar Kinoi Lubis. Melalui berbagai percakapan tersebut, mereka bersama-sama merumuskan bagaimana karakter Pramuja akan ditampilkan di layar.

Reza juga menjelaskan bahwa tidak ada perubahan besar dalam naskah selama proses syuting berlangsung. Jika ada improvisasi, hal tersebut hanya dilakukan dalam pendekatan adegan dan tetap melalui persetujuan sutradara agar tidak keluar dari visi cerita utama.

Sentuhan Modern dalam Latar Era Lama

Walau berlatar pada era 80–90an, film ini tetap menghadirkan nuansa modern dalam penggarapannya. Reza bahkan mengaku sudah merasakan sesuatu yang berbeda sejak pertama kali membaca naskah.

Saat melihat hasil akhir filmnya, ia cukup terkejut dengan kualitas visual yang ditampilkan. Penggunaan efek praktikal yang dipadukan dengan CGI membuat berbagai adegan terasa lebih realistis dan meyakinkan. Selain itu, film ini juga menghadirkan sentuhan aksi yang membuat pengalaman menonton terasa lebih dinamis.

Pendekatan baru terhadap karakter Suzzanna menjadi nilai tambah tersendiri. Film ini tidak sekadar mengulang formula lama, tetapi mencoba menghadirkan interpretasi yang lebih segar bagi generasi penonton masa kini.

Dengan berbagai elemen tersebut, Suzzanna Santet Dosa di Atas Dosa berusaha menunjukkan horor tidak selalu hanya tentang makhluk gaib. Di balik teror yang ditampilkan, film ini juga mengangkat cerita tentang manusia, tentang dosa, kekuasaan, ketidakadilan, dan keputusan ekstrem yang bisa lahir dari situasi yang menekan.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN