Knetz Singgung Islam, Konflik Online Korea Selatan dan SEAblings Kian Panas

Doc: X@aina0660

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Ketegangan antara warganet Korea Selatan (knetz) dan Asia Tenggara kembali meningkat. Setelah sebelumnya dipicu isu stereotip fisik dan budaya makan, kini konflik melebar ke ranah sensitif: agama dan penerimaan warga negara.

Percakapan panas ini kembali ramai di X dan melibatkan ribuan pengguna dari berbagai negara.

20260215165413_Screenshot_15.jpg

Akun @aina0660 memicu kontroversi baru lewat unggahan yang menyebut orang Indonesia sebaiknya tidak diterima di Korea Selatan karena merupakan negara Islam. Ia membandingkan Indonesia dengan negara Asia Tenggara lain seperti Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam, Kamboja, Filipina, dan Timor Leste.

Dalam tulisannya, akun tersebut menyiratkan stereotip bahwa Islam identik dengan misogini dan menyebut kehadiran pemeluk agama tertentu akan membuat Korea “menjadi tempat yang lebih buruk”. Pernyataan itu langsung menuai kecaman luas karena dianggap diskriminatif dan bernuansa kebencian.

"Saya tidak tahu tentang negara-negara Asia Tenggara lainnya, tetapi orang Indonesia sebaiknya tidak diterima di Korea. Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam, dan Kamboja beragama Buddha, sedangkan Filipina dan Timor Timur beragama Katolik, jadi tidak masalah, tetapi Indonesia adalah negara Islam, jadi seperti Eropa. Jika sebuah agama yang hanya memperlakukan laki-laki yang terobsesi dengan misogini masuk ke negara ini, Korea akan menjadi tempat yang lebih baik," cuitnya.

Akar konflik: dari konser hingga identitas

Pertikaian ini sebenarnya berawal dari kejadian non-politik. Pada 31 Januari 2026, konser DAY6 di Axiata Arena, Kuala Lumpur menjadi pemicu awal.

Seorang fansite asal Korea Selatan kedapatan membawa kamera profesional berlensa panjang, pelanggaran berat aturan konser internasional terkait hak cipta dan kenyamanan penonton. Insiden ini kemudian diperdebatkan di media sosial.

Warganet Asia Tenggara menilai tindakan itu tidak menghormati aturan lokal, sementara sebagian pengguna Korea merasa negaranya digeneralisasi.

Setelah sebelumnya muncul komentar yang merendahkan aktor Indonesia dan tradisi makan tangan, konflik semakin sensitif karena menyentuh keyakinan. Banyak pengguna Asia Tenggara menilai ini bukan lagi sekadar debat internet, melainkan sudah masuk ujaran kebencian.

Menariknya, sejumlah pengguna Korea juga mengecam unggahan tersebut dan menegaskan bahwa komentar itu tidak mewakili masyarakat mereka. Beberapa meminta maaf dan khawatir konflik digital memperburuk citra negaranya di kawasan Asia Tenggara.***

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN