Kesha Murka! Lagu 'Blow' Dipakai Tanpa Izin di Video Gedung Putih, Trump Dikecam Habis-habisan

Doc: Instagram/@kesha

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Penyanyi pop asal Amerika Serikat, Kesha, melayangkan kecaman keras kepada Presiden Donald Trump setelah lagunya yang berjudul “Blow” digunakan tanpa izin dalam sebuah video TikTok yang diunggah melalui akun resmi Gedung Putih bulan lalu. Kontroversi ini kembali memicu perdebatan tentang penggunaan karya seni untuk kepentingan politik tanpa persetujuan sang kreator.

Dalam serangkaian unggahan di Instagram Story, Kesha menuding pemerintahan Trump telah memanfaatkan lagunya untuk tujuan yang ia nilai bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini ia perjuangkan. Menurutnya, video tersebut bukan sekadar penggunaan musik tanpa lisensi, tetapi juga mengandung pesan yang ia anggap berbahaya.

Kesha menyatakan bahwa lagunya digunakan untuk menghasut kekerasan dan mengancam perang. Ia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak menyetujui musiknya dipakai dalam konteks yang mendorong atau mempromosikan kekerasan dalam bentuk apa pun.

“Ini berlawanan dengan apa yang saya perjuangkan,” tulisnya dengan tegas. Selama bertahun-tahun, Kesha dikenal vokal dalam menyuarakan isu-isu hak asasi, pemberdayaan perempuan, dan kebebasan berekspresi, nilai-nilai yang menurutnya tidak selaras dengan pesan dalam video tersebut.

Tak berhenti di situ, Kesha juga melontarkan kritik personal yang sangat keras terhadap Trump. Dalam unggahannya, ia menyebut sang presiden sebagai “predator kriminal.” Pernyataan ini memperlihatkan betapa seriusnya ia memandang persoalan tersebut, bukan hanya sebagai pelanggaran hak cipta, tetapi sebagai bagian dari dinamika politik dan moral yang lebih luas.

Di akhir pesannya, Kesha menyinggung apa yang ia sebut sebagai “Epstein Files,” merujuk pada dokumen-dokumen yang berkaitan dengan mendiang Jeffrey Epstein. Ia mengatakan bahwa penggunaan lagunya tidak boleh mengalihkan perhatian publik dari fakta bahwa nama Trump telah disebut dalam berkas-berkas tersebut lebih dari satu juta kali, klaim yang selama ini menjadi bagian dari perdebatan publik dan politik di Amerika Serikat.

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Gedung Putih terkait tudingan Kesha. Namun, kasus ini kembali mengingatkan publik pada sejumlah insiden sebelumnya di mana musisi memprotes penggunaan karya mereka dalam kampanye atau konten politik tanpa izin.

Isu hak cipta, lisensi, dan persetujuan kreator menjadi semakin relevan di era media sosial, ketika potongan lagu dapat dengan mudah disematkan dalam video yang menyebar luas dalam hitungan menit.

Kontroversi ini juga menyoroti ketegangan yang kerap muncul antara dunia hiburan dan politik. Bagi Kesha, musik bukan sekadar hiburan, melainkan medium ekspresi nilai dan sikap.

Karena itu, ia menegaskan akan terus bersuara ketika karyanya digunakan dengan cara yang menurutnya bertentangan dengan prinsip kemanusiaan dan perdamaian yang ia dukung.*

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN