Perang Komentar Kian Panas, Knetz Kritisi Budaya Makan Orang Indonesia Tanpa Sendok

Doc: x/@umparum3

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kontroversi baru kembali memanaskan hubungan warganet lintas negara di media sosial. Setelah polemik soal aktor Indonesia, kini unggahan akun Korea di X kembali memicu kemarahan publik Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Akun @umparum3 menuliskan komentar yang dianggap menghina budaya lokal. Dalam unggahannya ia menyebut tradisi makan dengan tangan di Indonesia menjijikkan dan mempertanyakan mengapa praktik tersebut masih dilakukan di abad ke-21.

20260213135910_Screenshot_33.jpg

Ia bahkan menambahkan tuduhan ekstrem bahwa orang Indonesia makan dengan tangan setelah dari toilet sehingga “secara tidak langsung memakan kotoran sendiri”.

Pernyataan itu langsung viral dan menuai kecaman luas. Ribuan pengguna Indonesia membalas dengan menilai komentar tersebut rasis, tidak memahami budaya, serta menyebarkan informasi keliru. Banyak yang menekankan bahwa tradisi makan dengan tangan bukan soal kebersihan rendah, melainkan bagian dari budaya makan yang memiliki aturan jelas.

Budaya, bukan kebersihan

Dalam budaya Nusantara, makan dengan tangan khususnya tangan kanan dilakukan setelah mencuci tangan menggunakan air mengalir atau air kobokan. Praktik ini juga ditemukan di banyak negara Asia dan Timur Tengah. Warganet menilai komentar tersebut menunjukkan sudut pandang etnosentris dan ketidaktahuan terhadap kebiasaan masyarakat lain.

Sejumlah pengguna juga membagikan video dan foto tata cara makan tradisional Indonesia yang menekankan kebersihan: mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, tidak menyentuh makanan orang lain, serta menggunakan tiga jari saja saat mengambil nasi.

Perdebatan pun berkembang menjadi diskusi global tentang standar kebersihan. Banyak pengguna internasional ikut menjelaskan bahwa makan dengan tangan tidak otomatis lebih kotor dibanding sendok garpu, karena alat makan juga bisa menjadi sumber bakteri jika tidak dicuci dengan benar.

Konflik yang makin melebar

Kasus ini memperpanjang rangkaian pertikaian digital antara warganet Korea Selatan dan Asia Tenggara dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, perdebatan dipicu isu konser dan stereotip fisik, kini beralih ke kebiasaan budaya.

Sebagian pengguna Korea juga tidak setuju dengan unggahan tersebut dan ikut meminta maaf kepada publik Indonesia. Mereka menilai komentar itu tidak mewakili masyarakat Korea secara keseluruhan dan hanya opini individu.

Pengamat komunikasi digital menilai konflik ini memperlihatkan bagaimana media sosial memperbesar kesalahpahaman lintas budaya. Tanpa konteks, kebiasaan lokal mudah dianggap aneh oleh pihak luar, lalu berubah menjadi ejekan publik.

Pelajaran dari polemik

Kontroversi ini menjadi pengingat bahwa globalisasi internet mempertemukan berbagai budaya secara langsung. Apa yang dianggap normal di satu negara bisa terlihat asing di negara lain, namun bukan berarti salah.

Banyak warganet berharap insiden ini menjadi pembelajaran penting tentang literasi budaya, memahami sebelum menilai. Karena di era digital, satu kalimat dapat menjangkau jutaan orang dan memicu konflik internasional dalam hitungan jam.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN