Konser BTS di 4 Negara Asia Tenggara Terancam Batal, Dampak Konflik SEAblings vs KNets?

Ket. BTS

Doc: Instagram

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Konflik antara penggemar Asia Tenggara atau yang dijuluki “SEAblings” dengan netizen Korea Selatan yang dikenal sebagai “KNets” kini melebar dari sekadar perang komentar di media sosial menjadi isu yang menyeret dunia hiburan internasional, termasuk konser grup K-Pop papan atas, BTS.

Berdasarkan kabar yang beredar di platform X dan sejumlah media sosial lainnya, konser BTS yang dijadwalkan berlangsung akhir Februari di Thailand, Filipina, Singapura, dan Indonesia disebut-sebut batal atau ditunda tanpa kepastian jadwal pengganti.

Informasi ini memicu spekulasi luas, terutama karena waktunya berdekatan dengan memanasnya konflik digital antara kedua kubu netizen tersebut.

Awal Mula Konflik Pemicu Batalnya Konser

Ketegangan terbaru dipicu unggahan akun X bernama XIAINA0660 yang membagikan poster film Lara Ati untuk meledek kualitas sinetron dan aktor Indonesia.

Film yang tayang di bioskop pada September 2022 dan kini tersedia di Netflix itu dijadikan bahan ejekan dengan menyebut para pemainnya “jelek” dan membandingkannya dengan standar visual drama Korea.

Komentar bernada merendahkan tersebut menyulut kemarahan warganet Indonesia. Tidak hanya menyentil aspek fisik, unggahan itu juga menyinggung inferioritas budaya dan selera hiburan masyarakat Asia Tenggara.

Situasi makin panas ketika muncul unggahan lain dari pengguna Korea yang menampilkan cuplikan video klip berjudul Nona di Sawah dengan keterangan bernada sarkastik, “Kami tidak punya uang untuk menyewa tempat, jadi kami syuting di sawah.”

Unggahan ini dianggap sebagai penghinaan terhadap profesi petani yang menjadi tulang punggung ekonomi di banyak negara Asia Tenggara.

Gelombang Solidaritas Asia Tenggara

Respons keras tidak hanya datang dari Indonesia. Warga Thailand, yang sebagian besar wilayahnya juga bertumpu pada sektor pertanian, ikut membela dan mengecam narasi yang dianggap merendahkan profesi petani.

Di Bangkok, para ARMY atau sebutan penggemar BTS yang telah memesan tiket sejak jauh hari hanya bisa menatap layar ponsel mereka saat kabar pembatalan mencuat.

Di Manila, komunitas ARMY Filipina yang dikenal solid dan militan menunjukkan kekecewaan mendalam. Sementara di Singapura, banyak penggemar yang sudah mengajukan cuti kerja maupun sekolah demi menyambut konser tersebut kini harus menerima kenyataan pahit.

Di Jakarta, ribuan ARMY Indonesia yang telah menabung, berburu tiket, hingga merencanakan perjalanan dari luar kota, terpaksa menunda mimpi menyaksikan konser kelas dunia itu secara langsung.

Benarkah Terkait Konflik?

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari manajemen BTS terkait alasan pembatalan atau penundaan konser di empat negara tersebut.

Namun, di ruang digital, banyak pihak meyakini bahwa eskalasi konflik antara Siblings dan KNets memberi tekanan tersendiri terhadap iklim promosi dan keamanan acara.

Terlepas dari benar atau tidaknya kaitan langsung antara konflik daring dan pembatalan konser, fenomena ini menunjukkan bagaimana perang opini di media sosial bisa berdampak luas.

Dari sekadar ejekan soal film Lara Ati hingga narasi merendahkan profesi petani lewat video Nona di Sawah, konflik ini berkembang menjadi isu identitas, harga diri, dan solidaritas kawasan.

Kini pertanyaan besarnya: akankah tensi ini mereda dan konser dapat dijadwalkan ulang? Atau justru konflik digital ini akan terus membesar dan memengaruhi hubungan budaya pop antara Korea Selatan dan Asia Tenggara?

Yang jelas, perang komentar di dunia maya tak lagi bisa dianggap remeh, dampaknya bisa menjalar hingga panggung konser internasional.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN