3 Toko Tiffany & Co di Jakarta Disegel Bea Cukai, Ini Sejarah Brand Perhiasan Legendaris Dunia
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Dunia ritel mewah Indonesia diguncang kabar mengejutkan. Tiga gerai Tiffany & Co mendadak berhenti beroperasi setelah disegel Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kantor Wilayah Jakarta. Penindakan ini dilakukan karena dugaan adanya barang bernilai tinggi yang tidak diberitahukan dalam dokumen impor resmi.
Langkah tegas tersebut tentu menyita perhatian publik. Pasalnya, Tiffany & Co bukan sekadar toko perhiasan biasa. Nama ini sudah lama identik dengan kemewahan, cincin tunangan impian, serta kotak biru legendaris yang menjadi simbol cinta dan prestise di seluruh dunia.
Dari Toko Alat Tulis ke Raja Berlian Dunia
Sejarah Tiffany & Co bermula pada 1837 di New York, ketika Charles Lewis Tiffany bersama rekannya John B. Young mendirikan sebuah toko bernama Tiffany and Young. Awalnya, mereka menjual alat tulis dan aksesori premium, belum menyentuh perhiasan.
Seiring waktu, Charles membeli saham perusahaan dan mengubah namanya menjadi Tiffany & Co Perubahan arah bisnis terjadi ketika permintaan perhiasan berlian melonjak. Charles jeli membaca peluang. Ia bahkan bermitra dengan Patek Philippe, pembuat jam tangan mewah asal Swiss, setelah membuka gerai di Paris pada 1850.
Langkah ini menjadi titik balik besar. Charles Tiffany dijuluki “King of Diamonds” karena keberhasilannya mendapatkan berlian terbaik, termasuk dari kalangan bangsawan Eropa.
Revolusi Cincin Tunangan Modern
Pada 1886, Tiffany memperkenalkan desain revolusioner bernama Tiffany Setting, cincin dengan enam prong (cakar) yang mengangkat berlian agar cahaya masuk dari berbagai sisi. Desain ini membuat berlian tampak lebih berkilau dan hingga kini menjadi standar global cincin lamaran.
Tak berlebihan jika banyak yang menyebut Tiffany sebagai pencipta “template” cincin tunangan modern.
Kekuatan brand ini semakin kokoh berkat strategi pemasaran yang brilian. Tiffany Blue Box, kotak biru khasnya menjadi simbol prestise yang langsung dikenali. Warna birunya bahkan dipatenkan sebagai identitas resmi brand.
Popularitasnya melejit lewat film klasik Breakfast at Tiffany's yang dibintangi Audrey Hepburn. Adegan sarapan di depan butik Fifth Avenue menjadi salah satu momen paling ikonis dalam sejarah perfilman dan mengukuhkan citra glamor Tiffany.
Tak hanya di dunia hiburan, Tiffany juga hadir dalam panggung politik dan olahraga. Produk Tiffany pernah menjadi hadiah yang diberikan Melania Trump kepada Michelle Obama saat inaugurasi Donald Trump pada 2017. Sejak 1967, Tiffany juga dipercaya membuat trofi untuk ajang Super Bowl.
Diakuisisi Raksasa Luxury, Kini Tersandung Isu Impor

Dok. Ditjen Bea Cukai Kemenkeu
Toko Tiffany & Co di Jakarta disegel Bea Cukai.
Memasuki era baru, Tiffany resmi diakuisisi LVMH pada 2021. Akuisisi ini menempatkannya sejajar dengan brand elite lain seperti Louis Vuitton dan Dior.
Di Indonesia, Tiffany hadir di pusat perbelanjaan kelas atas seperti Plaza Indonesia, Pacific Place, dan Plaza Senayan. Namun kini, ketiga gerai tersebut disegel DJBC Jakarta.
Menurut pejabat setempat, operasi ini menyasar barang-barang high value goods yang diduga tidak diberitahukan dalam dokumen impor. Penindakan ini juga disebut sebagai tindak lanjut instruksi Menteri Keuangan untuk menggali potensi penerimaan negara dari sektor kepabeanan dan cukai.
Kasus ini menjadi sorotan karena menyentuh nama besar dalam industri perhiasan global. Di satu sisi, Tiffany & Co adalah simbol kemewahan dan romantisme modern. Di sisi lain, penyegelan ini menunjukkan bahkan brand kelas dunia pun tak luput dari pengawasan regulasi.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk 3 Toko Tiffany & Co di Jakarta Disegel Bea Cukai, Ini Sejarah Brand Perhiasan Legendaris Dunia .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!